PATI, RADARPATI.ID - Desa Prawoto yang berasa di kecamatan Sulolilo kabupaten Pati ini dulunya merupakan julukan Raden Bagus Hadi Mu'min, yaitu Sunan Prawoto, diambil dari kata "Pra" dan "Woto".
Pra artinya sebelum dan Woto artinya Raja yang memerintah.
Sebelum Islam datang sudah ada raja yang memimpin atau memerintah lebih dulu di Prawoto yaitu Rajanya bernama Raja Nirwoto yang beragama Hindu Budha.
Nama Prawoto itu pemberian dari Sultan Trenggono yang diambil dari Bahasa Arab dari kata "Furutha" akan tetapi masyarakat lebih mudah dengan menyebut kata "Proto".
Kala itu desa Prawoto diperlakukan secara istimewa oleh Kesultanan Demak Raden Trenggono.
Dari pada wilayah lain yang ada dikawasan Kesultanan Demak tersebut, sehingga Prawoto juga dinamakan Bumi Wangen atau Bumi Bentolo yang asalnya dari kata Bintoro.
Karena pada Zaman Sultan Trenggono Prawoto sebagai tempat peristirahatan (pesanggrahan).
Bentolo atau Bintoro atau masyarakat biasa menyebutnya dengan Brentolo, nama tersebut juga pemberian dari Sunan Prawoto.
Dikarenakan pada tahun 1555 M sampai dengan tahun 1560 M Sunan Prawoto pernah menobatkan diri sebagai Sultan Bintoro yang berkedudukan dibukit Prawoto.
Sehingga segala urusan pemerintahan sementara dilaksanakan di Prawoto.
Sunan Prawoto yang memiliki nama kecil Raden Mukmin atau ejaan China Muk Ming adalah Raja Demak keempat, yang memerintah tahun 1546-1549.
Ia lebih cenderung sebagai seorang ahli agama. Menurut Babad Tanah Jawi, ia tewas dibunuh oleh orang suruhan Bupati Jipang Arya Penangsang, yang tak lain adalah sepupunya sendiri.
Setelah kematiannya, Hadiwijaya memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Demak ke Pajang, dan episode kerajaan Islam pertama di tanah Jawa itu pun berakhir. (Cindy Antika)
Editor : Achmad Ulil Albab