RADAR PATI - Ada nuansa berbeda yang terasa dalam pameran tunggal seniman asal Blora, Punky Adi Sulistyo.
Ia memilih menjauh dari pakem melukis pada umumnya. Tak ada kanvas, tak pula cat akrilik atau minyak. Media yang dipilih justru kertas serta aneka barang bekas.
oleh: EKO SANTOSO, Blora
Baca Juga: Dana Transfer Tersendat: Ribuan PPPK di Blora Belum Gajian, Pegawai Bilang Begini
DERETAN karya yang dipamerkan di Gedung Blora Creative Space (BCS) sepanjang 6–12 Desember lalu tampak menyimpang dari kebiasaan.
Lukisan-lukisan itu dibuat di atas kertas, sebagian besar dari wallpaper bekas. Warna-warnanya pun bukan berasal dari cat pabrikan, melainkan dari angkak.
Tak hanya lukisan, sejumlah instalasi dan patung dari barang rongsokan turut mengisi ruang pamer.
Inilah konsep utama pameran tunggal Punky Adi Sulistyo, perupa Blora yang gemar bereksperimen dengan medium tak lazim.
Dalam pameran tersebut, Punky menampilkan sekitar 50 karya yang ia hasilkan sepanjang 2025 dengan tema yang beragam.
Baginya, pameran tunggal ibarat memperkenalkan sesuatu yang baru lahir kepada publik.
“Rasanya seperti menunjukkan anak yang baru lahir ke orang lain. Ada kebahagiaan tersendiri,” ujarnya.
Tak satu pun karyanya menggunakan kanvas sebagaimana lukisan konvensional. Pilihannya jatuh pada kertas bekas hingga material sisa yang sudah memiliki “riwayat”.
“Kebanyakan dari wallpaper bekas. Patung dan instalasinya juga dari barang bekas,” tuturnya.
Menurut Punky, ketergantungan pada media konvensional justru bisa membatasi proses berkarya.
Ia menilai, jika seniman terlalu terpaku pada aturan, kreativitas justru terhambat.
“Kalau harus selalu kanvas, harus beli ini dan itu, akhirnya malah nggak jadi berkarya. Barang bekas itu justru punya nilai dan cerita,” ungkapnya.
Ia meyakini, benda-benda yang pernah digunakan menyimpan jejak sejarah yang dapat diterjemahkan ulang melalui karya seni.
Sesuatu yang, menurutnya, tidak dimiliki oleh media baru seperti kanvas.
“Kalau pakai kanvas baru, ceritanya apa? Kan hanya media kosong,” katanya.
Keunikan lain terletak pada pilihan bahan pewarna.
Punky menggunakan angkak bahan alami yang dahulu lazim dipakai perajin mebel sebagai pengganti cat.
“Awalnya saya kira ini kekeliruan,” katanya sambil tertawa.
Namun saat dicampur dengan air dan bahan lain, angkak justru menghasilkan tekstur dan nuansa warna yang tak terduga.
Dari proses coba-coba itulah, karakter visual karya-karyanya terbentuk.
“Hampir semua warna dari angkak. Ini pewarna lama yang dulu sering dipakai,” jelasnya.
Ia bahkan menciptakan warna merah dengan mencampurkan angkak dan yodium obat luka.
Campuran tersebut kemudian diencerkan dengan air untuk mendapatkan efek yang diinginkan.
“Yang merah ini dari angkak dan yodium,” ujarnya sambil menunjuk salah satu karya.
Eksperimen Punky tak berhenti di lukisan. Ia juga memajang patung kayu yang dibiarkan polos tanpa pelitur atau pernis.
“Ini iseng, tapi bagian dari kreativitas saya. Kayu biasanya selalu dipernis, saya ingin keluar dari kebiasaan itu,” katanya.
Salah satu instalasi yang mencuri perhatian adalah simbol bintang merah. Meski kerap dikaitkan dengan ideologi tertentu, Punky menegaskan maknanya berbeda.
“Itu bukan simbol sosialisme. Saya memaknainya sebagai lintang kemukus,” jelasnya.
Baginya, lintang kemukus adalah simbol masa kecil tanda akan terjadinya sesuatu. Sebuah penanda zaman.
“Sebagai perupa, saya berharap karya saya juga bisa menjadi penanda,” pungkasnya. (*/lin)
Editor : Abdul Rochim