RADARPATI.JAWAPOS.COM – Perjalanan Yoga Ardika Putra hingga berdiri di podium Asian Games Aichi-Nagoya 2026 terbilang tidak biasa.
Tak memiliki dasar olahraga tertentu sebelumnya, Yoga justru mampu mempersembahkan medali perunggu untuk Indonesia dari cabang teqball.
Medali tersebut diraih Yoga pada nomor Men’s Singles yang berlangsung di Nagoya City Higashi Sports Center, Jepang.
Baca Juga: Erick Thohir Ingatkan Atlet Peraih Emas Asian Games 2026 Dapat Bonus Rp 3 Miliar
Bagi Yoga, keberhasilan tersebut menjadi pencapaian istimewa setelah melalui proses panjang bersama olahraga yang memadukan permainan bola dengan teknik khas teqball.
“Tentu rasanya senang bisa dapat medali di Asian Games. Ini pencapaian yang luar biasa. Perjuangan kita di Indonesia terbayar di Asian Games ini,” kata Yoga.
Sebelum menekuni teqball, Yoga mengaku tidak mempunyai latar belakang khusus di cabang olahraga tertentu.
Ia kemudian mengikuti arahan pelatih dan mulai serius berlatih teqball.
Kecintaannya terhadap sepak bola sejak kecil menjadi salah satu alasan Yoga merasa mudah tertarik dengan olahraga tersebut.
“Saya memang suka olahraga, main bola tentunya. Dan teqball juga sejalur, sama-sama main bola, jadi kenapa nggak dicoba, dilanjutkan terus,” ujarnya.
Di luar aktivitas sebagai atlet, Yoga tercatat sebagai mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ) angkatan 2023. Ia mengambil jurusan Manajemen Pendidikan.
Menariknya, ilmu yang dipelajari di bangku kuliah ikut diterapkan Yoga ketika bertanding.
Kemampuan menganalisis menjadi salah satu bekal yang menurutnya berguna di arena.
Yoga mengaku terbiasa melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri, sekaligus mempelajari kekuatan dan kelemahan lawan.
“Lebih ke cara menganalisis diri sendiri, menganalisis kekuatan lawan, bagaimana kita menganalisis kelemahan kita sendiri. Itu sih yang paling kepakai,” tuturnya.
Medali perunggu Asian Games 2026 juga memiliki arti khusus bagi Yoga.
Ia mempersembahkan pencapaian tersebut untuk keluarga yang selama ini memberikan dukungan penuh terhadap kariernya sebagai atlet.
“Medali ini untuk keluarga, sebetulnya. Keluarga tentu mendukung 100 persen apa yang saya lakukan, tentunya dalam hal yang positif. Dalam hal ini, berlatih di teqball, ya didukung 100 persen,” katanya.
Selain menjadi pencapaian pribadi, Yoga berharap keberhasilannya di Aichi-Nagoya dapat membantu memperkenalkan teqball kepada masyarakat Indonesia.
Menurutnya, prestasi di panggung Asian Games bisa menjadi momentum untuk memperkuat pengembangan teqball, termasuk dukungan terhadap federasi dan pembinaan atlet.
“Dengan hasil kita, target medali ini tercapai. Ke depannya, semoga mendapat dukungan penuh untuk federasi teqball di Indonesia agar ke depannya lebih berkembang,” pintanya.
Meski sudah mengantongi medali Asian Games, Yoga belum ingin berhenti.
Perunggu di Aichi-Nagoya justru menjadi pijakan untuk mengejar pencapaian yang lebih tinggi pada kesempatan berikutnya.
“Tentu, akan terus berjuang, raih medali emas pada kesempatan lainnya. Terima kasih masyarakat Indonesia sudah mendukung teqball Tim Indonesia di Asian Games. Terima kasih,” tutup Yoga. (*)
Editor : Abdul Rochim