KELING, RADARPATI.ID - Kopi yang menjadi komoditas Desa Tempur, telah merambah pasar internasional.
Namun petani setempat kepontal menembus pasar ekspor secara mandiri.
Sekretaris Desa Tempur, Mahfudz Aly menyampaikan selama musim panen setiap tahun mulai dari Juli, Agustus, September hasilnya selalu melimpah.
"Survei terakhir tahun 2020 waktu masa panen raya mencapai 500-600 ton. Bahkan harga untuk saat ini menyentuh yang tertinggi yakni Rp 75 ribu per kilo green bean," ungkapnya Senin (16/9).
Kendati demikian, karena kendala dan keterbatasan permodalan.
Pasar sudah dikuasai tengkulak lokal, sehingga permintaan ekspor kurang terpenuhi.
"Permintaan ekspor kebanyakan dari Amerika. Tapi biasanya setor ke tengkulak lokal atau daerah Yogyakarta dulu baru diekspor. Belum bisa secara mandiri," jelasnya.
Seperti yang diketahui, 85 persen petani kopi dari setidaknya 1223 kartu keluarga, sebanyak 80 persen hasil panen dijual ke tengkulak langsung.
20 persen sisanya disimpan dan diproses menjadi bubuk kopi untuk dijual.
Menurutnya sistem tumpangsari yang bersandingan dengan porang, merica dan buah-buahan, menjadi faktor Kopi Tempur banyak diminati oleh khalayak.
"Ditambah dengan ditanam di tengah bekas kawah Pegunungan Muria Purba, Kopi Tempur mempunyai ciri khas lebih mantap dari kopi lain pada umumnya. Sehingga peminatnya sekarang semakin banyak," ujarnya.
Jenis Kopi Tempur terbanyak ialah robusta yang mencapai 70 persen, 30 persen sisanya arabika.
"Petani di sini mulai menanam kopi arabika dari tahun 2016, sebelum itu hanya robusta," ucapnya.
Pihaknya berharap agar petani bisa lebih merdeka dalam memanen kopi, terlebih proses hingga petik merah.
Sementara itu pengusaha kopi lokal juga bisa diproses mandiri tanpa lewat tengkulak.
Untuk diekspor sendiri maupun dijual dalam kemasan.
"Kebanyakan masih petik asalan, campur atau petik hijau (green bean, Red). Padahal untuk menghasilkan kualitas yang lebih baik ya petik merah. Perbandingannya petik merah bisa mencapai Rp 120 ribu per kilogram sementara green bean Rp 75 per kilogram," tuturnya.
Salah satu petani asal Dukuh Karang Rejo, Ahmadi, 46, menyampaikan pohon kopi menjadi lebih rimbun buahnya jika berani dalam pemupukan dan penyiraman.
"Kalau itu harus pasang pipa panjang dari sumber air. Serta pupuk di sini harganya juga lumayan, satu karung bisa mencapai Rp 250-300 ribu," tanggapnya.
Sebagai alternatif untuk meningkatkan produksi pohon, Ahmadi mencoba menyambung (kloning) dengan pohon kopi jenis lain.
"Sama-sama kopi lokal, cara ini diharapkan dapat membuat buah menjadi lebat," tutupnya.(fik)
Editor : Abdul Rochim