RADARPATI.JAWAPOS.COM – Istilah Desil 10 dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) belakangan ramai diperbincangkan masyarakat.
Banyak warga mengaku kaget setelah mengecek status kesejahteraan keluarganya dan mendapati masuk kelompok Desil 10.
Padahal, sebagian dari mereka merasa kondisi ekonomi rumah tangganya masih pas-pasan dan penghasilan bulanan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Baca Juga: Cara Cek Bansos BPNT Tahap III 2026, Bantuan Rp 600 Ribu Mulai Disalurkan Bertahap
Kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan, mengapa keluarga yang merasa tidak kaya bisa masuk Desil 10?
Apa Itu Desil 1 sampai 10?
Dalam DTSEN, masyarakat Indonesia dikelompokkan ke dalam 10 desil berdasarkan tingkat kesejahteraan sosial ekonomi.
Setiap desil secara sederhana merepresentasikan 10 persen kelompok penduduk berdasarkan peringkat kesejahteraan. Semakin kecil angka desil, semakin rendah posisi kesejahteraannya. Sebaliknya, semakin besar angka desil, semakin tinggi posisi relatif kesejahteraannya.
Secara umum, pembagian tersebut terdiri dari:
- Desil 1: 10 persen kelompok dengan tingkat kesejahteraan paling rendah.
- Desil 2-4: Kelompok masyarakat lapisan bawah hingga hampir miskin yang menjadi sasaran utama sejumlah program bantuan.
- Desil 5: Kelompok masyarakat menengah-bawah.
- Desil 6-8: Kelompok masyarakat menengah hingga relatif sejahtera.
- Desil 9-10: Kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif tinggi hingga paling tinggi dalam pemeringkatan nasional.
Dengan demikian, Desil 10 tidak otomatis berarti seseorang merupakan konglomerat atau orang superkaya.
Mengapa Penghasilan Pas-pasan Bisa Masuk Desil 10?
Ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi posisi desil sebuah keluarga.
1. Penilaian Berdasarkan Kondisi Rumah Tangga
Penetapan desil tidak hanya melihat penghasilan satu orang.
Kondisi sosial ekonomi anggota keluarga dalam satu Kartu Keluarga (KK) turut menjadi bagian dari penilaian.
Karena itu, seseorang dengan penghasilan kecil tetap dapat berada pada desil tinggi apabila kondisi anggota keluarga lainnya memiliki pekerjaan, usaha, aset atau indikator kesejahteraan yang lebih tinggi.
2. Tidak Hanya Menggunakan Besaran Gaji
Penilaian kesejahteraan juga mempertimbangkan berbagai indikator sosial ekonomi.
Beberapa di antaranya meliputi kondisi bangunan rumah, jenis lantai, dinding dan atap, luas tempat tinggal, fasilitas sanitasi, sumber air, penggunaan listrik, kepemilikan kendaraan maupun aset lainnya.
Pendidikan dan pekerjaan anggota keluarga juga menjadi bagian dari indikator yang diperhitungkan.
Artinya, gaji bulanan bukan satu-satunya faktor yang menentukan posisi desil.
3. Desil Merupakan Pemeringkatan Relatif
Hal penting lainnya, desil merupakan pemeringkatan relatif.
Desil 10 berarti rumah tangga tersebut berada dalam kelompok 10 persen dengan posisi kesejahteraan relatif paling tinggi dalam pemeringkatan yang digunakan.
Karena jumlah konglomerat atau orang dengan kekayaan luar biasa sangat sedikit dibandingkan keseluruhan populasi, kelompok Desil 10 dapat mencakup rumah tangga dengan kondisi ekonomi yang cukup beragam.
Karena itu, seseorang yang merasa dirinya hanya kelas menengah belum tentu berada di desil yang sama dengan persepsinya sendiri.
Bagaimana Cara Cek Desil DTSEN?
Masyarakat yang ingin mengetahui posisi desil keluarganya dapat melakukan pengecekan melalui laman resmi yang disediakan pemerintah.
Langkahnya antara lain:
- Membuka laman dtsen-form.bps.go.id.
- Memasukkan NIK sesuai identitas yang diminta.
- Mengisi kode verifikasi atau captcha.
- Menekan tombol Periksa.
- Sistem kemudian menampilkan informasi sosial ekonomi beserta tingkat desil.
Jika data yang muncul dinilai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, masyarakat dapat menempuh mekanisme pemutakhiran data melalui Musyawarah Desa/Kelurahan (Musdes/Muskel) atau menggunakan mekanisme Usul-Sanggah pada aplikasi resmi Cek Bansos Kemensos.
Jadi, warga yang mendapati dirinya masuk Desil 10 tidak perlu langsung menyimpulkan bahwa pemerintah menganggapnya sebagai orang kaya raya.
Desil lebih tepat dipahami sebagai posisi relatif kesejahteraan rumah tangga dalam pemeringkatan, bukan ukuran tunggal yang menunjukkan besarnya penghasilan atau kekayaan seseorang. (*/him)