PATI – Aliansi Masyarakat Pati Bersatu (AMPB) mematangkan persiapan keberangkatan massa ke Jakarta untuk mengikuti aksi di depan Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026).
Sedikitnya lima bus dan dua kendaraan pribadi disiapkan untuk mengangkut peserta dari Pati.
Keberangkatan massa dilakukan secara bertahap. Rombongan awal AMPB yang berjumlah 12 orang lebih dahulu bertolak dari Pati menggunakan dua kendaraan pribadi pada Kamis (20/8).
Mereka membawa sejumlah logistik, di antaranya beras dan mi instan untuk kebutuhan selama berada di Jakarta.
Baca Juga: AMPB Pati Kembali Bergerak ke Jakarta, Desak RUU Perampasan Aset Segera Disahkan
Rombongan tersebut tiba di sekitar Gedung DPR RI pada Jumat (21/8), kemudian kembali ke Pati pada Sabtu (22/8) malam karena masih memiliki agenda yang tidak dapat ditinggalkan.
Gelombang berikutnya berangkat pada Minggu (23/8) malam.
Koordinator AMPB, Supriyono alias Botok, bersama Teguh bertolak menggunakan bus putih berkapasitas 28 kursi dari kawasan Kaliampo, Desa Wangunrejo, Kecamatan Margorejo.
Sementara rombongan utama dijadwalkan berangkat pada Rabu (26/8) dan ditargetkan tiba di Jakarta pada Kamis pagi untuk mengikuti aksi.
Tokoh AMPB, Sutikno alias Paijan Jawi, mengatakan keberangkatan tersebut merupakan bentuk penyampaian aspirasi masyarakat.
Mereka membawa dua tuntutan utama, yakni mendesak DPR segera mengesahkan RUU Perampasan Aset serta menerapkan hukuman mati bagi koruptor.
“AMPB membawa tuntutan dari masyarakat Indonesia, dua tuntutan itu ya: rampas aset koruptor dan hukum mati koruptor, segera disahkan bulan ini,” tegas Paijan Jawi di Pati, Selasa (25/8).
Persiapan armada terlihat di halaman Pendapa Kabupaten Pati, Selasa (25/8). Dua bus telah disiagakan untuk mengangkut massa.
Salah satu bus berwarna hitam dipasangi spanduk putih bertuliskan “Rampas Aset Koruptor” dan “Hukum Mati Koruptor”, disertai desakan “Segera Sahkan RUU”.
Di bagian depan bus juga terdapat replika keranda jenazah yang ditutupi kain putih dengan tulisan “Hukum Mati Koruptor”.
Bus lainnya berwarna putih dipasangi spanduk bertuliskan “Aliansi Rakyat Indonesia Bersatu”.
Perwakilan AMPB, Novi Andriyanta, mengatakan total armada yang disiapkan untuk gelombang keberangkatan berikutnya mencapai empat bus.
Masing-masing bus memiliki kapasitas sekitar 50 penumpang.
“Masing-masing bus 50 kursi,” kata Novi.
Dua bus lainnya disebut telah disiapkan dan seluruh armada ditargetkan berangkat dari Pati pada Rabu (26/8).
Sebelumnya, dua bus yang sudah berada di Pati sempat diparkir di depan Kantor Bupati Pati.
Armada kemudian dipindahkan ke halaman Pendapa untuk menghindari kepadatan lalu lintas sekaligus memberikan ruang bagi kegiatan masyarakat lainnya.
Novi menjelaskan, panitia juga menerapkan klausul kontrak lebih ketat dalam penyewaan armada.
Penyedia bus diwajibkan membayar ganti rugi hingga tiga kali lipat apabila melakukan pembatalan secara sepihak.
Kebijakan tersebut diterapkan setelah salah satu perusahaan otobus (PO) membatalkan pesanan meski telah menerima uang muka.
“Sebelumnya, PO lain yang sudah kami beri uang muka Rp 3 juta melakukan pembatalan secara sepihak. Ini karena alasan mendapat intimidasi dari pihak berwenang. Kini, dua bus pertama sudah kami lunasi penuh sebesar Rp 6 juta dengan kontrak yang mengikat,” jelas Novi.
AMPB menyebut sekitar 100 warga telah mendaftarkan diri untuk mengikuti aksi di Jakarta.
Jumlah armada masih berpotensi bertambah apabila peserta dan dukungan donasi meningkat.
Panitia mengimbau peserta dari Pati dan sekitarnya berkumpul sesuai jadwal serta membawa kartu identitas resmi. Setelah aksi selesai, massa dijadwalkan kembali ke Pati.
Peserta juga diminta menjaga ketertiban dan tidak melakukan tindakan anarkistis maupun perusakan selama mengikuti aksi.
“Jangan anarkis, jangan merusak. Yang penting kita sudah datang,” ujarnya. (*/him)
Editor : Abdul Rochim