JAKARTA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) mendesak Presiden RI Prabowo Subianto menyampaikan permintaan maaf setelah menyebut wartawan dan jurnalis sebagai bagian dari "londo ireng" dalam pidatonya pada peringatan Hari Lahir (Harlah) ke-28 PKB.
Sekretaris Jenderal AJI Bayu Wardhana menilai pernyataan tersebut tidak berdasar dan berpotensi mendiskreditkan profesi jurnalis yang bekerja menjalankan fungsi mencari, mengolah, dan menyampaikan informasi kepada publik.
"Presiden harus minta maaf karena menuduh jurnalis londo ireng," ujar Bayu, Jumat (24/7).
Baca Juga: Gerindra Kudus Tegaskan Siap Kawal Program Presiden Prabowo
Menurutnya, kritik terhadap media seharusnya disampaikan secara proporsional dan tidak menggeneralisasi profesi jurnalis. Ia berharap pemerintah lebih memusatkan perhatian pada penyelesaian berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.
"Kami berharap pemerintah kembali fokus bekerja karena masih banyak pekerjaan lain yang ditunggu rakyat," tegasnya.
Sebelumnya, dalam sambutannya di Harlah ke-28 PKB di Jakarta Convention Center (JCC), Kamis (23/7) malam, Presiden Prabowo mengkritik pihak-pihak yang dinilainya masih memiliki karakter seperti "londo ireng", istilah yang pada masa kolonial Belanda digunakan untuk menyebut pribumi yang dianggap berpihak kepada penjajah.
Dalam pidatonya, Prabowo menyebut sosok-sosok tersebut kini hadir dalam berbagai profesi, termasuk wartawan, jurnalis, pengamat, dan lembaga swadaya masyarakat (LSM).
"Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM," kata Prabowo.
Pernyataan tersebut memicu respons dari AJI yang meminta Presiden memberikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf atas penyebutan profesi jurnalis dalam konteks tersebut. (*/him)