Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Dokter Bongkar Penyebab Serangan Jantung yang Sering Dianggap Sepele Setiap Pagi

Alfian Dani • Minggu, 21 Desember 2025 | 15:05 WIB
Foto ilustrasi/eyeem/freepik/Young man using mobile phone while sitting at home.
Foto ilustrasi/eyeem/freepik/Young man using mobile phone while sitting at home.

JAKARTA – Serangan jantung masih menjadi ancaman kesehatan global. Seorang dokter mengungkapkan, hingga 90 persen kasus serangan jantung dipicu oleh satu kebiasaan pagi yang sering disepelekan, yakni kurang bergerak setelah bangun tidur.

Dokter umum yang aktif mengedukasi masyarakat melalui media sosial, Dr Sana Sadoxai, menjelaskan bahwa risiko serangan jantung justru mulai meningkat sejak seseorang terbangun dari tidur, namun memilih tetap pasif.

“Masalahnya dimulai saat bangun tidur lalu tidak melakukan apa-apa,” ujar Dr Sadoxai, seperti dikutip dari Mirror UK.

Ia menyoroti kebiasaan banyak orang yang langsung duduk lama, memainkan ponsel, atau terburu-buru berangkat kerja tanpa aktivitas fisik sama sekali.

Rutinitas tersebut membuat tubuh minim gerak dan memicu peradangan dalam tubuh.

Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mempercepat terjadinya resistensi insulin, penumpukan lemak di perut, tekanan darah tinggi, gangguan metabolisme, hingga peradangan kronis.

Kombinasi faktor tersebut secara signifikan meningkatkan risiko serangan jantung, terutama pada individu dengan kelebihan berat badan.

Padahal, Dr Sadoxai menegaskan, risiko itu bisa ditekan hanya dengan melakukan aktivitas ringan selama 5–7 menit di pagi hari.

Kegiatan sederhana seperti peregangan, jalan cepat, atau latihan pernapasan dinilai mampu melancarkan aliran darah, mengaktifkan metabolisme, menstabilkan gula darah, dan menjaga kesehatan jantung.

“Berat badan, metabolisme, dan kesehatan jantung saling berkaitan. Mengabaikan kebiasaan pagi ini bisa menjadi ancaman tersembunyi. Mengubahnya dapat menyelamatkan nyawa,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan, gejala seperti mudah lelah, sesak napas, lemak perut yang sulit berkurang, diabetes, hingga obesitas bisa menjadi sinyal awal gangguan metabolisme yang tidak boleh diabaikan.

Baca Juga: MANTAB! SPPG Ngawen di Blora Konsisten Sajikan Daging Sapi pada Menu MBG Tiap Pekan

Sementara itu, menurut NHS, serangan jantung terjadi akibat terhambatnya aliran darah ke otot jantung, umumnya karena gumpalan darah.

Gejala yang sering muncul antara lain nyeri dada, sesak napas, keringat dingin, mual, pusing, hingga nyeri yang menjalar ke lengan atau rahang.

Untuk menurunkan risiko, masyarakat dianjurkan berhenti merokok, menjaga pola makan sehat, mempertahankan berat badan ideal, dan rutin berolahraga minimal 150 menit per minggu. (ade)

 

Editor : Alfian Dani
#gaya hidup sehat #serangan jantung #kesehatan jantung #cegah penyakit