
KUDUS — Persaingan mendapatkan Super Tiket Audisi Umum PB Djarum Kudus 2026 semakin ketat.
Memasuki hari keempat pelaksanaan di GOR Djarum, Jati, Kudus, sejumlah nama mulai masuk radar Tim Pencari Bakat.
Menariknya, peluang mendapatkan Super Tiket tidak hanya dimiliki peserta yang mampu melaju jauh melalui jalur turnamen.
Baca Juga: Anak-anak Belajar Lalu Lintas Bersama Polisi di Taman Lalu Lintas Kudus
Atlet yang tersingkir pun masih berpeluang dipilih apabila dinilai memiliki potensi besar untuk berkembang.
Legenda bulutangkis PB Djarum sekaligus anggota Tim Pencari Bakat, Hastomo Arbi, mengatakan penilaian dilakukan secara menyeluruh.
Bukan hanya melihat kemenangan dan kekalahan, tetapi juga kemampuan teknis, karakter permainan hingga potensi perkembangan seorang atlet.
Selama empat hari mengamati pertandingan dari tepi lapangan, Hastomo mengaku sudah mengantongi beberapa nama dari sektor putra.
"Saya mengantongi beberapa nama karena saya lihat skill mereka itu bagus sekali. Dari cara bertandingnya ada yang berbeda dari pemain lain dan juga dari postur tubuh," ujarnya.
Menurut peraih Piala Thomas 1984 tersebut, kemampuan untuk berkembang menjadi faktor penting dalam menentukan calon atlet.
Tim Pencari Bakat berusaha melihat apakah kemampuan yang dimiliki seorang peserta masih dapat diasah hingga menjadi pebulutangkis berkualitas di masa depan.
Penilaian serupa diterapkan pada sektor putri. Anggota Tim Pencari Bakat PB Djarum 2026 Maria Kristin Yulianti menyebut semangat bertanding menjadi salah satu aspek yang diperhatikan.
Peserta yang gagal di jalur turnamen masih dapat menjadi kandidat Super Tiket.
Bahkan, mereka yang gugur di babak 32 besar bisa kembali masuk radar apabila menunjukkan daya juang tinggi.
"Kami melihat kerja keras dan daya juang mereka di lapangan, jadi tidak hanya hasil akhir semata," kata Maria Kristin, peraih medali perunggu Olimpiade Beijing 2008.
Salah satu peserta yang menunjukkan karakter tersebut adalah Syarifah Adshila Nugroho.
Pebulutangkis KU-12 putri asal PB Champion Reborn Yogyakarta itu harus melewati pertandingan ketat pada babak 32 besar sebelum mengalahkan Riezqy Magisthira Nasruddin dari PB Champion Klaten dalam tiga gim, 12-21, 21-17, 21-10.
Syarifah bukan peserta baru. Pada Audisi Umum tahun lalu, perjalanannya terhenti di tahap karantina.
Kegagalan tersebut justru menjadi bahan evaluasi untuk kembali tampil tahun ini.
"Tahun lalu gak berhasil masuk PB Djarum karena tim pelatihnya merasa aku tampil kurang semangat. Jadi sekarang aku mencoba lebih siap di atas lapangan, secara fisik juga harus ditingkatkan," tuturnya.
Sementara dari sektor putra, Jethro Alexander Kemas juga merasakan perkembangan dalam tiga kali keikutsertaannya.
Atlet KU-11 asal Palembang itu tampil di Audisi Umum PB Djarum sejak 2024.
Tahun lalu Jethro sempat mencapai karantina, tetapi gagal melanjutkan proses karena kondisi kesehatannya menurun.
Tahun ini, ia berhasil melewati pertandingan melawan pemain yang sebelumnya mengalahkannya pada audisi tahun lalu.
"Saya sudah tiga kali ikut Audisi Umum PB Djarum. Waktu pertama kali ikut saya langsung kalah di pertandingan pertama. Tahun lalu sempat masuk karantina tetapi akhirnya gagal lolos karena waktu itu saya sakit," ungkapnya.
Kemenangan tersebut menjadi suntikan motivasi bagi Jethro.
Ia berharap penampilannya kali ini bisa membawanya menjadi bagian dari PB Djarum dan berkembang sebagai pemain hebat.
Bagi Tim Pencari Bakat, perjalanan Audisi Umum belum semata-mata tentang siapa yang menjadi juara.
Karakter, keberanian bertanding, kemampuan teknis serta potensi jangka panjang menjadi kombinasi yang terus diamati untuk menentukan calon penerima Super Tiket. (*)
Editor : Abdul Rochim