Sedekah bumi di Desa Jrahi memiliki daya tarik tersendiri. Ratusan orang rela datang ke desa yang berada di lereng Pegunungan Muria ini.
Mereka antusias berburu nasi berkatan yang dibungkus ke dalam wadah bernama tlandik.
OLEH: ACHMAD ULIL ALBAB, Pati, Radar Kudus
SEDEKAH bumi di Desa Jrahi berlangsung meriah. Desa yang berada di lereng timur Pegunungan Muria ini, selalu menyedot daya tarik masyarakat untuk berkunjung.
Tampak lautan manusia memenuhi area Gili Malang, Desa Jrahi, pagi itu. Mereka sedang menanti prosesi sedekah bumi dan berharap mendapat nasi berkat sedekah bumi.
Orang-orang yang datang berasal dari berbagai desa, tidak hanya dari Desa Jrahi.
Nasi berkatan ini, diwadahi dengan anyaman bambu yang disebut sebagai tlandik. Total ada 4.000-an tlandik nasi berkat yang disediakan.
Setiap rumah atau kepala keluarga, secara khusus memang menyediakan dua tlandik berkatan.
Berkatan berisi nasi dan lauk pauk. Nasi berkatan ini dikumpulkan di masing-masing ketua RT untuk kemudian dibawa ke punden.
Selain berkatan, hasil bumi seperti kopi, jambu, buah kakau, terong, dan beberapa hasil bumi lainnya juga disediakan warga.
Hasil bumi dan beberapa berkatan diarak keliling desa sebelum dibawa ke punden untuk didoakan bersama ribuan berkatan tersebut.
Hasil bumi ditumpuk sedemikian rupa hingga membentuk gunungan. Sedangkan berkatan ditempatkan di miniatur rumah. Warga desa sekitar menyebut Pucak.
Kepala Desa Jrahi Miko Adi Setyawan mengungkapkan, rangkaian sedekah bumi tahun ini sudah dimulai sejak Senin (20/5) kemarin.
Sedekah bumi memiliki makna sebagai ungkapan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas hasil bumi yang didapatkan masyarakat desa.
Selain menjadi wujud syukur, sedekah bumi di desa wisata ini juga menjadi wujud persatuan antarumat beragama di Desa Jrahi.
”Sedekah bumi ini, juga menjadi moment untuk menyatukan warga. Meski warga dari berbagai golongan agama, tapi tetap guyub rukun ikut menyukseskan acara ini.
Di sini ada Islam, Protestan, Buddha, dan ada penghayat kepercayaan Sapto Darmo," katanya.
Diketahui, sedekah bumi di Desa Jrahi diperingati setiap bulan ke-11 penanggalan Jawa.
”Hari ini (kemarin, Red) puncak acara. Ini ritual hajatan. Kami berdoa sebagai ungkapan rasa syukur dan berdoa, agar Desa Jrahi aman dan tenteram. Juga hasil buminya melimpah berkah,” jelas Miko.
Usai dipanjatkan doa, ribuan tlandik nasi berkat lalu dibagikan. Bahkan, nasi yang tercecer turut dipungut warga.
”Masyarakat antusias itu pasti. Karena percaya ada berkah besar. Nasi yang berceceran saja diambil,” ujarnya.
Selain arak-arakan dan karnaval, sejumlah pertunjukan juga digelar dalam sedekah bumi kali ini. Seperti pentas tayub, ketoprak, pentas dangdut, dan campur sari.
Dia mengaku, anggaran sedekah bumi di desa mencapai Rp 118 juta. Untuk semua kegiatan.
”Ini belum termasuk yang di RT-RT untuk keperluan karnaval,” imbuhnya.
Salah satu pengunjung dari luar Kecamatan Gunungwungkal, Naila mengungkapkan, acara sedekah bumi di Desa Jrahi sangat meriah.
Ia juga senang mendapat berkatan usai menunggu acara sedari pagi. Nantinya, hasil sedekah bumi yang didapatkan akan dibawa pulang untuk keluarga.
”Kami ke sini (lokasi sedekah bumi, Red) memang untuk sedekah bumi. Mencari berkahan.
Nanti (nasi berkat dan hasil alam) dimakan bareng-bareng (keluarga). Semoga Tuhan memberikan berkah,” harap warga asal Kecamatan Tayu, Pati, itu. (*/him)
Editor : Abdul Rochim