REMBANG — Peringatan Hari Kartini 2026 berlangsung berbeda dan lebih bermakna. Keluarga Raden Ajeng Kartini bersama sejumlah tokoh menginisiasi gerakan “Kartini Inklusi” yang ditutup dengan ziarah di makam RA Kartini di Desa Bulu, Kecamatan Bulu.
Kegiatan ziarah yang digelar sekitar pukul 14.28 itu turut dihadiri istri Wakil Presiden RI Selvi Ananda, keluarga keturunan Kartini seperti Gunadi, serta Ketua Yayasan Kartini Heritage, Joddy Mulyasetya.
Joddy menegaskan, peringatan Hari Kartini tidak hanya dimaknai sebagai simbol emansipasi perempuan, tetapi juga sebagai gagasan yang terus hidup dan relevan di setiap zaman.
Baca Juga: HADUH! Puluhan Siswa SD di Kragan Rembang Diduga Keracunan Susu MBG, 17 Dirawat Inap
Nilai perjuangan Kartini, menurutnya, harus tertanam sejak dini pada generasi muda.
“Tiap orang yang mendengar Kartini, harusnya langsung teringat keberanian, kebijaksanaan, perjuangan, dan empati,” ujarnya.
Tahun ini, konsep “Kartini Inklusi” diangkat untuk memberi perhatian lebih pada perempuan dengan kebutuhan khusus atau disabilitas.
Data menunjukkan jumlahnya mencapai lebih dari 22,9 juta jiwa di Indonesia, yang kerap menghadapi tantangan ganda sebagai perempuan sekaligus individu dengan keterbatasan.
Menurut Joddy, perempuan istimewa ini jarang mendapat ruang tampil, padahal memiliki potensi besar yang layak diangkat ke permukaan.
Karena itu, tema yang diusung menekankan kemandirian ekonomi dan kesempatan berkarya tanpa batas.
Program ini juga melibatkan kreator konten dan influencer Dara Sarasvati yang berperan sebagai penggerak kampanye.
Ia menyebut era digital membuka peluang luas bagi perempuan untuk berkembang, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan.
“Digitalisasi bisa jadi jalan bagi perempuan untuk lebih berdaya dan mandiri secara ekonomi, kapan pun dan di mana pun,” katanya.
Melalui gerakan ini, diharapkan semangat Kartini tidak hanya berhenti pada kesetaraan gender, tetapi juga mendorong inklusivitas dan pemberdayaan ekonomi bagi seluruh perempuan di Indonesia. (noe/him)