Gus Kikin, dari Pelaut hingga Menakhodai PBNU 2026-2031

Abdul Rochim • Dipublikasikan Rabu, 2 September 2026 | 14:59 WIB
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih menjadi ketua PBNU. (DOK. Ist)
KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin terpilih menjadi ketua PBNU. (DOK. Ist)

JOMBANG, RADARPATI.JAWAPOS.COM – Perjalanan KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin menuju kursi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tidak berlangsung singkat.

Sebelum dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng dan tokoh Nahdlatul Ulama (NU), ia pernah menjalani kehidupan sebagai pelaut hingga berkecimpung di dunia bisnis.

Kini, perjalanan panjang tersebut mengantarkannya menjadi Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031.

Gus Kikin ditetapkan melalui musyawarah sembilan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Senin (31/8/2026).

Gus Kikin lahir di Jombang pada 17 Agustus 1958 sekitar pukul 10.00. Ia merupakan putra almarhum KH Mahfudz Anwar dan Nyai Hj Abidah Ma'shum.

Dari garis ibu, nasab Gus Kikin bersambung kepada Nyai Hj Khoiriyah Hasyim, putri sulung Hadratussyekh KH M Hasyim Asy'ari.

Sementara dari jalur ayah, nasabnya bersambung kepada KH Anwar bin Alwi, pendiri Pondok Pesantren Tarbiyatul Nasyi'in Paculgowang, Jombang.

Sejak kecil, Gus Kikin tumbuh dalam lingkungan pesantren. Ia dibesarkan di Pondok Pesantren Sunan Ampel Jombang dan sejak dini telah akrab dengan pendidikan agama.

Pendidikan formalnya ditempuh di Jombang. Ia bersekolah di MI Parimono, kemudian SMPN 1 Jombang, hingga SMPP yang kini menjadi SMAN 2 Jombang.

Namun, selepas menyelesaikan pendidikan menengah, Gus Kikin memilih jalur yang cukup berbeda dari kebanyakan anak kiai. Ia melanjutkan pendidikan ke akademi pelayaran.

Pernah Berlayar Hampir Tiga Tahun

Pendidikan pelayaran tersebut diselesaikannya hingga memperoleh ijazah No Limitation. Sertifikat itu memungkinkan pemegangnya menjalankan kapal tanpa batasan tertentu.

Gus Kikin kemudian benar-benar terjun ke dunia pelayaran. Ia mengaku sempat berlayar selama sekitar dua tahun sepuluh bulan ketika masih lajang.

“Artinya bisa menjalankan kapal tanpa ada batasan. Sempat berlayar juga sekitar 2 tahun 10 bulan, selama masih bujang,” kenangnya saat berbincang dengan Jawa Pos Radar Jombang pada 2023 lalu.

Pengalaman di laut kemudian membawanya memasuki dunia korporasi. Gus Kikin bergabung dengan perusahaan pelayaran Djakarta Lloyd.

Kariernya berkembang hingga ia dipercaya menduduki posisi kepala kantor. Namun, setelah beberapa waktu bekerja di perusahaan, ia memilih keluar dan mulai membangun bisnis sendiri.

“Saat itu memang intuisi mencari market, mencari profit mulai berkembang, hingga punya kegiatan sampingan,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, bisnis Gus Kikin terus berkembang. Ia kemudian memiliki sejumlah perusahaan yang bergerak di berbagai bidang, termasuk televisi dan perusahaan pengeboran minyak.

Meski kesibukannya sebagai pengasuh pesantren dan tokoh NU semakin padat, sejumlah aktivitas bisnis tersebut masih berjalan.

“Bisnis sampai hari ini masih berjalan, meskipun memang keterlibatan secara langsung sudah jauh berkurang,” katanya.

Dipersiapkan Menggantikan Gus Sholah

Perjalanan Gus Kikin kemudian kembali semakin dekat dengan dunia pesantren.

Pada 2016, ia ditunjuk untuk dipersiapkan sebagai penerus almarhum KH Salahuddin Wahid atau Gus Sholah dalam mengelola Pondok Pesantren Tebuireng.

Sejak saat itu, Gus Kikin diminta tinggal di ndalem kasepuhan. Ia perlahan mengambil peran lebih besar dalam pengelolaan salah satu pesantren bersejarah tersebut.

Ketika Gus Sholah wafat pada 2020, Gus Kikin kemudian melanjutkan kepemimpinan Tebuireng.

Pengalaman dari dunia usaha dan manajemen perusahaan ikut dibawanya dalam mengembangkan pesantren.

Namun, Gus Kikin menegaskan bahwa modernisasi Tebuireng tidak boleh menghilangkan karakter utama pesantren.

Menurutnya, sistem pengelolaan pesantren dapat mengikuti perkembangan zaman, tetapi tradisi keilmuan salaf harus tetap menjadi pijakan.

“Kalau kita modernisasi, basic dari pesantren tidak boleh dihilangkan yaitu ilmu salaf,” tegasnya.

Pengalaman mengelola pesantren sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Gus Kikin.

Sebelum dipercaya meneruskan kepemimpinan Tebuireng, ia telah lama terlibat dalam penataan Pondok Pesantren Seblak yang lokasinya tidak jauh dari Tebuireng.

“Penataan pesantren bukan hal baru, sebelum ini sudah terbiasa. Kegiatan-kegiatan pondok sudah saya jalani sejak lama,” ungkapnya.

Menjaga Warisan KH Hasyim Asy'ari

Bagi Gus Kikin, modernisasi pesantren harus berjalan beriringan dengan upaya menjaga warisan para pendahulu.

Ia menilai masih banyak karya dan pemikiran KH M Hasyim Asy'ari yang belum sepenuhnya dikaji dan diaktualisasikan.

“Banyak tulisan dari KH Hasyim Asy'ari yang begitu mendalam dari keilmuan agama, dan masih banyak yang belum dikupas. Peninggalan-peninggalan itu kita tetap coba aktualisasikan,” katanya.

Dari Tebuireng, kiprah Gus Kikin kemudian berkembang ke organisasi NU. Ia dipercaya memimpin Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur periode 2024-2029.

Posisi tersebut menjadi salah satu tahapan penting sebelum namanya masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-35 NU.

472 Suara, Bukan Penentu Langsung

Dalam proses penjaringan calon Ketua Umum PBNU, Gus Kikin memperoleh dukungan terbanyak. Dari total 2.397 suara yang masuk, ia mendapatkan 472 suara.

Namun, angka tersebut bukan hasil pemilihan langsung Ketua Umum PBNU.

Perolehan suara tersebut merupakan tahap penjaringan yang dilakukan peserta muktamar untuk menentukan lima nama yang memenuhi syarat masuk ke tahapan berikutnya.

Lima nama kemudian diajukan kepada Rais Aam terpilih untuk mendapatkan izin tertulis sebelum diputuskan melalui mekanisme AHWA.

Tahapan akhir berlangsung Senin (31/8) pagi. Sembilan anggota AHWA berkumpul di Dalem Kasepuhan, kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Rapat berlangsung sekitar pukul 06.20 hingga 07.00 WIB. Musyawarah diawali dengan pembacaan Ummul Quran dan ditutup dengan doa.

Salah satu anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, mengatakan musyawarah tersebut merupakan pelaksanaan mandat Muktamar ke-35 NU untuk memilih dan menetapkan Ketua Umum PBNU.

Setelah membahas lima nama calon yang telah dinyatakan memenuhi persyaratan, sembilan anggota AHWA akhirnya mencapai mufakat.

“Anggota AHWA secara mufakat memutuskan memilih KH Abdul Hakim atau Gus Kikin,” ujar Anwar Iskandar.

Dengan keputusan tersebut, Gus Kikin resmi menjadi Ketua Umum PBNU masa khidmat 2026-2031.

Perjalanan itu membawa sosok yang pernah mengarungi lautan tersebut ke posisi tertinggi dalam kepemimpinan tanfidziyah PBNU.

Dari Jombang, ia tumbuh dalam lingkungan pesantren. Dari dunia pelayaran, ia memperoleh pengalaman hidup dan disiplin.

Dari perusahaan dan bisnis, ia mendapat pengalaman manajerial. Sedangkan dari Tebuireng dan NU, ia menemukan ruang pengabdian yang semakin luas.

Kini seluruh pengalaman tersebut berpadu dalam satu amanah baru: menakhodai PBNU periode 2026-2031.

Gus Kikin tidak hanya meneruskan estafet kepemimpinan di Tebuireng, tetapi juga membawa warisan keilmuan keluarga dan KH M Hasyim Asy'ari ke panggung NU tingkat nasional. (him)

Editor : Abdul Rochim
Muktamar ke-35 NU Gus Kikin KH Abdul Hakim Mahfudz Ketum PBNU 2026-2031 profil Gus Kikin