RADARPATI.JAWAPOS.COM– Perkembangan teknologi robot humanoid kembali mencuri perhatian. Robot buatan Tiongkok berhasil mencatat waktu spektakuler dalam ajang World Humanoid Robot Games di Beijing.
Robot humanoid Tien Kung Ultra yang dikembangkan Beijing Innovation Center of Humanoid Robotics Co. mencatat waktu 9,32 detik pada babak penyisihan lari 100 meter, Sabtu (22/8).
Catatan tersebut hanya terpaut tipis dari rekor dunia manusia milik pelari Jamaika, Usain Bolt, yang membukukan waktu 9,58 detik pada Kejuaraan Dunia Atletik 2009 di Berlin.
Baca Juga: JAECOO J5 EV Andalkan Baterai LFP dan 17 Fitur ADAS untuk Perkuat Keselamatan
Namun, capaian robot tersebut tidak dapat dibandingkan secara langsung sebagai rekor atletik manusia karena keduanya berada dalam kategori kompetisi dan regulasi yang berbeda.
Yang menarik, Tien Kung Ultra juga mengalami insiden setelah menyelesaikan perlombaan.
Robot tersebut menabrak matras yang disiapkan untuk memperlambat laju setelah garis finis hingga kemudian terbakar.
Lari 400 Meter Juga Catat Waktu Fantastis
Tien Kung Ultra kembali menunjukkan kemampuan mengesankan pada final nomor 400 meter, Minggu (23/8).
Robot tersebut mampu menyelesaikan perlombaan dengan waktu 38,15 detik.
Catatan itu lebih cepat daripada rekor dunia manusia 400 meter milik atlet Afrika Selatan, Wayde van Niekerk, yang mencatat 43,03 detik pada Olimpiade Rio de Janeiro 2016.
Capaian tersebut menunjukkan perkembangan kemampuan robot humanoid dalam mengendalikan gerakan, menjaga keseimbangan, serta menghasilkan kecepatan tinggi.
Meski demikian, kompetisi robot memiliki karakteristik berbeda dengan olahraga manusia.
Faktor seperti desain mekanis, sumber daya, sistem kendali, hingga aturan perlombaan turut memengaruhi performa robot.
Diikuti Ribuan Robot
World Humanoid Robot Games berlangsung selama lima hari dan diikuti lebih dari 2.000 robot humanoid dari 660 tim yang berasal dari 16 negara.
Jumlah tersebut meningkat tajam dibandingkan penyelenggaraan perdana di Beijing pada Agustus tahun lalu yang hanya diikuti 280 tim.
Sekitar 90 persen peserta tahun ini berasal dari Tiongkok. Sejumlah negara lain seperti Brasil, Jerman, Amerika Serikat dan Jepang juga ambil bagian.
Kompetisi tidak hanya mempertandingkan lari. Robot humanoid juga beradu kemampuan dalam sepak bola, tinju, tenis meja, angkat beban hingga tarik tambang.
Jepang turut berpartisipasi melalui GMO Internet Group. Robot yang digunakan perusahaan tersebut dikembangkan Unitree Robotics asal Tiongkok.
Namun, performanya belum mampu menjadi yang terbaik.
Dalam salah satu nomor lari, robot tersebut mencatat waktu lebih dari 1 menit 55 detik sebelum akhirnya terjatuh dan harus dievakuasi menggunakan tandu.
Senior Research Engineer GMO, Shota Takizawa, mengatakan perusahaan tidak secara khusus mengembangkan robot untuk kebutuhan perlombaan.
Menurut dia, pengalaman dari kompetisi justru diharapkan dapat memberikan pengetahuan yang berguna untuk pengembangan robot dengan fungsi praktis pada masa mendatang.
Robot Mulai Diuji untuk Kehidupan Nyata
World Humanoid Robot Games digelar di National Speed Skating Oval, salah satu venue yang digunakan dalam Olimpiade Musim Dingin Beijing 2022.
Selain olahraga, ajang tersebut menghadirkan kompetisi berbasis skenario yang dirancang untuk menguji kemampuan robot dalam berbagai aktivitas kehidupan nyata.
Robot diuji dalam simulasi pekerjaan di sektor ritel, katering hingga layanan perkantoran. Konsep tersebut menunjukkan bahwa kompetisi tidak semata-mata ditujukan untuk mencari robot tercepat atau terkuat.
Pengembangan robot humanoid kini juga diarahkan agar mesin mampu beradaptasi dengan lingkungan manusia dan menjalankan berbagai pekerjaan secara lebih mandiri.
Perkembangan serupa sebelumnya terlihat dalam ajang half marathon robot humanoid di Beijing pada April 2026.
Robot pemenang mencatat waktu 50 menit 26 detik, yang juga lebih cepat daripada rekor dunia manusia untuk nomor half marathon.
Rangkaian kompetisi tersebut memperlihatkan bahwa robot humanoid tidak lagi sekadar menjadi teknologi demonstrasi.
Kemampuan berjalan, berlari, menjaga keseimbangan dan melakukan pekerjaan tertentu terus dikembangkan menuju penerapan yang lebih luas di dunia nyata. (*/him)