RADARPATI.JAWAPOS.COM - Unggahan video seorang pengamat cuaca amatir asal Kanada, Frankie MacDonald, baru-baru ini menyita perhatian publik usai melontarkan klaim spekulatif mengenai ancaman gempa bumi dahsyat berkekuatan magnitudo 7,0 hingga 9,0 yang diprediksi menimpa Pulau Jawa dan Jakarta sebelum akhir tahun 2026.
Sensasi ramalan tersebut berbenturan langsung dengan fakta ilmiah yang selama ini terus disosialisasikan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta para pakar kebencanaan tanah air mengenai potensi riil zona megathrust.
Baca Juga: 14 Titik! Potensi Gempa Dahsyat, Segmen Megathrust Indonesia Bertambah
Keterkaitan narasi viral tersebut dengan kecemasan masyarakat berakar dari keberadaan zona subduksi aktif yang memang memagari pesisir barat Sumatra hingga selatan Jawa. Berdasarkan dokumen Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 yang dirilis Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN), wilayah teritorial Indonesia dan sekitarnya dikelilingi oleh 14 segmen megathrust utama.
Segmen-segmen tersebut mencakup zona dengan potensi energi maksimum tinggi, seperti Megathrust Aceh-Andaman sebesar MMAX 9,2, Megathrust Jawa sebesar MMAX 9,1, Megathrust Mentawai-Siberut sebesar MMAX 8,9, Megathrust Mentawai-Pagai sebesar MMAX 8,9, Megathrust Enggano sebesar MMAX 8,9, Megathrust Jawa Bagian Barat sebesar MMAX 8,9, Megathrust Jawa Bagian Timur sebesar MMAX 8,9, Megathrust Sumba sebesar MMAX 8,9, Megathrust Nias-Simeulue sebesar MMAX 8,7, Megathrust Sulawesi Utara sebesar MMAX 8,5, Megathrust Palung Cotabato sebesar MMAX 8,3, Megathrust Filipina Selatan sebesar MMAX 8,2, Megathrust Filipina Tengah sebesar MMAX 8,1, serta Megathrust Batu sebesar MMAX 7,8.
Ancaman Nyata Fenomena Seismic Gap di Pesisir Jawa dan Sumatra
Perhatian serius para ilmuwan berfokus pada kawasan Selat Sunda (bagian dari zona Jawa Bagian Barat) serta Mentawai-Siberut. Kedua segmen ini teridentifikasi berada dalam fase seismic gap—yakni zona sumber gempa aktif yang sudah tidak mengalami pelepasan energi guncangan besar selama rentang waktu ratusan tahun, sehingga berada dalam siklus akumulasi deformasi kerak bumi yang tinggi.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menguraikan bahwa wilayah Selatan Banten dan Selat Sunda mencatatkan kekosongan pelepasan gempa besar sejak tahun 1757 atau sekitar 269 tahun lalu.
Baca Juga: Daftar 14 Zona Megathrust yang Kepung Indonesia, Beberapa Magnitudo 9 Lebih
Sementara itu, segmen Mentawai-Siberut tercatat belum melepaskan energi besarnya sejak tahun 1797 atau kurun waktu 229 tahun. Kondisi terkunci ini menjadikan kawasan Selat Sunda sebagai sumber paling potensial yang berdampak langsung terhadap wilayah Banten, Jawa Barat, hingga DKI Jakarta.
Dalam skenario pemodelan matematis, apabila pelepasan energi di zona Selat Sunda terjadi dengan potensi MMAX 8,9, wilayah DKI Jakarta diproyeksikan akan merasakan guncangan dengan skala intensitas V hingga VI MMI.
Selain ancaman guncangan tanah, pelepasan energi di zona laut ini berpotensi memicu gelombang tsunami minor dengan status waspada (ketinggian di bawah 0,5 meter) yang diperkirakan tiba di pesisir utara Jakarta sekitar 3 jam pascagempa.
Namun, untuk kawasan pesisir landai yang berhadapan langsung dengan samudra, limpasan gelombang tsunami dapat meloncat drastis dari estimasi baseline model awal setinggi 3 meter menjadi 4 meter, 5 meter, bahkan hingga 20 meter tergantung morfologi pantai.
Respon BMKG dan Pentingnya Pemisahan Aspek Ilmiah
Menanggapi kepanikan akibat desas-desus prediksi tanggal dan lokasi gempa secara mendetail, Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan rasional. Wijayanto menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada satu pun teknologi di dunia yang mampu memprediksi waktu, titik koordinat, dan besaran gempa secara presisi sebelum peristiwa terjadi.
Baca Juga: LINK Video Viral Ramalan Gempa M9 Guncang Indonesia. Ini Penjelasan BMKG
Otoritas BMKG melakukan pemantauan ketat selama 24 jam penuh dalam 7 hari sepekan terhadap seluruh jaringan sesar aktif dan segmen megathrust tanpa terkecuali. Informasi pemutakhiran data mengenai potensi pelepasan energi maksimum MMAX merupakan kalkulasi estimasi kapasitas fisik jangka panjang guna keperluan mitigasi penataan ruang, bukan sebuah pengumuman bahwa bencana akan segera menerjang dalam waktu dekat.
Masyarakat diharapkan untuk selalu memverifikasi setiap kabar burung melalui kanal komunikasi resmi BMKG serta mengalihkan fokus dari kepanikan ramalan menuju kesiapsiagaan terstruktur—seperti penguatan konstruksi bangunan tahan gempa, pemetaan rute evakuasi mandiri, dan penguasaan langkah penyelamatan diri saat guncangan terjadi. (*)
Editor : Zakarias Fariury