BBM Sulit Didapat di Bali, Ada Apa dengan Pasokan Bahan Bakar?

Muhammad Luthfi Haibatillah • Dipublikasikan Selasa, 13 Oktober 2026 | 14:50 WIB
Pengguna sepeda motor antre mengisi BBM di SPBU di Kudus, tadi siang. (INDAH SUSANTI/RADAR PATI)
Pengguna sepeda motor antre mengisi BBM

RADARPATI.JAWAPOS.COM – Ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali menjadi perhatian setelah masyarakat mengalami kesulitan mendapatkan bahan bakar di sejumlah lokasi.

Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kelancaran distribusi dan ketersediaan stok BBM untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

BBM merupakan kebutuhan penting bagi warga Bali, terutama untuk menunjang aktivitas sehari-hari, transportasi, hingga sektor pariwisata.

Ketika pasokan bahan bakar terganggu, dampaknya dapat dirasakan berbagai kalangan, mulai dari pengendara sepeda motor, pengemudi kendaraan pribadi, sopir angkutan umum, hingga pelaku usaha yang bergantung pada kelancaran transportasi.

Baca Juga: Sedan Tata Aeris Rp 90 Jutaan Meluncur, Konsumsi BBM Diklaim Tembus 22 Km Per Liter

Situasi tersebut juga menjadi perhatian karena Bali merupakan salah satu destinasi wisata utama di Indonesia.

Mobilitas wisatawan yang tinggi membuat kebutuhan BBM relatif penting untuk mendukung operasional kendaraan wisata, taksi, mobil sewaan, serta transportasi logistik yang melayani kebutuhan masyarakat dan industri pariwisata.

Kesulitan mendapatkan BBM di sejumlah SPBU membuat masyarakat harus mencari alternatif tempat pengisian bahan bakar.

Jika kondisi berlangsung dalam waktu lama, aktivitas harian berpotensi terganggu, terutama bagi pekerja yang mengandalkan kendaraan pribadi untuk berangkat bekerja maupun pelaku usaha yang membutuhkan pasokan bahan bakar secara rutin.

Persoalan ini turut memunculkan pertanyaan mengenai penyebab terganggunya ketersediaan BBM. Pasalnya, kelangkaan di tingkat SPBU tidak selalu berarti stok bahan bakar di seluruh wilayah benar-benar habis.

Kondisi tersebut juga dapat terjadi ketika pengiriman terlambat, distribusi belum merata, atau permintaan meningkat dalam waktu bersamaan.

Salah satu aspek yang menjadi perhatian adalah kelancaran rantai distribusi BBM, mulai dari terminal penyimpanan hingga SPBU.

Keterlambatan pengiriman dapat menyebabkan stok di tingkat pengecer menipis, meskipun persediaan masih tersedia di fasilitas penyimpanan utama.

Selain distribusi, lonjakan permintaan masyarakat juga dapat memengaruhi kecepatan habisnya stok di SPBU.

Ketika muncul kekhawatiran mengenai kelangkaan BBM, sebagian konsumen berpotensi melakukan pengisian bahan bakar lebih cepat atau membeli dalam jumlah lebih banyak dari biasanya.

Situasi ini dapat meningkatkan tekanan terhadap persediaan di lokasi tertentu.

Pemerintah Provinsi Bali pun menaruh perhatian terhadap persoalan tersebut.

Gubernur Bali Wayan Koster memanggil perwakilan Pertamina dan Himpunan Wiraswasta Nasional Minyak dan Gas Bumi (Hiswana Migas) pada Senin (12/10) untuk membahas persoalan pasokan BBM. 

Langkah tersebut dilakukan menyusul keluhan masyarakat terkait kesulitan memperoleh bahan bakar.

Dalam penanganannya, kelancaran distribusi menjadi salah satu hal penting yang perlu dipastikan.

Ketersediaan stok di depo atau terminal penyimpanan harus diikuti dengan pengiriman yang terjadwal dan merata ke SPBU.

Dengan demikian, kebutuhan masyarakat di berbagai wilayah dapat terpenuhi tanpa harus bergantung pada beberapa titik pengisian bahan bakar saja.

Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus sebelumnya menyampaikan bahwa keterlambatan pengiriman Pertalite menjadi salah satu persoalan yang memengaruhi pasokan di Bali.

Pengiriman yang terlambat tersebut dilaporkan telah tiba pada 7 Oktober 2026. Selanjutnya, distribusi dilakukan secara bertahap untuk membantu memulihkan ketersediaan BBM.

Upaya penambahan pasokan juga dilakukan melalui kedatangan kapal pengangkut BBM pada Minggu (11/10).

Pengiriman tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat sekaligus mengurangi tekanan terhadap persediaan di SPBU.

Kapal tersebut membawa 18.000 kiloliter Pertalite dan 2.500 kiloliter Pertamax.

Pengiriman tambahan dijadwalkan secara bertahap pada 12, 14, dan 16 Oktober.

Baca Juga: BBM Non Subsidi Naik Ugal-ugalan, Paguyuban SPBU Jepara Sebut QR Code Tetap Berjalan

Penambahan pasokan ini menjadi bagian dari upaya menjaga ketersediaan BBM di tengah tingginya kebutuhan masyarakat.

Meski demikian, penambahan stok tidak serta-merta membuat kondisi di seluruh SPBU kembali normal pada saat bersamaan.

Distribusi dari terminal penyimpanan menuju setiap SPBU membutuhkan pengaturan tersendiri, menyesuaikan kebutuhan wilayah, kapasitas penyimpanan, serta jadwal pengiriman.

Karena itu, masyarakat masih membutuhkan kepastian mengenai kondisi pasokan di wilayah masing-masing.

Informasi yang jelas mengenai ketersediaan jenis BBM, jadwal distribusi, serta lokasi SPBU yang memiliki stok dapat membantu mengurangi kebingungan dan mencegah penumpukan kendaraan di satu tempat.

Di sisi lain, Gubernur Bali Wayan Koster meminta masyarakat tetap tenang dan tidak melakukan pembelian secara berlebihan.

Ia menyatakan persediaan BBM di depo utama, yakni Manggis dan Sanggaran, tersedia dan mencukupi.

Pemerintah berharap masyarakat tidak terpancing kekhawatiran yang justru dapat memperburuk situasi di lapangan.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan pasokan BBM tidak hanya berkaitan dengan jumlah stok, tetapi juga bagaimana bahan bakar didistribusikan dan diakses masyarakat.

Ketersediaan di terminal penyimpanan perlu diimbangi dengan sistem distribusi yang responsif terhadap perubahan kebutuhan di setiap wilayah.

Bagi sektor pariwisata, stabilitas pasokan BBM juga memiliki arti penting.

Kelancaran transportasi menjadi salah satu penunjang kegiatan wisata, mulai dari perjalanan wisatawan menuju tempat penginapan hingga mobilitas ke objek wisata. 

Gangguan pasokan yang berlangsung lama berpotensi meningkatkan biaya operasional dan menghambat pelayanan transportasi.

Sementara itu, bagi masyarakat yang bekerja dengan kendaraan, ketersediaan BBM berkaitan langsung dengan produktivitas dan pendapatan.

Pengemudi ojek, kurir, pedagang, serta pelaku usaha kecil membutuhkan kepastian pasokan agar aktivitas mereka tidak terganggu akibat waktu yang terbuang untuk mencari bahan bakar.

Ke depan, evaluasi terhadap sistem distribusi menjadi hal penting untuk mencegah persoalan serupa berulang.

Pemantauan stok secara berkala, penyesuaian jadwal pengiriman, serta koordinasi antara pemerintah daerah dan penyedia BBM diperlukan untuk mengantisipasi lonjakan permintaan maupun kendala logistik.

Pada akhirnya, masyarakat berharap penyaluran BBM di Bali segera kembali stabil. Kepastian pasokan dan informasi yang transparan menjadi kunci agar warga tidak perlu berpindah-pindah SPBU untuk mencari bahan bakar.

Dengan distribusi yang lancar, aktivitas ekonomi, transportasi, dan pariwisata di Pulau Dewata diharapkan dapat berjalan normal kembali. (*)

Editor : Abdul Rochim
BBMLANGKA bbmbalilangka bbm