14 Zona Megathrust Indonesia, Tiga Segmen Dipantau Intensif BMKG

Abdul Rochim • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:10 WIB
Peta Zona Megathrust
Peta Zona Megathrust

RADAR PATI – Potensi ancaman gempa dari zona subduksi megathrust di Indonesia kembali menjadi perhatian.

Berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, terdapat 14 segmen megathrust yang berpotensi memicu gempa besar.

Jumlah tersebut meningkat dibandingkan Peta Gempa 2017 yang mencatat 13 segmen dan Peta Gempa 2010 sebanyak 11 segmen.

Baca Juga: Berikut Penjelasan Pemerintah Keputusan Gaji PNS Naik ataupun Tidak

Pemutakhiran dilakukan tim ahli lintas lembaga berdasarkan evaluasi data serta publikasi ilmiah sepanjang 2017–2024.

Dari 14 segmen tersebut, 11 berada di wilayah Indonesia. Sementara tiga lainnya berada di wilayah Filipina, tetapi diperkirakan dapat memberikan dampak signifikan terhadap kepulauan Indonesia bagian utara.

Salah satu pembaruan penting ialah masuknya Megathrust Palung Cotabato dengan potensi maksimum M8,3.

Segmen tersebut berada di perairan Filipina, tetapi lokasinya berdekatan dengan Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara.

Selain penambahan segmen, tujuh zona megathrust juga mengalami revisi kenaikan estimasi magnitudo maksimum.

Salah satunya Mentawai-Pagai, yang meningkat dari M8,5 menjadi M8,9. Sementara Sulawesi Utara naik dari M7,9 menjadi M8,5.

14 Segmen Megathrust

Berikut rincian potensi magnitudo maksimum berdasarkan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024:

  1. Aceh-Andaman – M9,2, berdampak pada pesisir Aceh, Sumatra Utara, hingga Kepulauan Andaman.

  2. Jawa – M9,1, berpotensi berdampak di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.

  3. Mentawai-Siberut – M8,9, dengan kawasan terdampak Sumatra Barat dan Kepulauan Mentawai.

  4. Mentawai-Pagai – M8,9, berpotensi berdampak pada Sumatra Barat hingga pesisir Bengkulu.

  5. Enggano – M8,9, meliputi pesisir Bengkulu hingga Lampung.

  6. Jawa Bagian Barat – M8,9, meliputi pesisir Banten dan Jawa Barat bagian selatan.

  7. Jawa Bagian Timur – M8,9, meliputi pesisir Jawa Tengah hingga Jawa Timur bagian selatan.

  8. Sumba – M8,9, berpotensi berdampak pada NTB dan NTT.

  9. Nias-Simeulue – M8,7, meliputi pesisir Sumatra Utara dan Kepulauan Aceh.

  10. Sulawesi Utara – M8,5, berada di perairan Gorontalo dan Sulawesi Utara.

  11. Palung Cotabato (Filipina) – M8,3, dengan potensi dampak di wilayah perbatasan utara, terutama Kepulauan Talaud.

  12. Filipina Selatan (Filipina) – M8,2.

  13. Filipina Tengah (Filipina) – M8,1.

  14. Batu – M7,8, dengan kawasan terdampak Kepulauan Batu dan sekitarnya di Sumatra Utara.

Tiga Segmen Jadi Perhatian Khusus

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan perhatian khusus terhadap tiga segmen megathrust, yakni Mentawai-Siberut, Selat Sunda, dan Sumba.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, seluruh segmen megathrust pada dasarnya memiliki potensi menghasilkan gempa besar.

Namun, beberapa wilayah mendapat pemantauan lebih intensif karena sudah lama tidak mengalami pelepasan energi tektonik dalam skala besar.

"Segmen Mentawai-Siberut itu sudah lama tidak terjadi gempa besar. Begitu pula segmen di Selat Sunda yang masuk ke dalam bagian Jawa bagian barat. Oleh karena itu, tiga segmen ini yang terus kami monitor intensif," ujar Wijayanto.

Pakar dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono menjelaskan, perhatian terhadap Mentawai-Siberut dan Selat Sunda berkaitan dengan fenomena seismic gap.

Istilah tersebut merujuk pada wilayah yang memiliki potensi gempa tinggi tetapi dalam catatan sejarah belum mengalami pelepasan energi besar sebagaimana yang diperkirakan.

Meski demikian, Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak panik. Seismic gap merupakan kalkulasi potensi dalam jangka panjang, bukan prediksi bahwa gempa besar akan segera terjadi.

"Secara ilmiah harus dibedakan dengan tegas antara kawasan yang 'memiliki kapasitas menghasilkan gempa besar' dan 'akan segera mengalami gempa besar'," kata Daryono.

Para ahli menggunakan berbagai parameter untuk menghitung potensi gempa, mulai dari luas bidang kontak subduksi, kecepatan pergerakan antarlempeng, tingkat penguncian bidang kontak, hingga slip deficit.

Analisis juga didukung data paleosismologi, GPS/GNSS, aktivitas gempa, serta pemodelan magnitudo maksimum.

Pemutakhiran peta tersebut diharapkan menjadi dasar penguatan mitigasi bencana, termasuk penataan ruang berbasis risiko, peningkatan standar bangunan tahan gempa, dan edukasi masyarakat di wilayah pesisir.

"Bertambahnya jumlah segmen dalam pemetaan peta terbaru bukan berarti bumi tiba-tiba memiliki lebih banyak megathrust. Hal ini menandakan bahwa proses pemetaan sumber gempa di Indonesia kini menjadi jauh lebih detail, akurat, dan berbasis ilmiah," pungkas Daryono.(*/him)

Editor : Abdul Rochim
megathrust Indonesia seismic gap Peta Gempa 2024 bmkg gempa bumi