PATI, RADARPATI.ID — Turunnya alokasi pupuk bersubsidi sangat berdampak pada kebutuhan petani.
Karena itu para petani didorong dapat mengkombinasikan dengan organik.
Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pati, Niken Tri Meiningrum.
Pihaknya mendorong petani untuk menggunakan biodaka agar bisa menghemat pemakaian pupuk untuk tanamannya.
”Kami berusaha agar petani juga memanfaatkan biosaka. Ini bukan pupuk maupun obat. Biodaka ini bisa menghemat pupuk sekitar 50 persen,” ungkap Niken.
Hal yang sama diungkapkan anggota Komisi B DPRD Kabupaten Pati Sukarno. Pihaknya sudah mendorong penggunaan biosaka kepada beberapa petani.
Praktik langsung pembuatan dan pengaplikasian biosaka untuk tanaman juga telah dilakukan.
"Kita memang berupaya mendorong agar pemanfaatan biosaka bisa dimaksimalkan petani di Pati.
Tentunya pertanian yang ke arah organik juga akan lebih baik dari sisi kesehatan konsumsi pangan hasil panen.
Ketimbang pertanian harus bergantung pada penggunaan pupuk kimia terus," paparnya.
Selain itu juga penggunaan pupuk organik lain juga diharapkan bisa diterapkan oleh petani. Misalnya mengolah pupuk kandang atau dari kompos.
Data dari Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pati menunjukkan pada tahun 2024 ini alokasi pupuk bersubsidi di Kota Mina Tani mengalamani penurunan hingga 48 persen.
Untuk diketahui pada tahun 2023 lalu, petani di 21 kecamatan di Kabupaten Pati mendapatkan jatah 42,62 ribu ton pupuk bersubsidi jenis urea.
Selain pupuk jenis urea, pupuk bersubsidi lainnya juga mengalami penurunan alokasi.
Pada tahun 2023 lalu, Kabupaten Pati mendapatkan jatah 26 ribu ton NPK dan 44 ton NPK untuk kakau.
Sedangkan tahun 2024 ini, petani mendapatkan jatah 15,84 ribu ton NPK dan nihil NPK untuk petani kakau. (aua/him)
Editor : Abdul Rochim