RADARPATI.JAWAPOS.COM - Bencana dahsyat yang menghantam Jepang pada 2011 menjadi bukti nyata betapa destruktifnya dampak gempa megathrust bermagnitudo 9.0 yang disusul oleh gelombang tsunami raksasa dan krisis nuklir Fukushima.
Berdasarkan catatan Encyclopaedia Britannica, dinding air laut berkecepatan hingga 700 km/jam merenggut sekitar 18.500 jiwa, menyebabkan 10.800 orang hilang, serta melukai lebih dari 4.000 lainnya.
Baca Juga: BMKG Tiba-Tiba Ingatkan Lagi Siaga Megathrust, Kenapa?
Krisis memuncak sehari pascabencana saat reaktor nuklir Fukushima mengalami kebocoran radiasi yang memaksa isolasi wilayah dan evakuasi permanen ribuan warga.
Kegagalan Kalkulasi dan Pelajaran Mitigasi
Meskipun Jepang dikenal memiliki infrastruktur mitigasi dan sistem peringatan dini (early warning system) paling canggih di dunia, kesalahan kalkulasi awal terbukti fatal:
Baca Juga: Alasan BMKG Ingatkan Potensi Megathrust Selat Sunda M8,9
Misprediksi Gelombang
Otoritas setempat awalnya memperkirakan tinggi tsunami hanya berada di kisaran 3 meter, padahal gelombang riil yang menerjang daratan menjulang hingga ketinggian 40 meter.
Dampak Instruksi Keliru
Estimasi rendah tersebut memicu keputusan evakuasi yang terlambat bagi sebagian warga pesisir.
Kisah Penyintas dari Fukushima
Kisah dramatis dialami oleh Ryo Kanouya, warga Fukushima kelahiran 1990. Usai guncangan utama, Ryo yang mendapat instruksi pulang untuk membantu evakuasi segera bergegas ke rumahnya yang berjarak satu kilometer dari pantai.
Terjangan Kilat
Setibanya di rumah, Ryo menyaksikan langsung hempasan gelombang raksasa yang meratakan permukimannya dalam hitungan detik.
Bertahan di Tengah Puing: Tersekat pusaran air bah, Ryo berhasil selamat setelah bertahan pada sebuah lemari kayu yang mengapung hingga air surut.
Takdir Keluarga: Kendati Ryo bersama ayah, ibu, dan saudara perempuannya selamat dari maut, sang nenek dinyatakan hilang dan jasadnya belum ditemukan hingga saat ini. (*)
Editor : Zakarias Fariury