Gelombang Panas Menerjang Eropa, WHO Soroti Ancaman Kesehatan dan Infrastruktur

Abdul Rochim • Dipublikasikan Minggu, 20 September 2026 | 11:38 WIB

Ilustrasi Gelombang panas. (Magnific)

Ilustrasi Gelombang panas. (Magnific)

RADARPATI.JAWAPOS.COM– Gelombang panas kembali menjadi ancaman serius bagi sejumlah negara Eropa pada musim panas 2026.

Suhu ekstrem tidak hanya meningkatkan risiko terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga memberikan tekanan terhadap layanan publik dan infrastruktur.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut Eropa sebagai benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia.

Suhu di kawasan tersebut meningkat sekitar dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Kondisi itu membuat gelombang panas menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang semakin penting.

Baca Juga: Daftar Lengkap Reshuffle Terbaru Kabinet Prabowo Gibran

WHO memperingatkan bahwa paparan suhu tinggi dapat meningkatkan risiko kematian, terutama pada kelompok masyarakat yang rentan.

Berdasarkan data yang dipaparkan WHO pada pertengahan Juli 2026, hampir 10.000 kematian berlebih yang berkaitan dengan panas telah tercatat dari lima negara Eropa.

Namun, angka tersebut masih dapat berubah karena penghitungan dampak musim panas 2026 belum selesai.

WHO juga mengingatkan bahwa dampak panas ekstrem tidak selalu terlihat secara langsung.

Suhu tinggi dapat memperburuk kondisi kesehatan tertentu dan meningkatkan tekanan terhadap sistem pelayanan kesehatan.

Lansia dan Kelompok Rentan Jadi Perhatian

Warga lanjut usia menjadi salah satu kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi ketika suhu meningkat secara ekstrem.

Selain lansia, anak-anak, ibu hamil, orang dengan penyakit kronis, pekerja yang banyak beraktivitas di luar ruangan, serta masyarakat yang memiliki keterbatasan akses terhadap tempat tinggal sejuk juga membutuhkan perlindungan lebih.

Karena itu, WHO mendorong negara-negara Eropa memperkuat rencana aksi kesehatan untuk menghadapi gelombang panas.

Langkah tersebut antara lain mencakup sistem peringatan dini, perlindungan kelompok rentan, kesiapan fasilitas kesehatan, komunikasi kepada masyarakat, hingga penyediaan tempat yang lebih sejuk ketika suhu mencapai level berbahaya.

Bukan Sekadar Masalah Cuaca

Dampak gelombang panas juga dapat merembet ke berbagai sektor kehidupan masyarakat.

Peningkatan suhu dapat membuat penggunaan pendingin ruangan meningkat dan memberikan tekanan tambahan terhadap kebutuhan energi.

Pada saat bersamaan, layanan kesehatan berpotensi menghadapi lonjakan kebutuhan ketika masyarakat mengalami gangguan kesehatan akibat panas.

WHO juga menyoroti persoalan ketahanan infrastruktur.

Sebagian fasilitas publik di Eropa belum dirancang untuk menghadapi kondisi panas yang semakin ekstrem.

Artinya, gelombang panas bukan hanya persoalan perubahan suhu udara.

Fenomena tersebut berkaitan dengan kesehatan, energi, transportasi, tata kota, hingga kesiapan pemerintah dalam melindungi masyarakat.

Pada Juni 2026, WHO Eropa menerbitkan pembaruan panduan Heat–Health Action Plans.

Panduan tersebut mencakup sejumlah komponen penting, mulai dari tata kelola, sistem peringatan panas, perlindungan kelompok berisiko, komunikasi publik, ketahanan sistem kesehatan, pengurangan paparan panas, pemantauan kesehatan, hingga evaluasi.

WHO menilai persiapan sebelum gelombang panas terjadi menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko korban.

Pemerintah juga didorong tidak hanya bergerak ketika suhu sudah mencapai titik ekstrem.

Sistem peringatan dini dan perlindungan kelompok rentan perlu disiapkan sejak sebelum periode panas mencapai puncaknya.

Dengan meningkatnya frekuensi dan intensitas suhu ekstrem, kesiapan masyarakat, layanan kesehatan, serta infrastruktur menjadi semakin penting bagi negara-negara Eropa dalam menghadapi ancaman gelombang panas.(*)

Editor : Abdul Rochim
gelombang panas Eropa suhu ekstrem Eropa cuaca panas 2026 dampak gelombang panas who