Anak Krakatau Erupsi, Bisa Picu Megathrust. Ini Penjelasannya

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 08:39 WIB
Peta Zona Megathrust
Peta Zona Megathrust

RADARPATI.JAWAPOS.COM - Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan peningkatan aktivitas vulkanik signifikan setelah mengalami episode erupsi menerus selama kurang lebih 25 jam sejak Jumat (4/9/2026) hingga Minggu (6/9/2026).

Rangkaian letusan tersebut sempat memicu kekhawatiran publik terkait potensi dampaknya terhadap zona rawan gempa tektonik megathrust di kawasan Selat Sunda.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengonfirmasi bahwa pasca-erupsi menerus tersebut, karakter letusan kini kembali didominasi oleh hembusan tipe Strombolian.

Berdasarkan pengamatan instrumental pada periode 6 hingga 7 September 2026, teramati lontaran kolom erupsi berwarna hitam pekat dengan ketinggian maksimum mencapai 300 meter di atas puncak gunung.

Dalam laporan berkala PVMBG, terekam berbagai dinamika kegempaan yang mengindikasikan tingginya aktivitas magma di dalam perut gunung. Tercatat terjadi 3 kali gempa erupsi, 9 kali gempa hembusan, 93 kali gempa frekuensi rendah (low frequency), serta 98 kali gempa hybrid atau fase banyak.

"Meskipun episode erupsi menerus telah usai dan kini kembali ke pola Strombolian, dinamika vulkanik di dalam Gunung Anak Krakatau dinilai masih cukup tinggi. Potensi terjadinya letusan susulan dalam waktu dekat masih sangat terbuka," rilis PVMBG dalam keterangannya.

Tekanan Lokal Tak Sanggup Geser Sesar Tektonik

Menjawab keresahan masyarakat mengenai potensi erupsi Anak Krakatau yang dikaitkan dengan ancaman gempa megathrust, pakar kebencanaan dari Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, menegaskan bahwa fenomena vulkanik dan tektonik memiliki mekanisme fisik yang jauh berbeda.

Menurut Daryono, energi yang dihasilkan dari aktivitas vulkanik gunung api tidak memiliki daya rusak yang cukup besar untuk memicu patahan tektonik berskala raksasa.

“Gempa vulkanik pada dasarnya tidak memiliki akumulasi energi yang cukup untuk memacu terjadinya gempa tektonik utama. Hal ini disebabkan oleh jangkauan tekanannya yang hanya bersifat lokal di sekitar kantong magma dan tubuh gunung,” ujar Daryono, Senin (7/9/2026).

Namun, Daryono menambahkan bahwa mekanisme pemicu (triggering mechanism) ini bertindak secara satu arah. Apabila gempa tektonik berskala besar yang justru terjadi terlebih dahulu di Zona Megathrust Selat Sunda atau Transisi Subduksi Sumatra-Jawa, guncangan hebat tersebut berpotensi memengaruhi aktivitas Gunung Anak Krakatau.

"Jika gempa tektonik kuat terjadi saat gunung api berada dalam status aktif dan kantong magmanya terisi penuh, guncangan tersebut sanggup meretakkan atau membongkar sumbatan magma serta memicu pelepasan gas secara mendadak. Namun sekali lagi, ini bekerja satu arah. Erupsi Gunung Anak Krakatau tidak akan mampu memicu runtuhnya sesar tektonik megathrust," paparnya.

Imbauan Waspada dan Radius Aman 3 Kilometer

Saat ini, PVMBG masih mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga). Potensi bahaya utama yang diwaspadai mencakup lontaran material batu pijar, hujan abu lebat, awan panas, hingga potensi aliran lava jika kembali terjadi erupsi menerus.

Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan, otoritas terkait mengimbau masyarakat, wisatawan, serta pelaku pelayaran untuk tidak beraktivitas di dalam radius aman 3 kilometer dari kawah aktif.

Selain itu, PVMBG memastikan bahwa aktivitas letusan yang berlangsung saat ini tidak berpotensi menimbulkan gelombang tsunami. Masyarakat pesisir di Banten dan Lampung diminta untuk tetap tenang, tidak terpengaruh oleh isu-isu hoaks yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, serta selalu memantau kanal informasi resmi pemerintah. (*)

Editor : Zakarias Fariury
zona megathrust sesar aktif anak krakatau bmkg megathrust