NGADA- Tragedi memilukan baru saja terjadi di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada awal Februari 2026.
Seorang siswa kelas IV SD berinisial YBS (10) nekat mengakhiri hidupnya karena putus asa setelah tidak bisa membeli buku tulis dan pena.
Penyebab Utama korban sempat meminta uang kepada ibunya untuk membeli buku tulis dan pena yang harganya kurang dari Rp 10.000.
Namun sang ibu tidak mampu memberikannya karena kondisi ekonomi keluarga yang berada dalam kemiskinan ekstrem.
Surat Wasiat: Korban meninggalkan sebuah surat untuk ibunya sebelum kejadian tragis tersebut terjadi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) tengah melakukan penyelidikan mendalam terkait kasus ini.
DPR RI juga mendesak evaluasi terhadap sistem penyaluran bantuan pendidikan karena kasus ini dianggap sebagai "alarm keras" bagi negara.
Peristiwa ini terjadi di wilayah pedalaman Kabupaten Ngada, NTT.
Kejadian ini memicu gelombang simpati dan kecaman di media sosial.
Di mana masyarakat menyoroti kesenjangan ekonomi yang masih membuat kebutuhan sekolah dasar menjadi beban berat bagi sebagian keluarga di Indonesia.
Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan keprihatinan mendalam atas insiden tragis yang menimpa seorang anak di Nusa Tenggara Timur.
Peristiwa tersebut, menurutnya, menjadi alarm serius bagi semua pihak untuk memperkuat sistem perlindungan sosial, terutama bagi anak-anak yang hidup dalam kondisi rentan.
Saifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, menegaskan bahwa kasus tersebut tidak dipandang sebagai peristiwa terpisah, melainkan sebagai bagian dari persoalan sosial yang harus ditangani secara menyeluruh oleh pemerintah pusat dan daerah.
Kementerian Sosial, kata dia, akan memberi perhatian khusus agar kejadian serupa tidak terulang.
“Kami prihatin dan turut berduka. Ini menjadi atensi kita bersama, termasuk pemerintah daerah. Kita perlu memperkuat pendampingan sosial dan memastikan tidak ada keluarga miskin maupun miskin ekstrem yang luput dari perhatian negara,” ujar Gus Ipul saat ditemui di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/2).
Gus Ipul menyoroti pentingnya pembenahan dan penguatan basis data sosial sebagai fondasi utama kebijakan perlindungan masyarakat.
Menurutnya, data yang akurat dan menyeluruh akan menentukan efektivitas intervensi negara dalam menjangkau keluarga-keluarga yang benar-benar membutuhkan bantuan.
Ia menekankan bahwa Kementerian Sosial terus berupaya memastikan seluruh keluarga di kategori miskin ekstrem (desil-1) dan miskin (desil-2) terdata secara lengkap.
Dengan demikian, negara dapat hadir tepat sasaran melalui berbagai program bantuan sosial, rehabilitasi, hingga pemberdayaan ekonomi.
“Ini persoalan mendasar. Kuncinya kembali pada data. Data harus kita kelola sebaik mungkin agar semua keluarga yang memerlukan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan benar-benar bisa kita jangkau,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gus Ipul berharap sinergi antara pemerintah pusat dan daerah dapat diperkuat, khususnya dalam mendeteksi lebih dini kondisi sosial keluarga rentan.
Pendampingan berkelanjutan, menurutnya, menjadi elemen penting untuk mencegah munculnya tragedi kemanusiaan serupa di masa mendatang.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk tidak hanya merespons kasus setelah terjadi, tetapi juga membangun sistem perlindungan sosial yang lebih peka, inklusif, dan berkelanjutan. (him)
Editor : Abdul Rochim