WASPADA! Peta Zona Megathrust RI Berubah, Pakar Jepang Tunjuk Titik Rawan Gempa

Zakarias Fariury • Dipublikasikan Selasa, 18 Agustus 2026 | 11:23 WIB
Ilustrasi gempa (Foto: Getty Images/iStockphoto/Petrovich9)
Ilustrasi gempa (Foto: Getty Images/iStockphoto/Petrovich9)

RADARPATI.JAWAPOS.COM - Risiko gempa bumi berskala besar di Indonesia kembali menjadi sorotan publik dan kalangan ahli menyusul diluncurkannya pembaruan Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024.

Peta mutakhir tersebut mencatat lonjakan jumlah zona megathrust menjadi 14 titik dengan kontur bahaya yang terlihat kian rapat di sejumlah wilayah tanah air.

Baca Juga: Terungkap, Ini Kata BMKG Penyebab Gempa NTT M 7,7 Picu Tsunami

Kondisi geologi Indonesia ini turut menarik perhatian pakar geofisika dari Hokkaido University, Profesor Kosuke Heki. Saat menjadi peneliti tamu di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Heki menyebut karakter zona subduksi di Indonesia memiliki kemiripan dengan Nankai Trough di Jepang.

Heki menekankan pentingnya pemantauan deformasi kerak bumi jangka panjang menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) dan teknologi geodesi dasar laut untuk membaca akumulasi tegangan tektonik. Ia juga menyoroti fenomena slow slip event (pergeseran lambat) yang kerap mendahului gempa besar.

"Kami melihat adanya kopling antar-seismik yang saling mengunci hampir di sepanjang sumbu palung. Fenomena slow slip event ini telah diamati berulang kali di Nankai Trough dan bisa saja memicu gempa besar berikutnya," kata Heki.

Baca Juga: Daftar Sejumlah Gempa Susulan Masih Terjadi di NTT

Potensi Magnitudo Maksimum Zona Megathrust

Berdasarkan pembaruan data Peta Sumber dan Bahaya Gempa Indonesia 2024, berikut rincian potensi magnitudo maksimum di beberapa zona megathrust utama:

Megathrust Aceh-Andaman: Potensi magnitudo maksimum hingga M 9,2.

Megathrust Jawa: Potensi magnitudo maksimum hingga M 9,1.

Megathrust Mentawai-Siberut: Potensi magnitudo maksimum hingga M 8,9.

Megathrust Mentawai-Pagai: Potensi magnitudo maksimum hingga M 8,9.

Megathrust Enggano: Potensi magnitudo maksimum hingga M 8,9.

Kondisi Seismic Gap di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara khusus memberikan perhatian pada dua zona megathrust yang saat ini berada dalam kondisi seismic gap—yakni wilayah yang sudah ratusan tahun tidak mengalami gempa besar—yaitu Selat Sunda (sejak 1757) dan Mentawai-Siberut (sejak 1797).

BMKG mengimbau masyarakat agar tidak salah mengartikan istilah "menunggu waktu" terkait kedua zona tersebut. BMKG menegaskan bahwa istilah tersebut mengacu pada besarnya akumulasi energi tektonik yang masih tersimpan, dan bukan merupakan prediksi bahwa gempa akan terjadi dalam waktu dekat. (*)

Editor : Admin
zona megathrust sesar aktif pakar jepang gempa megathrust megathrust