KUDUS – Siswa SMK NU Miftahul Falah Kudus, Muhammad Rafif Arsya Maulidi, yang sempat viral usai menulis surat kepada Presiden RI Prabowo Subianto terkait program makan bergizi gratis (MBG), hingga kini masih mendapatkan pendampingan dari Dinas Sosial P3AP2KB Kudus.
Pendampingan dilakukan untuk memastikan kondisi psikologis Arsya tetap aman setelah muncul dugaan intimidasi di media sosial.
Tim dari Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Dinsos P3AP2KB Kudus mendatangi rumah Arsya dan bertemu dengan ibunya, Yunita Ari Santi, yang juga didampingi perangkat Desa Bae, Kecamatan Bae. Saat kunjungan, Yunita bersikap terbuka dan kooperatif kepada petugas.
Berdasarkan informasi pihak sekolah, Arsya tidak masuk sekolah pada Senin (7/4/2026). Setelah dikonfirmasi kepada keluarga, diketahui tidak ada yang mengantar ke sekolah.
Baca Juga: Siswa SMK di Kudus Tulis Surat ke Presiden Tolak MBG, Usulkan Dana Dialihkan untuk Tunjangan Guru
Sejak tulisannya viral di media sosial dan muncul pesan intimidasi melalui Instagram, Arsya biasanya berangkat dan pulang sekolah bersama teman yang menjemputnya.
“Lha hari ini temannya tidak masuk sekolah dan ayahnya sudah berangkat kerja karena dikabari itu sudah pukul 06.50. Anaknya ya sudah siap berangkat. Jadi, pesan ayahnya, kalau tidak ada yang mengantar tidak usah berangkat sekolah,” ujar Yunita.
Saat petugas datang sekitar pukul 11.00, Arsya belum dapat ditemui karena sedang beristirahat. Yunita mengungkapkan, sejak adanya dugaan intimidasi, anaknya menjadi lebih was-was saat harus keluar rumah.
“Takut kalau terjadi seperti di berita yang lagi ramai aktivis yang tiba-tiba disiram air keras orang tak dikenal. Bayangannya Arsya seperti itu, entah tiba-tiba dipukul orang. Jadi, untuk kegiatannya saat ini off dulu,” jelasnya.
Menurut Yunita, Arsya dikenal sebagai anak aktif yang mengikuti organisasi IPNU dan memiliki minat besar di bidang fotografi.
Untuk sementara, kegiatan organisasi dan hobinya dihentikan hingga situasi dinilai kondusif.
Sejak kecil, Arsya juga telah menorehkan berbagai prestasi, termasuk lomba bahasa Jawa tingkat provinsi.
Hobi fotografinya juga berkembang hingga mendapat tawaran pekerjaan memotret, mulai dari kegiatan sekolah hingga acara pernikahan.
“Arsya anaknya memang kreatif dan idenya selalu ada. Saat Arsya ingin menulis surat itu sempat saya tahan dulu. Sudah ada keinginan menulis itu waktu puasa tapi saya cegah lebih dulu,” ungkap Yunita.
Ia juga menjelaskan, sejak program MBG diterapkan di sekolah, Arsya lebih sering membawa bekal sendiri karena kegiatan belajar berlangsung hingga sore.
Namun belakangan, bekal tersebut kerap tidak dihabiskan.
“Biasanya sehari bisa makan empat kali, akhir-akhir ini hanya tiga atau dua kali. Katanya tidak terlalu lapar dan kelihatannya nafsu makannya berkurang,” katanya.
Keluarga tetap memberikan dukungan penuh kepada Arsya.
Yunita menyebut anaknya terbiasa terbuka kepada orang tua mengenai apa yang dialaminya, termasuk saat memutuskan menulis surat yang kemudian viral di media sosial.
“Kami sudah memberikan gambaran ke Arsya, bakal ada risiko yang akan dituainya. Seperti komentar netizen dan itu terjadi sampai ada dugaan intimidasi,” ungkapnya.
Yunita juga menceritakan, pada Minggu (5/4/2026) sore, rumahnya sempat didatangi tiga pemuda. Salah satu di antaranya menyampaikan permintaan maaf atas komentar tidak pantas terhadap Arsya di media sosial.
“Satu orang laki-laki yang meminta maaf, dua orang hanya mengantar. Menurut pengakuannya merasa tidak terima karena menyangkut MBG,” katanya.
Ia menambahkan, ciri-ciri orang yang datang tersebut sesuai dengan tangkapan layar akun media sosial yang sebelumnya diduga mengintimidasi Arsya, yakni akun bernama Cilucil2 yang diketahui bekerja di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Setidaknya ada itikad baik meminta maaf. Karena anak saya juga tidak menyinggung SPPGnya mereka, anak saya hanya menyampaikan uneg-unegnya anggaran MBG agar bisa dialihkan untuk tunjangan kesejahteraan guru,” jelas Yunita.
Sementara itu, Kepala Bidang PPA Dinsos P3AP2KB Kudus, Yuni Saptorini, menyampaikan pihaknya terus memantau kondisi Arsya. Sebelumnya, pada Senin (6/4/2026), tim juga telah berkunjung ke sekolah dan bertemu langsung dengan Arsya serta kepala sekolah.
“Sebelumnya Senin pagi kami sudah ke sekolahan dan bertemu dengan kepala sekolah maupun Arsya sendiri. Dan Arsya bercerita bila kondisinya baik-baik saja. Dan kami ke rumahnya hari ini adalah untuk bertemu dengan orang tuanya,” ungkapnya.
Ia menegaskan kunjungan tersebut bertujuan memastikan tidak ada ancaman, tekanan, maupun gangguan yang dapat memengaruhi kondisi mental Arsya.
Pihaknya juga meminta keluarga segera melapor jika terdapat intimidasi atau bentuk gangguan lain.
Yuni menegaskan Dinsos siap memberikan pendampingan agar Arsya tetap merasa aman, nyaman, dan terlindungi. (san)
Editor : Abdul Rochim