Kuli Bangunan Asal Kudus Ini Raih MUI Award 2026, Karya Tahkik Kitabnya Diakui Dunia

Andika Trisna Saputra • Dipublikasikan Senin, 3 Agustus 2026 | 19:08 WIB


TUNJUKKAN: Mbah Riyan menunjukkan dan membacakan hasil karyanya yang berada di kediamannya. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)

TUNJUKKAN: Mbah Riyan menunjukkan dan membacakan hasil karyanya yang berada di kediamannya. (ANDIKA TRISNA SAPUTRA/RADAR PATI)

KUDUS – Kesederhanaan tak menghalangi prestasi. Supriyanto atau yang akrab disapa Mbah Riyan, warga Desa Wates, Kabupaten Kudus, berhasil meraih MUI Award 2026.

Penghargaan ini berkategori Karya Tulis Islam berkat kiprahnya sebagai pentahkik (peneliti dan penyunting naskah) kitab klasik yang karyanya telah diakui hingga tingkat nasional dan internasional.

Penghargaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) tersebut ditetapkan pada Juli 2026.

Baca Juga: Mendikdasmen Mu'ti Kirim 5,5 Juta Buku Bacaan Bermutu ke Seluruh Sekolah di Indonesia dari Kudus

Mbah Riyan diundang menghadiri malam penganugerahan di Jakarta, namun memilih tidak hadir dan tetap menjalani kehidupan sederhana di kampung halamannya.

"Saya malah tidak tahu. Tiba-tiba dikabari dan ditelepon sampai enam atau tujuh kali dari pihak MUI. Terima kasih sudah diundang, tetapi mohon maaf saya tidak bisa hadir," tuturnya.

Sejak kembali ke Kudus pada 2018, lulusan Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab (LIPIA) Jakarta itu memang sengaja menjauh dari sorotan publik.

Ia memilih meninggalkan media sosial dan hanya menggunakan WhatsApp untuk keperluan penting, seperti komunikasi dengan rekan atau pihak yang membutuhkan jasanya dalam mentahkik kitab.

Di balik penghargaan bergengsi tersebut, keseharian Mbah Riyan jauh dari kesan mewah. Pria kelahiran 1986 itu menghidupi istri dan empat anaknya dengan bekerja sebagai buruh angkut beras, kuli bangunan, pekerja gudang ekspedisi, hingga berbagai pekerjaan serabutan lainnya.

Meski demikian, aktivitas fisik tersebut tidak mengurangi semangatnya meneliti manuskrip kitab klasik.

Di sela-sela bekerja, ia tetap membandingkan berbagai naskah kuno, memperbaiki kesalahan penyalinan, menelusuri sumber kutipan, hingga menyuntingnya agar layak diterbitkan.

Menurutnya, proses tahkik bukan sekadar menyalin tulisan, melainkan pekerjaan ilmiah yang membutuhkan ketelitian tinggi untuk memastikan isi kitab sesuai dengan naskah asli penulis.

"Kalau ada manuskrip yang belum pernah diterbitkan, kami tulis ulang, diberi tanda baca, dibandingkan dengan manuskrip lain, termasuk jika ada perbedaan redaksi dijelaskan semuanya," jelasnya.

Perjalanan intelektual Mbah Riyan dimulai saat menempuh pendidikan di LIPIA Jakarta pada 2005 hingga lulus pada 2013.

Selama kuliah, ia telah berkeluarga dan harus membagi waktu antara belajar, bekerja, serta mengurus keluarga.

"Saya waktu kuliah sudah menikah. Siang jualan donat, malam jualan kebab. Dari situ saya belajar membagi waktu antara kuliah, bekerja, dan keluarga," kenangnya.

Kecintaannya terhadap manuskrip lama membawanya menemukan banyak karya ulama Nusantara yang belum pernah diterbitkan secara ilmiah. Hal itu mendorongnya fokus melakukan tahkik terhadap kitab-kitab karya ulama Indonesia, kemudian mengunggah hasilnya ke arsip digital agar dapat diakses masyarakat luas.

Beberapa hasil tahkiknya, seperti Aqwal Mulhaqod, Farhul Mubin, hingga Taufiq al-Jali, bahkan diterbitkan oleh penerbit di Indonesia maupun Mesir.

Dalam berkarya, ia menggunakan nama pena Ibnu Harjo Al-Jawi sebagai bentuk penghormatan kepada sang kakek yang bekerja sebagai penggembala kambing.

Meski kini namanya dikenal luas, Mbah Riyan mengaku tidak bercita-cita menjadi tokoh publik.

Baginya, menjaga kelestarian manuskrip ulama Nusantara agar tetap dapat dipelajari generasi mendatang jauh lebih penting dibanding popularitas.

Kesederhanaan itu juga dibenarkan sahabat masa kecilnya, Ropiq. Menurutnya, Mbah Riyan tidak pernah berubah meski telah menerima penghargaan nasional.

"Dia orangnya sederhana, kerja seperti masyarakat biasa. Kami sering mancing bersama. Banyak tamu dari luar daerah datang hanya untuk bersilaturahmi dan berdiskusi dengannya," ujarnya.  (dik)

Editor : Abdul Rochim
Mbah Riyan MUI Award 2026 tahkik kitab manuskrip ulama Nusantara kudus