JAKARTA, RADARPATI.ID - PT Indonesia Farma Tbk, yang dikenal juga sebagai Indofarma, telah berkiprah sebagai perusahaan farmasi dan alat kesehatan nasional selama lebih dari satu abad.
Didirikan pada tahun 1918, perusahaan ini memulai sebagai sebuah pabrik kecil di Rumah Sakit Pusat Pemerintah Kolonial Belanda.
Awal mulanya hanya memproduksi salep dan kasa pembalut.
Kini, Indofarma telah berkembang menjadi salah satu Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang mendukung program pemerintah untuk meningkatkan layanan kesehatan di Indonesia.
Pada 11 Juli 1981, Indofarma bertransformasi menjadi badan hukum dengan bentuk Perusahaan Umum (Perum).
Kemudian, pada tahun 1996, statusnya kembali berubah menjadi PT Indofarma (Persero) berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 34 tahun 1995 dan akta pendirian No. 1 yang diubah dengan Akta No. 134 tanggal 26 Januari 1996.
Tonggak Penting Perjalanan PT Indofarma Tbk:
Tahun 1918: Awal berdiri sebagai unit produksi kecil di Rumah Sakit Pusat Hindia Belanda, memproduksi salep dan kasa pembalut.
Tahun 1931: Unit produksi dipindahkan ke Manggarai dan dikenal sebagai "Pabrik Obat Manggarai," dengan produk yang mulai meliputi tablet dan injeksi.
Tahun 1942: Diambil alih oleh Pemerintah Jepang dan dikelola oleh Takeda Pharmaceuticals.
Tahun 1950: Dikelola oleh Pemerintah Indonesia di bawah Departemen Kesehatan.
Tahun 1981: Berubah status menjadi Perum Indofarma.
Tahun 1988: Pabrik baru dibangun di Cibitung, Bekasi, di area seluas 20 hektar.
Tahun 1991: Produksi dipindahkan sepenuhnya ke pabrik di Cibitung.
Tahun 2000: Indofarma mendirikan anak perusahaan, PT Indofarma Global Medika.
Tahun 2001: Pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia.
Tahun 2011: Dilakukan kuasi reorganisasi untuk memacu pertumbuhan perusahaan.
Tahun 2012: Indofarma mulai mengkomersialkan unit usaha engineering farmasi bernama Indomach dan mendirikan laboratorium uji ekivalensi serta klinis, PT Farmalab Indoutama.
Tahun 2015: Mendapatkan resertifikasi ISO 9001:2008 dan sertifikasi CPOB dari BPOM RI untuk beberapa produk farmasi.
Tahun 2016: Mendapatkan sertifikat CPOTB dari BPOM RI untuk produk setengah padat.
Tahun 2017: Indofarma menerima sertifikat CPOTB untuk berbagai bentuk sediaan seperti ekstrak, tablet, kapsul, dan serbuk efervesen.
Selain itu, perusahaan meraih resertifikasi halal dari LPPOM MUI.
Tahun 2018: Indofarma memperbarui visi, misi, nilai-nilai perusahaan, serta identitas korporat, diiringi dengan implementasi ERP melalui sistem SAP yang terintegrasi untuk mendukung visinya menjadi penyedia layanan kesehatan terpercaya.
Perjalanan panjang ini menunjukkan komitmen Indofarma dalam mengembangkan sektor kesehatan di Indonesia dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat melalui berbagai inovasi dan pencapaian penting. (*)
Editor : Abdul Rochim