Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Demo Ojol Besok, Ribuan Pengemudi Ojek Online Siap Kepung Jakarta

Alfian Dani • Rabu, 17 September 2025 | 06:52 WIB
Para pengemudi ojek online (ojol) beriringan mengantarkan ambulans berisi jenazah rekan mereka, Affan Kurniawan menuju pemakaman di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (29/8/2025)
Para pengemudi ojek online (ojol) beriringan mengantarkan ambulans berisi jenazah rekan mereka, Affan Kurniawan menuju pemakaman di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Jumat (29/8/2025)


JAKARTA – Hari Perhubungan Nasional yang jatuh pada Rabu, 17 September 2025, diprediksi akan berlangsung panas.

Alih-alih sekadar seremoni, momentum ini akan diwarnai aksi besar-besaran ribuan pengemudi ojek online yang tergabung dalam Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia bersama aliansi mahasiswa.

Ketua Umum Garda Indonesia, Raden Igun Wicaksono, menyebut sedikitnya 2.000 hingga 5.000 pengemudi ojol roda dua, driver roda empat, hingga kurir online siap turun ke jalan.

Aksi akan dimulai dari markas Garda di Jalan Kodam Raya, Kemayoran, sebelum bergerak ke Istana Negara, Kementerian Perhubungan, dan berakhir di DPR RI.

“Besok, sebagian besar transportasi online akan mematikan aplikasi sebagai bentuk solidaritas aksi. Kami imbau warga Jakarta mencari alternatif transportasi lain,” tegas Igun.

Menteri Dituding Jadi Juru Bicara Aplikator

Igun menilai, kepemimpinan Menteri Perhubungan Dudy Purwaghandi justru memperburuk nasib pengemudi. Alih-alih berpihak pada rakyat, Dudy dianggap menjadi corong perusahaan aplikasi transportasi online.

Menurut Garda, telah terjadi fenomena vendor driven policy – kebijakan yang seolah dirancang berdasarkan kepentingan aplikator, bukan kebutuhan mitra pengemudi.

“Kementerian Perhubungan sudah kehilangan arah. Menteri lebih berperan layaknya pengusaha ketimbang pejabat negara,” kata Igun.

Tujuh Tuntutan untuk Presiden dan DPR

Dalam aksi ini, Garda membawa tujuh tuntutan strategis:

  1. Mendesak RUU Transportasi Online masuk Prolegnas 2025–2026.
  2. Menetapkan batas maksimal potongan aplikator 10 persen.
  3. Menerapkan regulasi tarif pengantaran barang dan makanan.
  4. Melakukan audit investigatif potongan tambahan 5 persen yang diambil aplikator.
  5. Menghapus program Aceng, Slot, Multi Order, Member Berbayar, dan skema lain yang dianggap merugikan driver.
  6. Menuntut Presiden mencopot Menteri Perhubungan.
  7. Mendesak Kapolri mengusut tragedi 28 Agustus yang menewaskan Affan Kurniawan, pengemudi ojol.

Baca Juga: iOS 26 Resmi Meluncur 15 September: Tampilan Liquid Glass, AI Canggih, hingga Fitur Terjemahan Real-Time

Solidaritas yang Meluas

Aksi Garda tidak berdiri sendiri. Sejumlah komunitas ojol, aliansi pengemudi independen, hingga mahasiswa dari BEM UI dan jaringan kampus lain memastikan ikut serta.

Mobilisasi massa diperkirakan akan membuat transportasi online di Jakarta lumpuh sementara waktu.

Dengan konsentrasi massa di tiga titik strategis, demonstrasi ini berpotensi menjadi salah satu aksi ojol terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Bagi para pengemudi, inilah panggung untuk menegaskan: mereka bukan sekadar roda penggerak ekonomi digital, melainkan manusia yang menuntut keadilan.

Editor : Alfian Dani
#demo ojol #jakarta #aksi ojol #transportasi online #Keadilan Ojol #hari perhubungan nasional