PATI, RadarPati.id - Perjuangan Walisongo Indonesia Laskar Sabilillah (PWI-LS) Pati resmi berdiri. Mereka mengklaim beranggotakan 200-an dari kalangan Nahdlatul Ulama (NU). Kehadiran organisasi ini menambah dinamika dalam lingkungan NU di Pati.
Pimpinan Pusat PWI-LS secara resmi menyerahkan Surat Keputusan (SK) sekaligus mengukuhkan kepengurusan baru. Pengukuhan ini menjadi langkah awal bagi kepengurusan baru dalam menjalankan visi dan misi organisasi secara lebih terarah.
Reshuffle ini dilakukan sebagai bentuk penyegaran dan evaluasi dalam menjalankan roda organisasi. Dengan adanya perubahan kepengurusan, diharapkan kinerja organisasi semakin efektif dan mampu menjawab tantangan ke depan.
Acara penyerahan SK dan pengukuhan kepengurusan berlangsung di Desa Tambahagung, Tambakromo, pada Rabu (12/2) malam.
Acara tersebut dihadiri oleh berbagai pihak yang mendukung pergerakan PWI-LS dalam memperjuangkan sejarah dan ajaran NU.
”Kami berharap para pengurus dapat berupaya mengembalikan sejarah asli bangsa Indonesia, termasuk meluruskan informasi terkait makam para wali dan pembelokan sejarah lainnya,” ujar Sekjen PWI-LS Pusat Ahmad Riyad Mustofa.
Pernyataan itu menegaskan komitmen organisasi dalam menjaga keaslian sejarah dan melawan distorsi yang terjadi.
Sementara itu, Ketua PWI-LS Pati, Fakhru Roji menegaskan, tujuan utama PWI-LS adalah membentengi NU dan para ulama dari paham-paham yang dianggap menyesatkan. Hal ini menjadi bagian dari misi utama organisasi dalam menjaga keutuhan ajaran Islam yang diwariskan para ulama NU.
”Kami ingin melindungi NU dari pengaruh paham yang bisa menyesatkan. Ada kelompok tertentu yang masuk ke dalam NU dan menyebarkan cerita yang tidak sesuai dengan sejarah sebenarnya. Hal ini yang harus kita luruskan dan pahami bersama,” jelasnya. Upaya ini dilakukan agar generasi muda NU tidak terpengaruh oleh narasi yang menyimpang.
Saat ini, jumlah pengurus PWI-LS Pati mencapai 83 orang sedangkan anggotanya telah mencapai 235 orang. Angka ini menunjukkan antusiasme masyarakat dalam mendukung gerakan yang diusung PWI-LS.
Fakhru Roji menambahkan bahwa organisasi ini masih dalam tahap pengembangan dan akan terus melakukan ekspansi ke setiap kecamatan di Pati. Langkah ini bertujuan untuk memperluas jaringan dan memperkuat posisi organisasi dalam menjalankan misinya.
”Karena PWI-LS masih baru, kami akan terus membentuk kepengurusan cabang di berbagai kecamatan agar gerakan ini semakin luas,” tambahnya.
Dengan semakin banyaknya cabang, diharapkan organisasi ini bisa lebih aktif dalam berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Sementara itu, Muharror Khudlori, selaku Dewan Kesepuhan PWI-LS Demak Bintoro menegaskan bahwa pengurus yang telah menerima SK harus menjalankan amanah dengan penuh tanggung jawab.
Ia menekankan bahwa kepemimpinan dalam organisasi ini bukan hanya formalitas, melainkan tanggung jawab moral yang besar.
”Jangan sampai setelah menerima amanah ini kita malah berdiam diri. Rasulullah mengajarkan bahwa seseorang dikatakan merugi jika hari ini sama dengan hari kemarin. Maka kita harus terus berkembang dan menjadi lebih baik dari hari ke hari,” tandasnya.
Motivasi ini diberikan agar para pengurus tetap bersemangat dalam menjalankan tugasnya.
Lebih lanjut, ia mengajak seluruh pengurus PWI-LS Pati untuk bersama-sama menjaga sejarah nasional, sejarah NU, serta silsilah keturunan Nabi Muhammad SAW dari upaya distorsi yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu. Ajakan ini diharapkan dapat menyatukan visi dalam menjaga nilai-nilai keislaman yang autentik.
Menanggapi hal tersebut, Ketua PCNU Pati Yusuf Hasyim menyatakan, ada 11 organisasi yang tidak masuk dalam struktur NU. Itu berdasarkan Surat Edaran PBNU Nomor: 3391/PB.01/A.II.10.44/99/01/2025 pada 7 Januari 2025.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan posisi NU dalam menanggapi organisasi-organisasi yang bergerak di luar struktur resminya. Ke-11 organisasi itu yakni :
- Santri Tani NU,
- Himpunan Advokat NU,
- Himpunan Pengusaha NU,
- Rumah Sedekah NU,
- Perkumpulan Insinyur Nahdliyin Nusantara (PINNU),
- Himpunan Sekolah-Madrasah Islam Nusantara (HISMINU).
Selain itu, terdapat juga Lajnah Dakwah Islam Nusantara (LADISNU), Perkumpulan Penggerak Pemakmuran Masjid Indonesia (P2MI), Perkumpulan Ahli Thoriqoh Al Mu'tabaroh Al Nahdliyyah (PATMAN), kemudian Perjuangan Walisongo Indonesia/Laskar Sabilillah (PWI-LS), dan organisasi lain yang tak tercantum dalam AD/ART NU.
”Tidak masalah. Semua organisasi punya hak masing-masing. Demikian juga organisasi NU punya AD/ART dan peraturan perkumpulan yang mengatur secara khusus,” terangnya dihubungi kemarin.
Dengan pernyataan ini, ia menegaskan bahwa NU tetap berpegang pada aturan internalnya dalam menyikapi organisasi-organisasi yang bergerak di sekitarnya. (adr/amr)
Editor : Syaiful Amri