JEPARA – Tidak ada yang istimewa dari sebuah bola takraw yang ditendang anak-anak di lapangan.
Namun, bagi Muhammad Ubaidur Rohman, bola itulah yang menjadi awal perjalanan panjang menuju panggung olahraga Asia.
Saat duduk di kelas II sekolah dasar, Ubaidur mulai berlatih sepak takraw di GOR Welahan.
Usianya baru sekitar delapan tahun ketika sang ayah, Sukamto (alm), mengenalkan olahraga tersebut.
Baca Juga: Timnas Indonesia Cetak 9 Rekor Dunia dan Bawa Banyak Medali Asian Games 2026
Dari tempat itu, perjalanan atlet asal Desa Gidanglo, Kecamatan Welahan, tersebut terus berkembang.
Hampir satu dekade kemudian, Ubaidur berdiri di Jepang dengan mengenakan seragam Merah Putih.
Bukan lagi sebagai anak yang sekadar berlatih di GOR Welahan, melainkan sebagai bagian dari skuad sepak takraw Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
Hasilnya, dua medali berhasil dibawa pulang. Perak dari nomor quadrant event putra dan perunggu dari team regu event putra.
Yang membuat kisah itu semakin menarik, Ubaidur bukan satu-satunya atlet asal Welahan yang tampil di Asian Games.
Ada Dini Mitasari dari Desa Kendengsidialit. Usianya memang jauh lebih matang, 32 tahun, tetapi perjalanan keduanya bertemu di panggung yang sama.
Dini juga pulang membawa dua medali perunggu, masing-masing dari quadrant event putri dan team regu event putri.
Total empat medali Asian Games akhirnya dibawa pulang dua atlet dari satu kecamatan di Jepara.
Berawal dari GOR Welahan
Ubaidur masih mengingat awal mula dirinya mengenal sepak takraw.
Sejak kelas II SD, ia rutin berlatih di GOR Welahan. Sang ayah menjadi sosok yang mengenalkan sekaligus mendampinginya menjalani latihan.
"Sudah sejak lama, dari kelas II SD, umur delapan tahun," kata Ubaidur, Selasa (6/10).
Dari Welahan, Ubaidur kemudian masuk pembinaan olahraga pelajar Jawa Tengah. Selama sekitar lima tahun, ia menjalani pendidikan sekaligus latihan di Semarang.
Kerja keras tersebut mulai menghasilkan prestasi.
Pada POPNAS 2023 di Palembang, Ubaidur menjadi juara pada nomor team regu, quadrant event, dan double event.
Setahun berikutnya, ia kembali naik podium pada PON 2024 Aceh-Sumut dengan meraih emas team regu serta perak quadrant event.
Prestasinya berlanjut pada 2025. Ubaidur menjadi juara POPNAS 2025 Jakarta dan Seleknas Piala Kemenpora 2025.
Panggung internasional pun akhirnya terbuka.
Ia memperkuat Indonesia pada World Cup 2025 di Malaysia dan menyumbangkan perunggu dari nomor team regu.
Asian Games Aichi-Nagoya 2026 menjadi pengalaman internasional berikutnya.
Dua Bulan Mengejar Asian Games
Persiapan menuju Asian Games tidak berlangsung bertahun-tahun.
Ubaidur dan tim justru hanya memiliki waktu sekitar dua bulan dalam pemusatan latihan di Parepare.
Waktu yang singkat itu harus digunakan untuk menjaga kondisi fisik, meningkatkan teknik, sekaligus membangun kekompakan antarpemain.
"Waktu yang sangat singkat, tapi kami berusaha maksimal," ujarnya.
Latihan intensif setiap hari tentu tidak selalu mudah. Kejenuhan dan kelelahan harus dihadapi.
Cedera juga menjadi ancaman yang bisa memengaruhi kekuatan tim.
"Kalau satu cedera, rugi. Kami berusaha menjaga fisik dan stamina," kata Ubaidur.
Perjuangan tersebut akhirnya terbayar ketika ia tampil di Jepang.
Dua medali berhasil diraih. Namun, bagi Ubaidur, Asian Games juga memberikan pengalaman penting karena dapat melihat secara langsung kualitas atlet dari negara-negara lain.
"Jadi tahu kekuatan negara lain bagaimana," ujarnya.
Di usia 18 tahun, pengalaman tersebut menjadi modal berharga untuk karier berikutnya.
Ubaidur kini masih menjalani pendidikan di Program Studi Pendidikan Jasmani, Kesehatan, dan Rekreasi Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Ia juga ingin menambah jam terbang melalui berbagai kompetisi, termasuk Liga Indonesia yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta.
Dini, Atlet yang Sempat Ingin Berhenti
Jika Ubaidur sedang membuka perjalanan panjangnya sebagai atlet, kisah Dini justru memiliki cerita berbeda.
Ia sudah mengenal sepak takraw sejak kelas IV SD. Ketika duduk di kelas I SMP, Dini masuk pembinaan PPLP Salatiga.
Dari sanalah jalan menuju tim nasional terbuka.
Dini menjalani debut bersama Timnas Indonesia pada SEA Games 2009. Setelah itu, ia kembali memperkuat Merah Putih dalam SEA Games 2011, 2013, 2015, 2017, dan 2019.
Karier panjang tersebut membawanya tampil di berbagai ajang internasional.
Namun, pada 2023, Dini sempat mempertimbangkan untuk mengakhiri kariernya sebagai atlet.
Kesempatan kedua ternyata datang.
Dini kembali mendapat kepercayaan untuk memperkuat Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026.
"Bangga bisa mewakili Timnas lagi. Sebelumnya 2023 sempat mau pensiun, ternyata dikasih kesempatan lagi," tuturnya.
Kesempatan tersebut tidak disia-siakan.
Dini membawa pulang dua medali perunggu dari nomor quadrant event dan team regu putri.
Empat Medali dari Dua Desa
Senin (5/10), Ubaidur dan Dini kembali ke Indonesia. Mereka disambut jajaran KONI Jawa Tengah, Dispora Jateng, Pengprov PSTI Jateng, serta keluarga.
Namun, kepulangan dari Asian Games bukan berarti perjalanan keduanya selesai.
Ubaidur masih akan melanjutkan pendidikan dan mengejar lebih banyak pengalaman bertanding.
Sementara Dini mulai mempersiapkan diri menghadapi babak kualifikasi PON.
"Sedang mempersiapkan pra-PON. Kalau lolos, baru gas," ujar Dini.
Pengalaman panjang membuat Dini juga menaruh perhatian terhadap keberlanjutan pembinaan sepak takraw.
Menurutnya, pembinaan di Jawa Tengah sudah berjalan baik. Namun, dukungan pemerintah dan anggaran tetap dibutuhkan agar regenerasi atlet terus berjalan.
"Setiap kejuaraan membawa medali. Saya berharap agar lebih banyak perhatian diberikan untuk sepak takraw," katanya.
Dari Welahan, Nama Jepara Sampai Jepang
Kisah Ubaidur dan Dini memperlihatkan bahwa atlet berprestasi tidak selalu lahir dari pusat olahraga besar.
Keduanya berasal dari desa yang berbeda di Kecamatan Welahan.
Ubaidur dari Gidanglo, sedangkan Dini dari Kendengsidialit.
Jalan mereka pun berbeda. Ubaidur memulai karier sejak usia delapan tahun dan kini baru berusia 18 tahun. Dini telah melewati perjalanan panjang bersama Timnas Indonesia dan sempat berpikir untuk pensiun.
Namun, Asian Games mempertemukan keduanya.
Dari Jepang, empat medali dibawa pulang untuk Indonesia.
Di balik medali tersebut ada latihan bertahun-tahun, dukungan keluarga, kerja pelatih, pembinaan, rasa lelah, cedera, bahkan keraguan untuk melanjutkan karier.
Semua bermula dari tempat sederhana.
Dari bola takraw yang ditendang di Welahan, perjalanan dua atlet Jepara itu akhirnya sampai ke panggung olahraga terbesar di Asia.
Dan setelah empat medali Asian Games, cerita mereka belum selesai. (*)
Editor : Abdul Rochim