Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

 Lapid dan Bennett Bersatu Hadapi Netanyahu di Pemilu Israel 2026

Abdul Rochim • Senin, 27 April 2026 | 09:33 WIB
PM Israel Benjamin Netanyahu. (JPR)
PM Israel Benjamin Netanyahu. (JPR)

RADARPATI - Pemimpin oposisi Israel Yair Lapid resmi mengumumkan akan bergabung dengan mantan Perdana Menteri Naftali Bennett dalam pemilihan umum parlemen Israel yang dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026.

Koalisi ini dibentuk dengan tujuan utama menggulingkan petahana Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang kembali maju dalam pemilu mendatang.

Melalui unggahan di platform X pada Minggu (26/4/2026), Lapid menyatakan bahwa partainya, Yesh Atid, akan bergabung dengan “Bennett 2026” menjadi satu daftar gabungan yang dipimpin oleh Bennett.

Baca Juga: Benjamin Netanyahu Ungkap Sempat Idap Kanker Prostat Stadium Awal, Kini Dinyatakan Pulih Total

“Langkah ini menghadirkan penyatuan Blok Perbaikan, sehingga seluruh upaya dapat difokuskan untuk membawa Israel menuju pemulihan yang dibutuhkan,” tulis Lapid.

Lapid dan Bennett dikenal sebagai pengkritik keras Netanyahu, terutama terkait kebijakan perang Israel sejak Oktober 2023 di Jalur Gaza Palestina.

Lapid bahkan menyebut gencatan senjata dua pekan dengan Iran baru-baru ini sebagai “bencana politik”.

Bennett yang berhaluan kanan dikenal sebagai pendukung lama permukiman Israel di Tepi Barat Palestina yang diduduki.

Sementara Lapid yang berada di jalur politik tengah, pernah membentuk pemerintahan koalisi bersama Bennett pada Juni 2021.

Namun pemerintahan tersebut runtuh pada akhir 2022 setelah Bennett menyatakan koalisi tidak lagi dapat dipertahankan.

Lapid kemudian sempat menjabat sebagai perdana menteri sementara sebelum digantikan oleh pemerintahan Netanyahu saat ini.

Sejumlah survei politik terbaru menunjukkan Bennett menjadi kandidat terkuat untuk menantang Netanyahu dalam pemilu Oktober nanti.

Bennett, 54 tahun, merupakan mantan perwira pasukan komando Israel sekaligus pengusaha teknologi yang pernah menjual perusahaan rintisannya senilai 145 juta dolar AS pada 2005. 

Ia juga pernah menjadi penasihat Netanyahu sebelum akhirnya menjadi rival politik utamanya.

Sementara Lapid, 62 tahun, merupakan mantan jurnalis televisi terkenal yang mendirikan Partai Yesh Atid pada 2012.

Partai tersebut kemudian berkembang menjadi kekuatan politik terbesar kedua di Israel.

Di sisi lain, Netanyahu yang kini berusia 76 tahun tetap bertekad memimpin partainya dalam pemilu.

Jika kembali menang, ia berpeluang menjadi pemimpin negara demokrasi dengan masa jabatan terlama, lebih dari 18 tahun dalam beberapa periode berbeda.

Kabar koalisi Bennett-Lapid ini juga muncul di tengah kondisi kesehatan Netanyahu yang baru mengungkap dirinya mengidap kanker prostat dan masih menjalani perawatan medis. 

Pada Desember 2024, Netanyahu diketahui menjalani operasi terkait pembesaran prostat setelah dokter menemukan tumor ganas berukuran kurang dari satu sentimeter.

Pemilu Israel 2026 diprediksi akan menjadi salah satu pertarungan politik paling panas dalam sejarah negara tersebut.


Editor : Abdul Rochim
#Benjamin Netanyahu #Yair Lapid #Naftali Bennett #Pemilu Israel 2026 #politik Israel