DALAM beberapa hari terakhir, muncul narasi yang cenderung menstigma hubungan antara kiai dan santri di pesantren sebagai bentuk feodalisme keagamaan.
Istilah “feodal” digunakan untuk menggambarkan kiai sebagai figur yang berkuasa mutlak, sementara santri dianggap sekadar pengikut yang tunduk tanpa daya.
Framing ini kerap diulang dalam ruang publik seolah menjadi kritik sosial yang modern dan progresif.
Baca Juga: Pengabdian Santri yang Melampaui Teori Motivasi Maslow
Padahal, tuduhan tersebut tidak hanya tidak tepat secara konseptual, tetapi juga menunjukkan kegagalan memahami nalar spiritual dan epistemologi pendidikan pesantren.
Relasi kiai–santri bukanlah hubungan kekuasaan, melainkan hubungan keilmuan dan pembentukan adab yang telah menjadi inti tradisi pesantren selama berabad-abad.
Pertama, relasi kiai–santri berakar pada transmisi ilmu, bukan kekuasaan. Feodalisme tumbuh dari sistem kepemilikan tanah dan dominasi ekonomi, sedangkan hubungan kiai–santri berlandaskan ilmu dan keikhlasan.
Kiai dihormati karena ilmunya, bukan karena kekuasaan. Santri menghormati bukan karena takut, tetapi karena kesadaran bahwa ilmu memerlukan kerendahan hati.
Sebagaimana ditegaskan Imam al-Ghazali, ilmu tidak akan bermanfaat tanpa penghormatan kepada guru.
Kedua, adab kepada kiai adalah etika spiritual, bukan tanda perbudakan. Dalam tradisi pesantren, adab adalah bagian dari jalan spiritual.
Mencium tangan kiai, berbicara sopan, dan menjaga tata krama bukan bentuk ketundukan sosial, melainkan latihan pengendalian diri dan kebeningan hati.
Banyak pengamat sekuler gagal memahami bahwa adab adalah fondasi epistemologis ilmu; tanpa adab, ilmu kehilangan ruhnya.
Ketiga, hubungan kiai–santri bersifat dialogis, bukan monologis. Dalam forum bahtsul masail, halaqah, dan munazharah, santri diajarkan berpikir kritis dan berargumentasi.
Kritik terhadap kiai bukan tabu, tetapi harus disertai dalil dan etika. Di sinilah pesantren mengajarkan kebebasan berpikir yang beradab — bukan kebebasan yang liar tanpa akhlak.
Keempat, kehidupan pesantren justru sangat egaliter. Kiai dan santri hidup dalam kesederhanaan yang sama, makan bersama, dan berbagi pekerjaan.
Tidak ada jarak sosial seperti dalam sistem feodal. Kiai bukan penguasa yang memerintah, melainkan teladan yang membimbing. Hierarki di pesantren bersifat moral, bukan sosial: siapa yang paling beradab, dialah yang paling mulia.
Kelima, hubungan kiai–santri berlandaskan tujuan transendental. Feodalisme adalah sistem duniawi yang mempertahankan kekuasaan, sementara pesantren membina ruhani. Kiai sebagai murabbi mendidik jiwa santri agar mencapai kematangan spiritual.
Pengabdian santri kepada kiai adalah latihan keikhlasan dan khidmah, bukan eksploitasi. Ini jalan untuk membersihkan ego dan menundukkan hawa nafsu.
Baca Juga: Aliansi Santri di Kudus Undang Tokoh hingga Pejabat Rumuskan Perbup Pesantren, Begini Isi Rekomendasinya!
Miskonsepsi tentang feodalisme pesantren lahir dari nalar sekuler yang menilai semua hubungan manusia dengan ukuran kekuasaan.
Padahal pesantren beroperasi dalam nalar spiritual yang menempatkan ilmu sebagai cahaya, bukan alat dominasi. Penghormatan kepada guru adalah cara menjaga kesucian ilmu agar tidak ternodai oleh kesombongan.
Penutup: Pesantren bukan sistem kekuasaan, tetapi sistem kemanusiaan. Relasi kiai–santri adalah fondasi peradaban adab dan ilmu di Nusantara.
Dalam dunia modern yang sering kehilangan arah moral, tradisi penghormatan di pesantren justru menjadi oase yang menumbuhkan kesantunan dan kebijaksanaan.
Hormat kepada guru bukan tanda perbudakan, melainkan jalan menuju kebebasan sejati. (*)
Supriyono, S.Pd.I, M.M
Alumni Pondok Pesantren Hidayatut Thullab Petuk Kediri
Editor : Abdul Rochim