Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Kampung Gus Baha Digagas Sentra Budidaya Maggot Di Rembang, Seperti Apa?

Wisnu Aji • Minggu, 1 September 2024 | 15:06 WIB
SINERGI: Pemdes Narukan foto bersama mahasiswa UGM. Satu sisi hambaran pengembangan TPS 3R yang dikelola desa Narukan, Kragan. PEMDES NARUKAN UNTUK RADAR PATI
SINERGI: Pemdes Narukan foto bersama mahasiswa UGM. Satu sisi hambaran pengembangan TPS 3R yang dikelola desa Narukan, Kragan. PEMDES NARUKAN UNTUK RADAR PATI

KOTA, RADARPATI.ID – Kultur pesantren mengakar kuat di desa Narukan, Kecamatan Kragan.

Potensi daerah yang ada dioptimalkan.

Dibawah kepemimpinan, Muhammad Umar Faruq, adik sepupuKH Ahmad Bahauddin Nursalim (Gus Baha) dan Zaimum Umam Nur Salim (Gus Umam) pembangunan desa dikembangkan.

Awal menjabat Gus Faruq konsen pembuatan jalan lingkar.

Ada tempat singgah atau penginapan-penginapan.

Untuk menunjang aktifitas pemuda setempat agar mandiri.

Terbaru digagas sentra budidaya maggot.

Untuk diketahui disana cenderung mayoritas warganya dagang atau penginapan.

Narukan memiliki sekira 1800 penduduk ada pondok.

Pengelolaan sampah sudah mulai berjalan.

Saat ini konsen fokus TPA.

Ini sekaligus budayakan buang sampah pada tempatnya.

Tidak dipungkiri sebagian masih ada yanag buang sampah di sungai dan mana-mana.

”Jika dari Pemdes melarang tentu harus ada solusi. Makanya saya tidak berani untuk melarang secara langsung,” imbuhnya.

Saat ini desa Narukan, Kecamatan Kragan tengah menyiapkan Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS 3R). Limbah sampah nantinya digunakan budidaya Maggot.

Lainnya digunakan diolah untuk pupuk kompos.

Persoalan masalah sampah di urai bersama mahasiswa Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta yang Kuliah Kerja Nyata (KKN) disana.

Masterplan sudah dibuat.

Pelaksaanya tinggal pemerintah desa Narukan.

Pengolahan sampah tersebut nanti mencakup sampah dari warga dan juga pondok, khususnya pondok Gus Baha.

Karena ketika hanya masyarakat lokal kekurangan bahan.

”Kalau tidak mencakup sama ponpes bahannya kurang,” kata Kepala Desa Narukan, M. Umar Faruq kepada Radarpati.id.

Di dalam masterpland yang dibuat komplit.

Mulai dari proses dan bangunan.

Termasuk maggot dan sebagainya di satu lokasi.

Disamping kompos, dalam pengolahan sampah arahnya pemberdayaan masyarakat.

Karena hasil pengolahan bisa dikomersilkan.

Disamping bisa dimanfaatkan menjadi bank sampah.

”Di Narukan fokusnya untuk bisa di kelola kembali. Bisa digunakan pakan ternak,” terangnya.

Skala besar maggot manfaatnya banyak sekali.

Tidak hanya pakan ternak, termasuk kosmetik dan macam-macam.

Kebetulan disana sudah ada yang siap menampung.

Kini tinggal menyiapkan TPS 3R.

Sesuai perencanaan dan menimbang kemampuan anggaran akan dijalankan mulai tahun 2025.

Kecuali ada yang kerjasama dari perusahaan atau sejenisnya bisa segera terealisasi.

”Pengolahan sampah disini belum maksimal. Sebagian masih ada yang dibakar. Tidak boleh sebenarnya. Komersilkan dijual kalau ada yang bisa dijual. Makanya disiapkan TPS 3R,” imbuhnya.

Baca Juga: Kampanyekan Slow Fashion, Anak Muda asal Salatiga Ini Bertujuan Kurangi Limbah

Tidak hanya dari persoalan mengurai sampah, juga dari sisi sumber daya manusia.

Salah satunya terkait dengan IT.

Manajemen di koperasi supaya bagus.

Kedatangan mahasiswa UGM beberapa waktu lalu disambut antusias anak-anak pondok disana.

Untuk diketahui sebelumnya sebanyak 25 mahasiswa UGM Yogyakarta diterjunkan, salah satunya di Narukan, Kragan.

Selama kurang lebih 50 hari. Terhitung 1 Juli sampai 19 Agustus, menempati lokasi KKN Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (PPM) yang ditentukan.

Membantu masyarakat yang dibagi dalam 4 kluster, meliputi agro, sains dan teknologi, sosial dan humaniora maupun medika. Penarikannya setelah 17 Agustus 2024. (noe)

Editor : Abdul Rochim
#Gus Baha #rembang #budidaya magot #pondok pesantren #pesantren #kragan #maggot