BGN Uji Coba MBG Sistem Prasmanan di Kelas

Abdul Rochim • Dipublikasikan Senin, 5 Oktober 2026 | 17:28 WIB
Kepala BGN Sudaryono.
Kepala BGN Sudaryono.

JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mulai menguji pola baru penyajian Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan sistem prasmanan di sekolah.

Dalam skema ini, makanan dari dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau central kitchen dibawa ke sekolah dalam kondisi hangat, kemudian disajikan langsung di kelas.

Kepala BGN Sudaryono mengatakan, uji coba telah diterapkan di lebih dari 60 dapur per Senin (5/10).

Baca Juga: Wakil BGN Jenguk Siswa di Rembang, Menu Melon Disorot dalam Evaluasi Dugaan Keracunan MBG

Sistem tersebut diharapkan membuat makanan yang diterima siswa lebih segar sekaligus memperpendek jeda antara makanan selesai dimasak dan dikonsumsi.

“Saya mau sampaikan per hari ini dari tanggal 5 ini kita sudah piloting di mungkin lebih dari 60 dapur untuk prasmanan di kelas. Jadi makanan dibawa hangat-hangat ke kelas kemudian disajikan di kelas,” ujar Sudaryono di Kantor Kementan, Senin (5/10).

Menurut dia, penyajian langsung di kelas juga diharapkan mengurangi risiko makanan mengalami penurunan kualitas akibat terlalu lama dalam perjalanan atau menunggu sebelum dikonsumsi.

Namun, penerapan sistem prasmanan membutuhkan keterlibatan sekolah. Siswa akan mendapat tugas piket untuk membantu melayani makanan kepada teman dan guru.

Konsep tersebut, kata Sudaryono, menyerupai sistem pelayanan siswa di sekolah-sekolah Jepang.

“Yang dilatih adalah dapurnya, yang dilatih juga adalah sekolahnya. Karena yang melayani adalah siswa. Jadi siswa itu ada piket kayak di Jepang,” katanya.

Siswa yang bertugas akan mendapat pelatihan mengenai tata cara pelayanan makanan serta dibekali perlengkapan seperti celemek dan sarung tangan.

Setiap kali piket, sekitar lima hingga enam siswa bertugas melayani teman dan guru.

“Memang perlu ada training yang cukup karena melibatkan sekolah dan siswanya. Siswa harus pakai celemek, kemudian pakai sarung tangan,” jelasnya.

Uji coba dilakukan di sejumlah daerah, mulai Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta hingga Papua. BGN menerapkan piloting di banyak wilayah untuk mengetahui kendala di lapangan sebelum sistem tersebut diperluas.

Sudaryono mengatakan, evaluasi awal menunjukkan makanan yang disajikan dengan sistem prasmanan relatif banyak dihabiskan. Kondisi itu dinilai dapat menekan jumlah makanan yang terbuang.

“Waste-nya lebih sedikit ya karena prasmanan,” pungkasnya. (*)

Editor : Abdul Rochim
prasmanan sekolah BGN Makan Bergizi Gratis Mbg SPPG