Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Hantavirus: Kewaspadaan Baru di Balik Demam Akut dan Paparan Tikus

Abdul Rochim • Selasa, 12 Mei 2026 | 10:57 WIB
Hantavirus. (Ilustrasi)
Hantavirus. (Ilustrasi)

OLEH: Mulyadi Subarjo*

DEMAM, pegal, mual, lalu tampak seperti flu biasa. Namun beberapa hari kemudian, pasien mendadak mengalami sesak berat, syok, gagal ginjal, bahkan kematian.

Kondisi inilah yang membuat hantavirus kembali menjadi perhatian dunia sebagai emerging infectious disease atau penyakit infeksi yang muncul kembali dan berpotensi menimbulkan ancaman kesehatan serius.

Baca Juga: WHO Laporkan Klaster Hantavirus di Kapal Pesiar MV Hondius, Tiga Orang Meninggal

Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai laporan kasus, investigasi wabah, hingga surat kewaspadaan kesehatan internasional kembali menyoroti penyakit ini.

Bahkan, Kementerian Kesehatan RI pada Mei 2026 menerbitkan surat kewaspadaan nasional terkait virus hanta setelah muncul laporan kasus Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) pada penumpang kapal pesiar internasional MV Hondius.

Perubahan iklim, urbanisasi, mobilitas manusia, perubahan ekosistem, serta semakin dekatnya interaksi manusia dengan hewan reservoir membuat berbagai penyakit zoonotik kembali mendapat perhatian dunia.

Banyak penyakit yang dahulu dianggap jarang kini mulai muncul kembali atau lebih mudah terdeteksi berkat meningkatnya kewaspadaan dan sistem surveilans kesehatan.

Masyarakat mungkin masih asing dengan hantavirus. Bahkan, tidak sedikit tenaga kesehatan yang belum pernah menemukan kasus terkonfirmasi secara langsung.

Justru di situlah tantangannya. Hantavirus sering tersembunyi di balik diagnosis penyakit lain yang lebih umum seperti dengue, leptospirosis, pneumonia berat, atau sepsis.

Dalam praktik sehari-hari, pasien hantavirus bisa datang ke IGD hanya dengan keluhan demam, pegal, mual, dan lemas seperti infeksi virus ringan.

Namun dalam beberapa hari, kondisinya dapat memburuk cepat menjadi gagal napas, syok, hingga gagal multi organ. Karena itu, kewaspadaan klinis menjadi sangat penting.

Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan kelompok virus zoonotik, yakni virus yang berasal dari hewan dan dapat menular ke manusia.

Reservoir utamanya adalah rodensia seperti tikus dan celurut. 

Hewan yang terinfeksi biasanya tidak tampak sakit, tetapi dapat mengeluarkan virus melalui urin, feses, dan air liur.

Baca Juga: Kemenkes Pastikan Dua Suspek Hantavirus di Indonesia Negatif, Total 23 Kasus Positif Tercatat sejak 2024

Saat ekskreta tersebut mengering, partikel virus dapat beterbangan di udara ketika area dibersihkan dan masuk ke tubuh manusia melalui saluran pernapasan.

Karena itu, penularan hantavirus lebih sering berkaitan dengan paparan lingkungan yang terkontaminasi tikus dibanding penularan langsung antar manusia.

Secara klinis, hantavirus memiliki dua bentuk utama. Pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang dominan menyerang pembuluh darah dan ginjal. Gejalanya dapat berupa demam tinggi, nyeri kepala, trombosit turun, hipotensi, perdarahan, hingga gagal ginjal akut.

Kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome atau Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HPS/HCPS), yang lebih banyak menyerang paru dan sistem kardiovaskular.

Pada kondisi ini pasien dapat mengalami sesak progresif, edema paru, hipoksia berat, syok, hingga gagal napas dengan perburukan yang sangat cepat dalam 24–48 jam.

Mitos dan Fakta tentang Hantavirus
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa keberadaan tikus di rumah otomatis menyebabkan hantavirus.

Faktanya, risiko utama muncul ketika seseorang terpapar aerosol dari urin, feses, atau air liur tikus yang mengering di ruang tertutup.

Aktivitas seperti membersihkan gudang lama, loteng, bangunan kosong, atau area pascabanjir perlu dilakukan dengan hati-hati.

Ada pula anggapan bahwa hantavirus menular cepat antar manusia seperti COVID-19.

Faktanya, sebagian besar hantavirus tidak mudah menular antar manusia.

Penularan utama tetap berasal dari rodensia. Hanya beberapa jenis tertentu, seperti Andes virus di Amerika Selatan, yang pernah dilaporkan dapat menular melalui kontak erat berkepanjangan.

Mitos lain menyebut hantavirus hanya menyerang paru. Padahal, pada tipe HFRS, pasien justru dapat mengalami gangguan ginjal, trombositopenia, hipotensi, dan perdarahan.

Sebaliknya, pada HPS/HCPS gejala paru dan gagal napas lebih dominan.

Banyak orang juga mengira tanpa sesak berarti bukan hantavirus. Faktanya, fase awal penyakit sering menyerupai flu biasa, dengue, tifoid, atau leptospirosis.

Gejala berat baru muncul beberapa hari kemudian sehingga sering terlambat dikenali.

Selain itu, hasil laboratorium awal yang belum terlalu berat bukan berarti pasien aman.

Pada fase awal, perubahan laboratorium mungkin masih ringan sebelum berkembang menjadi gangguan berat beberapa hari kemudian.

Hantavirus di Indonesia
Anggapan bahwa hantavirus belum ada di Indonesia juga tidak sepenuhnya benar.

Berbagai penelitian menunjukkan keberadaan Seoul virus pada rodensia di Indonesia.

Penelitian serologi dan molekuler juga menemukan adanya paparan hantavirus di masyarakat.

Surat kewaspadaan Kementerian Kesehatan RI tahun 2026 bahkan menyebut adanya kasus konfirmasi HFRS di beberapa provinsi.

Meski laporan kasus masih terbatas, banyak ahli menduga penyakit ini sering tidak terdiagnosis karena gejalanya menyerupai penyakit lain yang lebih umum.

Pentingnya Pencegahan dan Kewaspadaan
Pencegahan hantavirus tidak cukup hanya dengan membasmi tikus. Cara membersihkan lingkungan juga sangat penting.

Menyapu kering atau menggunakan vacuum cleaner pada area penuh kotoran tikus justru dapat membuat partikel virus beterbangan dan terhirup.

Langkah yang dianjurkan adalah membuka ventilasi ruangan terlebih dahulu, menggunakan masker dan sarung tangan, menyemprotkan disinfektan, lalu membersihkan area secara basah.

Selain itu, akses masuk tikus perlu ditutup dan pengelolaan sampah harus diperbaiki.

Bagi tenaga kesehatan, hantavirus menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan klinis terhadap penyakit emerging.

Diagnosis perlu dipertimbangkan pada pasien dengan demam akut berat yang disertai trombositopenia, sesak progresif, gangguan ginjal akut, atau syok yang tidak sesuai pola penyakit umum.

Riwayat paparan lingkungan seperti membersihkan gudang, kontak dengan tikus, lingkungan pascabanjir, atau pekerjaan berisiko juga harus digali secara aktif.

Mengapa Hantavirus Penting Dibahas?
Hantavirus menjadi pengingat bahwa ancaman penyakit infeksi tidak selalu datang dari wabah besar yang langsung menarik perhatian dunia.

Banyak penyakit emerging justru hadir diam-diam dengan gejala yang menyerupai penyakit sehari-hari sehingga mudah terlewatkan.

Bagi masyarakat, pesan utamanya bukan rasa takut, melainkan kesadaran bahwa kesehatan manusia sangat berkaitan dengan lingkungan.

Kebersihan lingkungan, pengendalian rodensia, dan pemahaman terhadap risiko paparan menjadi bagian penting dalam pencegahan penyakit zoonotik.

Sementara bagi tenaga kesehatan dan pemerintah, hantavirus menegaskan pentingnya surveilans, kesiapsiagaan rumah sakit, penguatan laboratorium, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor melalui pendekatan One Health.

Pada akhirnya, hantavirus bukan sekadar tentang satu jenis infeksi.

Tetapi tentang bagaimana dunia kesehatan belajar menghadapi ancaman penyakit baru di masa depan dengan kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan kemampuan mengenali pola penyakit sebelum semuanya terlambat. 


*) Dokter Spesialis Paru dan Pernapasan RSUD dr. R. Soetrasno Rembang
Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Cabang Jawa Tengah

 

Editor : Abdul Rochim
#hantavirus #penyakit zoonotik #paparan tikus #HPS hantavirus #emerging infectious disease