RADARPATI.JAWAPOS.COM - Bencana gempa bumi magnitudo 7,7 yang memicu guncangan kuat di Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026) dipicu oleh aktivitas sesar naik busur belakang Flores (Flores back-arc thrust). Para ahli gempa mengingatkan potensi bahaya gempa susulan yang dapat memicu segmen sesar berdekatan.
Pakar gempa bumi sekaligus Guru Besar Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Irwan Meilano, menjelaskan bahwa struktur geologi di utara NTT tersebut tergolong sangat aktif.
Baca Juga: WASPADA! BMKG Catat 1.598 Gempa Susulan di NTT
Wilayah ini memiliki riwayat kegempaan signifikan, seperti gempa magnitudo 6,6 pada 2009 serta deretan gempa kuat di utara Lombok pada 2018.
Berdasarkan kajian Pusat Studi Gempa Nasional (Pusgen), kawasan sesar Flores masih menyimpan potensi akumulasi energi yang belum terlepaskan secara penuh.
"Masih ada bagian segmen yang sebetulnya belum menghasilkan gempa. Sangat mungkin—meski tentu tidak kita harapkan—gempa utama ini memicu bagian segmen yang berdekatan," ungkap Irwan, Minggu (16/8/2026).
Ancaman Gempa Susulan Bermagnitudo Besar
Secara karakteristik geofisika, tren frekuensi dan magnitudo gempa susulan pascagempa utama umumnya akan menurun secara bertahap. Namun, publik diminta tidak melonggarkan kewaspadaan, mengingat rentetan gempa susulan berkekuatan sedang hingga besar tetap menyimpan daya rusak tinggi.
Baca Juga: Catat 1.598 Gempa Susulan di NTT, Terbesar 6,2 Magnitudo
"Mungkin gempanya banyak dan semakin lama semakin mengecil. Namun masih ada kemungkinan, walaupun kecil, gempa susulan di atas magnitudo 6,0 yang tetap bisa memberikan dampak kerusakan signifikan," ia menegaskan.
Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau untuk terus mengantisipasi potensi runtuhan bangunan akibat getaran susulan serta mematuhi arahan resmi dari BMKG dan BPBD setempat. (*)