Sanggar Bejo Lestari Laras ini tak sekadar membuat kesenian daerah tetap ada.
Sanggar ini merekrut dan melatih anak-anak belasan tahun untuk belajar wayang, karawitan dan tarian.
Hingga berprestasi di kancah nasional.
NANA NAHARUNNA, Wedarijaksa, Radar Kudus
Zaman sekarang anak-anak milenial maupun Gen-Z mulai kurang meminati dengan budaya lokal.
Terutama wayang dan karawitan. Untuk mengatasi masalah ini, warga Desa Pangunggroyom, Kecamatan Wedarijaksa, Pati berinisiatif mendirikan sanggar seni.
Namanya, Sanggar Bejo Lestari Laras. Sanggar ini berdiri pada Juni 2019. Pendiri sanggar, Adi Kusnari merasa miris dengan anak-anak sekarang.
Anak mulai kurang minat dengan budaya Jawa. Setiap sore sering melihat anak-anak bermain gadget. Adi berpikir bagaimana caranya anak-anak untuk melestarikan budaya.
Berikut ulasan lebih lanjut tentang Sanggar Bejo Lestari Laras, Selasa (9/1).
Dalam mengelola Sanggar Bejo Lestari Laras ini Adi tak sendiri. Ia dibantu Parliana dan Rama Aditya.
Adit, sapaan akrab, dipilih menjadi ketua sanggar ini untuk mengoordinasi agar sanggar terus hidup dengan berbagai kegiatan.
Mereka melatih sekitar 20 anak. Anak yang dilatih berkisar umur 11-13 tahun.
Latihan ini dimulai setiap sore sepekan dua kali. Yakni pada Sabtu dan Minggu
.Upaya mereka untuk melatih anak-anak ini mendapat sambutan baik masyarakat. Orang-orang tua sekitar antusias dengan mulai mendaftarkan anak-anaknya.
Berjalannya waktu mulai ada tawaran. Diawali mengisi untuk kelulusan sekolah-sekolah dan acara hajatan. Selama latihan Adit dibantu Jaswadi. Jaswadi terbilang sabar melatih.
Adit sendiri merasa senang dengan anak-anak yang makin mahir memainkan gamelan. Awalnya ia mengaku kesulitan melatih anak-anak.
”Saya senang anak-anak mau nguri-nguri budaya. Enaknya mereka bisa menghafal notasi dengan cepat. Mungkin karena masih anak-anak, jadi ingatanya masih bagus,” terang Adit (9/1).
Adit sebagai ketua sekaligus pelatih merasa bangga bisa mencetak anak-anak yang luar biasa. Sebagai mahasiswa dia juga tidak lupa dengan kewajibannya.
Di sela-sela perkuliahan dia rela bolak balik Pati-Solo untuk melatih.
“Saya sebenarnya tidak tega meninggalkan anak-anak. Makanya saya dibantu Pak Jaswadi, jika saya kuliah nanti yang melatih Pak Jaswadi.” imbuh Adit.
Latihan rutin dilaksanakan hari Sabtu dan Minggu sore. Latihan ini biasanya berdurasi kurang lebih lima jam. Dimulai setelah salat Ashar hingga pukul 20.00.
Meski capek, tapi anak-anak merasa senang melakukannya. Mereka senang, dengan kerja kerasnya bisa menghasilkan sedikit pundi-pundi rupiah.
Selama tiga tahun terakhir ini Sanggar Bejo Lestari Laras mencetak banyak prestasi di sejumlah perlombaan.
Selain tampil di perlombaan, mereka juga kerap kali tampil di acara-acara tertentu.
Seperti di tasyakuran, bersih desa, festival dalang cilik, dan acara 1 Muharram.
Mereka juga turut mengikuti program pemerintah Kabupaten Pati, yaitu Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS).
Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS) merupakan progam yang dijalankan Direktorat Jenderal Kebudayaan Kemendikbudristek RI.
Program seniman ini memberikan pembelajaran kesenian pada kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.
“Wah banyak sekali prestasinya, banyak ikut pentas juga.” ujar Parliana (9/1). Berikut beberapa prestasi yang pernah diraih oleh Sanggar Bejo Lestari Laras.
Oktober 2021, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi bersama komunitas Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Pati menyelengarakan Festival Lomba Dalang Anak dan Dalang Remaja.
Sanggar Bejo Lestari Laras mengajukan tiga dalang anak dan satu dalang remaja. Yakni Muhtamim Khoirul Huda dengan lakon Ciptaning, Vincent Colin Putra Farlin dengan lakon Brajadenta Mbalela.
lalu Enggar Aryadewa Sisetyo dengan lakon Brubuh Ngalengko dan Nahnu Alifa dengan lakon Brubuh Ngalengko. Dalam Festival ini Vincent meraih juara harapan 2 dan Nahnu meraih juara 3.
“Untuk maju ke tingkat provinsi, Sanggar Bejo Lestari Laras berkolaborasi dengan Gandrung Swara Al Giffari sebagai juara 1 tingkat eks Karesidenan Pati yang maju ke tingkat provinsi,” tegas Parliana.
September 2022, Festival Dalang Tingkat Provinsi di Sragen. Mereka berkolaborasi dengan dalang anak Gandrung Swara Al Giffari. Dalam Festival ini meraih juara 2.
Di bulan yang sama mereka maju ke Festival Tingkat nasional diselenggarakan di Plaza Taman Fatahilah Kota Tua, Jakarta.
Di tingkat nasional masih berkolaborasi dengan Gandrung yang membawakan lakon Anoman Obong dengan gagrag Surakarta.
Dengan latihan yang cukup cepat mereka mampu membawa pulang juara 1 tingkat nasional.
“Latihan cukup mepet mas, 17 Sepetember ditingkat Provinsi dan 22-24 Sepetember sudah maju ketingkat Nasional.” sambung Adit.
Setelah lomba Festival ini, ada keliling di tiga kota. Keliling tiga kota ini dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional.
Mereka mengunjungi RRI Semarang, ISI Surakarta, dan salah satu sanggar di Boyolali.
Dengan rentetan acara yang cukup padat ini anak-anak masih tetap semangat menjalaninya.
“Saya saja lihatnya capek mas, tapi anak-anak masih tetap semangat. Di sela-sela tampil mereka juga istirahat secukupnya. Namanya juga anak-anak ada juga yang aktif bermain walaupun sebenarnya badannya capek,” Ujarnya Parliana.
Bulan November 2023 mereka bisa berkesempatan tampil di Anjungan, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Mereka tampil dalam rangka memperingati Hari Wayang Nasional 7 November 2023.
Ada 3 dalang yang tampil, yaitu Ki Gandrung Swara Algiffari, Ki Vincent Colin Putra Farlian, dan Ki Rama Aditya. Mereka menampilkan lakon Anoman Duta – Rama Tambak.
Tentunya diiringi dengan pengrawit dari Sanggar Bejo Lestari Laras yang berkolaborasi dengan pengrawit Carang Soka Grup. Pengrawit diambil dari beberapa anak-anak Bejo Lestari Laras dan Sebagian dari Carang Soka Grup.
“Karena permintaan panita, jadi saya mengambil sebagian anak-anak Bejo Lestari Laras dan sebagian teman-teman Carang Soka Grup. Kedua kelompok pengrawit ini yang sering ikut saya.” terang Adit.
Masyarakat bangga dengan anak anak yang berkisar umur belasan tahun bisa mengimbangi orang yang berumur 20 tahunan. Jam terbang memang tidak diragukan lagi.
Dengan acara ini bisa membentuk regenasi muda yang mau melestarikan budaya Jawa terkhusus seni Pewayangan.
Selama perjalanan karir Sanggar Bejo Lestari Laras banyak kolaborasi dengan beberapa dalang. Dengan kolaborasi ini bisa meningkatkan popularitasnya.
Selain prestasinya yang banyak, mereka juga kerap kolaborasi dengan beberapa dalang.
“Banyak kolaborasi dengan dalang Ki Rama Aditya, Ki Vincent Colin Putra, Ki Gandrung Swara. Pernah juga mengiringi Ki Bowo Asmoro,” ujar Parliana.
Selain dalang juga pernah kolabrasi dengan pengrawit Carang Soka Grup saat mengisi di Anjungan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dalam rangka Hari Wayang Nasional 2023.
Terkadang juga diminta mengisi sekolah-sekolah saat Gerakan Seni Masuk Sekolah (GSMS).
Jam terbang yang banyak membuat anak-anak makin mahir. Apalagi kerap mengisi acara sedekah bumi di beberapa desa di Kabupaten Pati.
Bulan Mei- Juli 2023 Sanggar Bejo Lestari Laras sering mengiringi Ki Rama Aditya saat acara sedekah bumi.
“Anak-anak sering saya ajak mengisi sedekah bumi di desa-desa di Kabupaten Pati. Tapi juga bergantian dengan Carang Soka Grub, itu pengrawit yang sering iku saya," Adit menerangkan.
Untuk permasalahan sekolah, kata Adit, jika ada tampil di acara-acara mereka izin tidak masuk sekolah. Tapi kebanyakan tampil pada hari libur dan weekend.
Selain pentas di acara sedekah bumi, acara syukuran, mereka juga beberapa kali tampil di acara-acara besar.
Seperti acara Hari Wayang Nasional, Hari Guru Nasional, Grebeg Suro Mangkudipuro, Hari Kemerdekaan, Event Budaya yang diselenggarakan pemerintah.
“Alhamdullah, banyak masyarakat yang melirik Sanggar Bejo Lestari Laras," bangganya.
Dengan umur yang masih muda bisa melalang buana tampil melestarikan budaya. Mereka senang jika diminta mengisi di acara-acara besar.
Tentunya perjalanan mengembangkan Sanggar Bejo Lestari Laras tak semulus jalan tol. Pastinya ada hambatan.
Hambatan sendiri bisa dari luar maupun dalam. Selama proses latihan ini tak banyak hambatan muncul.
“Hambatan yang muncul tidak banyak mas. Terkadang kendala Adit yang masih kuliah dan anak-anak malas berangkat latihan. untungnya kami bisa menanganinya,” ujar Parliana (11/1).
Anak-anak juga pastinya memiliki hambatan sendiri. Saat rutinan latihan ada juga anak-anak yang malas berangkat.
Berawal dari 20 anak, lambat laun menjadi 12 anak yang masih aktif dalam latihan rutinan. Meskipun begitu, tidak membuat patah semangat pelatih dan anak-anak dalam latihan ini.
“Dari awal mulai kami ada 20 anak, lambat laun anak ada yang malas berangkat dan kini yang masih aktif hanya 12 anak yang sering latihan rutin dan tampil,” sambung Parliana.
Pada awal tampil mengisi acara anak-anak masih belum terbiasa dengan jam tidur yang larut malam. Mereka butuh penyesuian dengan jam tidur malam.
Kini mulai terbiasa karena jam terbang. Dahulu bisa aja sehabis tampil besoknya izin tidak masuk sekolah.
“Saya dulu ngantukan mas, tidak terbiasa tidur tengah malam, tapi kini bisa tidur larut malam karena terbiasa saat tampil,” kenang Widi, pengrawit, (11/1).
Tapi, lanjutnya, ia tetap masuk sekolah. Ia izin saat kondisi sakit saja.
Widi terkendala bila ada permintan mendadak untuk mengisi acara.
Saat ini Sanggar Bejo Lestari Laras sudah membuka pendaftaran baru bagi anak-anak yang mau berlatih karawitan dan tari. Pendaftaran telah dibuka pada November 2023.
Kini total anak yang berlatih karawitan berjumlah 28 anak berkisar umur 8-15 tahun.
Sedangkan di tari ada 15 anak 5-12 tahun.
Dengan adanya pendaftaran ini diharapkan makin banyak lagi anak-anak yang mau melestarikan budaya. (*/him)
Editor : Abdul Rochim