RADARPATI.JAWAPOS.COM - Pembalap muda Indonesia, Veda Ega Pratama, berada di ambang mencetak sejarah bersama Honda Team Asia di ajang Moto3 2026. Veda berpeluang memecahkan rekor perolehan poin rookie terbaik yang sebelumnya dicatat Ai Ogura pada musim 2019.
Saat ini, Veda telah mengoleksi 97 poin. Artinya, pembalap Indonesia tersebut hanya membutuhkan tambahan 13 poin untuk melewati torehan 109 angka milik Ogura.
Namun, misi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan. Veda perlu mengubah pendekatan balap, terutama dalam hal menjaga kondisi ban Pirelli dan menyesuaikan gaya berkendara dengan karakter sasis Honda NSF 250 RW yang relatif kaku.
Baca Juga: Jadwal Veda Ega Pratama di Moto3 San Marino 2026, Saatnya Bangkit di Misano
Rekor 109 poin Ogura pada 2019 dibangun melalui konsistensi. Kala itu, pembalap Jepang tersebut mampu finis di zona poin dalam 14 dari 19 seri.
Catatan tersebut menunjukkan bahwa konsistensi dapat menjadi kunci bagi Veda untuk melewati rekor tersebut.
Veda tidak harus selalu memaksakan diri mengejar podium. Finis secara konsisten di posisi delapan hingga 10 besar dapat menjadi strategi realistis untuk mengamankan tambahan poin hingga penghujung musim.
Tantangan Degradasi Ban Pirelli
Salah satu tantangan utama Veda adalah karakter ban Pirelli yang mengalami penurunan cengkeraman cukup signifikan pada pertengahan hingga akhir balapan.
Kondisi tersebut berpotensi berbenturan dengan gaya balap Veda yang agresif, khususnya melalui teknik pengereman dalam atau late trail braking. Teknik ini memang dapat memberikan keuntungan ketika memasuki tikungan, tetapi juga meningkatkan beban kerja pada ban.
Ketika memasuki lap-lap akhir, penurunan performa ban dapat membuat catatan waktu Veda melambat. Kondisi tersebut tentu menyulitkan dirinya untuk mempertahankan posisi di rombongan depan.
Kombinasi gaya balap agresif, karakter sasis Honda yang kaku, serta tuntutan pengelolaan ban Pirelli juga disebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan setelah kehilangan poin di Aragon dan insiden highside yang dialaminya.
Karena itu, Veda perlu mengembangkan gaya balap yang lebih halus, baik ketika memasuki maupun keluar dari tikungan.
Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah menjaga rolling speed. Veda bisa mengurangi pengereman terlalu dalam dan lebih fokus mempertahankan kecepatan di tengah tikungan. Dengan cara tersebut, kebutuhan untuk membuka gas secara agresif ketika keluar tikungan dapat dikurangi.
Selain itu, Veda juga perlu lebih cepat menegakkan posisi motor sebelum membuka throttle secara maksimal. Langkah tersebut membantu penyaluran tenaga mesin sekaligus mengurangi risiko kehilangan traksi.
Setup Motor Jadi Faktor Penting
Selain kemampuan pembalap, pengaturan teknis Honda NSF 250 RW juga menjadi faktor penting. Tim seperti Leopard Racing dinilai memiliki pengalaman lebih panjang dalam menemukan kombinasi geometri, suspensi, dan keseimbangan motor yang membuat karakter Honda NSF 250 RW lebih progresif sekaligus bersahabat terhadap ban.
Kompromi dalam hal tersebut menjadi salah satu pekerjaan yang perlu terus dilakukan Veda bersama Honda Team Asia.
Peluang Veda untuk menorehkan sejarah masih terbuka lebar, terlebih Moto3 2026 akan memasuki rangkaian balapan di Asia. Seri seperti Motegi, Mandalika, Australia, Sepang, hingga Qatar dapat menjadi panggung penting bagi Veda untuk mengumpulkan poin tambahan.
Jika mampu menggabungkan kecepatan alami dengan strategi balap yang lebih cerdas serta manajemen ban yang efektif, Veda memiliki peluang besar untuk melewati torehan 109 poin Ai Ogura.
Tambahan 13 poin kini menjadi batas matematis yang harus dikejar. Namun, konsistensi dan kemampuan menjaga performa hingga lap terakhir akan menjadi kunci bagi Veda untuk mengubah peluang tersebut menjadi rekor baru. (*/him)
Editor : Abdul Rochim