KUDUS, RADARPATI.ID – Meskipun bangunan Masjid Wali Joko Zainal Arifin sudah dua kali mengalami renovasi.
Namun masih banyak pernak-pernik masjid yang hingga kini masih terjaga.
Peninggalan milik sang wali di masjid tersebut antara lain adalah masjid itu sendiri, pohon nagasari, mustaka, makam wali, sumur, saka papat, tongkat bilal, lalu kentongan dan beduk.
Peninggalan kentongan, khususnya beduk konon saat era sang wali tersebut, suara tabuhan beduknya bisa terdengar sampai Kabupaten Demak.
Mengetahui hal itu, Sunan Kalijaga lantas memerintahkan santrinya untuk datang ke Masjid Wali Joko Zainal Arifin untuk menghancurkan beduk, agar suaranya tidak terdengar hingga ke Demak.
Namun setelah dihancurkan, beduk itu langsung ditembel lagi, dan suara tabuhannya sudah tak lagi terdengar sampai Demak.
"Konon ceritanya seperti itu. Saat ini suara beduk sudah normal seperti beduk lainnya. Dipakai untuk kegiatan panggilan salat lima waktu, takbiran, dan lainnya," kata Abdul Wahid, selaku pengurus Masjid Wali Joko Zainal Arifin.
Selain bedug, peninggalan lainnya yakni pohon yang saat ini masih tahan berdiri di area Makam Wali Joko Zainal Arifin. Pohon itu diyakini sudah berumur ribuan tahun.
Dahulu, pohon yang dinamakan pohon nagasari tersebut merupakan ranting yang ditancapkan oleh Wali Joko ke tanah sekitar masjid.
Lalu bertumbuh dan tahan berdiri hingga kini.
"Rantingnya dahulu digunakan Wali Joko Zainal Arifin untuk melawan penjajah, karomah seorang wali," ungkapnya.
Saat di pantau wartawan koran ini, kondisi pohon itu sudah agak lapuk namun pohon itu masih berdaun dan bahkan menghasilkan buah.
Buah yang dihasilkan dari pohon nagasari itu warga biasa menyebut buah gandik. Biasanya dimanfaatkan untuk obat gatal.
Di titik area pohon nagasari terdapat Makam Wali Joko Zainal Arifin, banyak peziarah yang datang ke sana.
Terutama warga Dukuh Buloh. Namun terkadang juga ada yang dari luar kota. Seperti Kendal, Pati, dan Demak.
"Setiap tahunnya kami juga mengadakan haul Wali Joko Zainal Arifin, yakni setiap 10 Muharram. Acara biasanya diawali haul massal dan kirim arwah (doa) selama dua hari dua malam," imbuhnya. (ark/aua)
Editor : Achmad Ulil Albab