14 Titik! Potensi Gempa Dahsyat, Segmen Megathrust Indonesia Bertambah

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 10:37 WIB
Peta Zona Megathrust
Peta Zona Megathrust

RADARPATI.JAWAPOS.COM - Ancaman kebencanaan dari zona subduksi megathrust di wilayah Indonesia kembali menjadi pusat perhatian publik dan komunitas ilmiah.

Hal ini menyusul diterbitkannya Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024 secara resmi. Dokumen mutakhir tersebut mencatat keberadaan 14 segmen megathrust yang menyimpan akumulasi energi tektonik berskala besar, melonjak dari 13 segmen pada edisi 2017 serta 11 segmen pada pemetaan 2010.

Baca Juga: Daftar 14 Zona Megathrust yang Kepung Indonesia, Beberapa Magnitudo 9 Lebih

Pemutakhiran data ini dirumuskan secara intensif oleh tim ahli lintas lembaga melalui kompilasi kajian ilmiah dan evaluasi data seismik sepanjang rentang 2017 hingga 2024.

Dari total 14 segmen yang teridentifikasi, sebanyak 11 segmen membentang di dalam batas teritorial Indonesia, sedangkan 3 segmen lainnya berada di wilayah Filipina namun diproyeksikan memiliki daya jangkau bahaya lintas batas (transboundary hazard) hingga kepulauan Indonesia bagian utara.

Pembaruan krusial dalam dokumen edisi 2024 ini salah satunya ditandai dengan dimasukkannya Megathrust Palung Cotabato di Filipina yang memiliki estimasi potensi kekuatan hingga Magnitudo (M) 8,3.

Kedekatan lokasinya dengan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, menjadikan segmen ini fokus kewaspadaan baru.

Selain penambahan segmen asing, evaluasi geodesi mendalam juga memicu kenaikan estimasi magnitudo maksimum (MMAX) pada beberapa wilayah, seperti Megathrust Mentawai-Pagai yang naik menjadi M8,9 serta Megathrust Sulawesi Utara yang direvisi menjadi M8,5.

Baca Juga: LINK Video Viral Ramalan Gempa M9 Guncang Indonesia. Ini Penjelasan BMKG

Di tengah pemetaan tersebut, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan perhatian pemantauan ekstra pada tiga segmen utama, yakni Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba. Ketiga kawasan ini teridentifikasi telah berlangsung sangat lama tanpa pelepasan energi guncangan besar, sehingga dikategorikan ke dalam fase seismic gap.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, menegaskan bahwa pengawasan intensif terus difokuskan pada wilayah terkunci tersebut.

"Segmen Mentawai-Siberut sudah lama tidak terjadi gempa besar. Begitu pula Selat Sunda. Oleh karena itu, tiga segmen ini terus kami monitor secara intensif," jelas Wijayanto.

Senada dengan BMKG, pakar dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengimbau publik untuk menyikapi fenomena seismic gap secara rasional tanpa kepanikan berlebih. Konsep ini murni kalkulasi potensi energi jangka panjang dan sama sekali bukan petunjuk bahwa bencana akan menerjang dalam waktu dekat.

"Secara ilmiah harus dibedakan dengan tegas antara kawasan yang memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar dan kawasan yang akan segera mengalami gempa besar," tegas Daryono.

Penambahan jumlah segmen pada dokumen Peta Gempa 2024 ini menegaskan bahwa pemetaan dinamika tektonik di Indonesia kini makin detail, presisi, dan berbasis data ilmiah terkini.

Hasil pemutakhiran ini diharapkan menjadi fondasi utama bagi pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat penataan ruang berbasis risiko, memperketat standar bangunan tahan gempa, serta mengoptimalkan edukasi mitigasi di sepanjang kawasan pesisir rawan bencana. (*)

Editor : Zakarias Fariury
zona megathrust sesar aktif peta gempa indonesia bmkg megathrust