BANDUNG BARAT – Tiga warga Kampung Ciparang, RT 04/RW 07, Desa Cipatat, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat, tewas akibat ledakan mortir pada Rabu (8/7/2026).
Ketiga korban diduga membawa mortir yang ditemukan di sekitar area latihan militer sebelum akhirnya meledak saat diotak-atik di rumah salah seorang korban.
Korban yang meninggal dunia masing-masing bernama Ade (21), Suhri (40), dan Rodiana (40).
Dua korban meninggal di lokasi kejadian, sedangkan satu korban lainnya sempat menjalani perawatan sebelum akhirnya meninggal dunia akibat luka berat.
Baca Juga: Profil Rudi Margono, Plt Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah, Pernah Bertugas di KPK
Kapolres Cimahi AKBP Niko N. Adi Putra mengatakan berdasarkan hasil penyelidikan awal, mortir tersebut diduga dipungut dari kawasan sekitar Pusat Pendidikan Infanteri (Pusdikif) TNI di Cipatat.
"Mortir itu dibawa ke rumah korban dan diduga diotak-atik. Di lokasi ditemukan sejumlah peralatan yang biasa digunakan korban saat membongkar selongsong peluru bekas," ujar Niko.
Menurutnya, warga sekitar memang kerap memungut selongsong peluru maupun proyektil bekas latihan militer untuk dijual kembali.
Namun, mortir bekas latihan tidak pernah diperbolehkan diambil karena masih berpotensi membahayakan.
Sementara itu, Kepala Departemen Teknis Pusdikif, Letkol Inf. Sunarya, mengatakan pihaknya masih menyelidiki asal-usul mortir yang meledak tersebut.
Ia belum dapat memastikan apakah mortir itu berasal dari latihan Pusdikif atau kesatuan lain yang menggunakan lokasi latihan di kawasan tersebut.
Sunarya menjelaskan setiap latihan militer selalu diawali dengan pemberitahuan kepada masyarakat melalui sirene sejak pagi hari.
Selain itu, apabila ditemukan amunisi yang gagal meledak, latihan akan dihentikan untuk dilakukan prosedur disposal atau peledakan oleh petugas.
"Kalau ada amunisi yang tidak meledak, kegiatan langsung dihentikan dan kami lakukan disposal. Terakhir kami memusnahkan 36 butir amunisi yang gagal meledak pada 22 Juni lalu," katanya.
Ia juga menegaskan masyarakat telah berulang kali diingatkan agar tidak memasuki area latihan maupun mengambil selongsong dan amunisi bekas karena sangat berbahaya.
Kapolsek Cipatat Kompol D.M.S. Andriani Sapin mengatakan lokasi kejadian telah dipasangi garis polisi, sedangkan penyelidikan lebih lanjut dilakukan bersama Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri dan Tim Penjinak Bom (Jibom).
"Kami mengimbau masyarakat agar tidak lagi memungut amunisi maupun selongsong bekas latihan TNI. Jika masih ada yang menyimpan, segera serahkan kepada pihak berwenang agar tidak menimbulkan korban jiwa," ujarnya.
Seorang saksi mata, Damet (43), mengaku mendengar suara ledakan keras sebelum menemukan ketiga korban dalam kondisi terluka parah dan bersimbah darah.
Menurutnya, ketiga korban memang sering memungut selongsong peluru bekas latihan, meski sehari-hari berprofesi sebagai petani.
Ia menduga korban tengah membongkar mortir menggunakan palu dan pahat ketika ledakan terjadi.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat akan bahaya membawa maupun mengutak-atik amunisi sisa latihan militer.
Aparat mengimbau masyarakat tidak memasuki area latihan TNI dan segera melapor apabila menemukan benda yang diduga merupakan amunisi aktif. (*/him)
Editor : Abdul Rochim