PATI, RADARPATI.ID – Risiko bencana banjir di Kabupaten Pati tahun ini diperkirakan tidak separah tahun lalu.
Kepala Pelaksana Harian (Kalakhar) Kabupaten Pati Martinus Budi Prasetyo menilai, pada tahun ini risiko banjir lebih rendah.
Pasalnya, fenomena alam El Nino membuat curah hujan tak sebanyak tahun-tahun sebelumnya.
”Ancaman bencana memang masih ada. Tapi kita bandingkan tahun ke tahun, awal tahun 2023 dan awal tahun ini, memang turun ancamannya,” jelas Martinus Budi Prasetyo.
Sebelumnya sempat dikhawatirkan banjir bakal terjadi khususnya di sekitar aliran Sungai Juwana pasca dibukanya pintu air Bendung Wilalung di Kudus yang mengarah ke Sungai Juwana.
Namun saat ini kondisi Sungai Juwana terbilang masih relatif aman.
Diketahui pintu air tersebut dibuka sejak Selasa (6/2) lalu.
Meskipun demikian, debit air sungai Juwana terpantau masih aman hingga kemarin siang.
“Pantauan kami debit air sungai Juwana atau sungai Silugonggo itu masih aman hingga saat ini. Air juga masih jauh di bawah permukaan tanggul,” ungkap Pargo, salah seorang warga Desa Tanjang, Kecamatan Gabus.
Bahkan menurutnya debit air ini cenderung turun dibandingkan pada awal pekan ini.
Sejak Senin (5/2) lalu, penurunan debit air sungai Juwana sudah mencapai sekitar 50 sentimeter.
”Ini turun debitnya. Pada hari Senin malah naik. sejak saat itu turun-turun. Turun sekitar setengah meter,” paparnya.
Ia menilai dibukanya pintu nomor delapan Bendung Wilalung Kudus belum terlalu mempengaruhi Sungai Juwana.
Apalagi tanggul sungai ini lebih tinggi dari pada awal tahun lalu.
Normalisasi sungai membuat kedalaman sungai semakin bertambah serta tanggul semakin tinggi.
”(Saat ini Bendung Wilalung) tidak terlalu berpengaruh. Kalau hujan lebat biasanya ada pengaruhnya. Ini masih aman. Apalagi tanggulnnya tinggi,” ungkap Pargo.
Hal senada diungkapkan Supar, warga Tanjang lainnya. Ia mengatakan debit air Sungai Juwana saat ini masih aman.
Ia pun berharap kondisi ini terus terjadi, sehingga banjir tidak menerjang puluhan desa yang dilewati sungai itu.
”Aman. Belum ada dampaknya. Ini sudah dalam karena dinormalisasi. Jadi ya semoga saja aman,” imbuh Supar.
Untuk diketahui kondisi ini berbeda pada akhir tahun 2022 dan awal tahun 2023 lalu.
Pada saat itu, banjir menerjang puluhan desa di sepanjang aliran Sungai Juwana.
Ribuan hektare lahan pertanian juga gagal panen akibat terendam banjir selama lebih dari satu bulan.(aua/him/ade)