RADARPATI.JAWAPOS.COM – Bidang Profesi dan Pengamanan (Bidpropam) Polda Kalimantan Timur memeriksa dugaan intimidasi dan kekerasan fisik yang melibatkan anggota Brimob berinisial ART, ajudan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud.
Pemeriksaan dilakukan menyusul insiden yang melibatkan kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Samarinda.
Kabid Humas Polda Kaltim Kombes Pol Tedy Sopandi mengatakan, kepolisian sedang berkoordinasi dengan kesatuan Brimob untuk menindaklanjuti kejadian tersebut.
Baca Juga: Koalisi Sultra Bersih Klaim Dugaan Kerugian Negara dalam Laporan ke KPK Naik Jadi Rp 328 Miliar
Sanksi terhadap anggota yang bersangkutan akan ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan.
“Kita sedang koordinasi, nanti akan kita tindak lanjuti,” ujar Tedy saat dikonfirmasi, Selasa (20/10/2026).
Menurut Tedy, anggota kepolisian harus menjalankan tugas sesuai arahan pimpinan serta menjaga hubungan baik dengan masyarakat.
Sikap profesional, adil, dan transparan juga harus dikedepankan dalam setiap pelaksanaan tugas.
Terkait kemungkinan ART ditarik kembali ke kesatuannya, Tedy menyebut hal itu dapat dipertimbangkan apabila pemeriksaan menemukan pelanggaran prosedur yang serius.
“Nanti kita tunggu pemeriksaan dari kesatuannya. Bisa jadi (ditarik kembali), yang jelas bahwa apa yang dilakukan itu bertentangan dengan arahan Bapak Kapolri,” katanya.
Dugaan insiden tersebut terjadi pada Senin (19/10/2026) sore, setelah demonstrasi GMNI Samarinda mengenai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Ketegangan disebut berlangsung sekitar pukul 18.00 Wita di dekat Masjid Nurul Mu’minin, kompleks Kantor Gubernur Kaltim.
Salah seorang kader GMNI Samarinda, Rossa Tri Rahmawati, mengatakan para mahasiswa saat itu sedang duduk beristirahat sembari menunggu azan Magrib sebelum pulang.
Situasi berubah ketika Rudy Mas’ud bersama dua ajudannya melintas menuju masjid.
Rossa mengungkapkan, dirinya sempat mempertanyakan alasan gubernur tidak menemui perwakilan mahasiswa ketika demonstrasi berlangsung.
Menurut dia, pertanyaan tersebut disampaikan saat gubernur menghampiri kelompok mahasiswa.
“Saya cuma sekadar nyeletuk bertanya, kenapa tadi enggak menemui massa aksi? Malah dia yang menghampiri kami untuk menjawab,” kata Rossa.
Rossa mengaku merekam kejadian itu menggunakan telepon seluler. Ia menyebut salah seorang ajudan kemudian menepis ponselnya dengan kasar.
Rossa membantah telah menyentuh atau mengarahkan perangkat tersebut secara agresif kepada gubernur.
Insiden itu memicu protes dari mahasiswa lainnya. Kader GMNI, Ridwan, mengaku mengalami kontak fisik dengan ajudan gubernur. Ia menyebut ajudan tersebut menghampirinya tanpa komunikasi terlebih dahulu.
“Dia menghampiri saya, tiba-tiba langsung mem-body,” tutur Ridwan.
Hingga berita ini ditulis, kepolisian masih mendalami kejadian tersebut.
Dugaan intimidasi dan kekerasan yang disampaikan para mahasiswa belum dapat dianggap sebagai kesimpulan resmi sebelum pemeriksaan selesai.
Rudy Mas’ud juga belum menyampaikan klarifikasi resmi terkait insiden yang melibatkan pengawalnya. (*)