Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

Masjid Jami Lasem , Saksi Bisu Seruan Perang Lawan Penjajah

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Kamis, 14 Maret 2024 | 09:55 WIB
BERSEJARAH: Pengendara melewati jalan depan Masjid Jami Lasem kemarin.
BERSEJARAH: Pengendara melewati jalan depan Masjid Jami Lasem kemarin.

RADARPATI.ID - MASJID Jami Lasem telah menjadi saksi sejarah umat Islam di Rembang. Di sini tokoh-tokoh ulama muncul dan mengambil peran dalam perjuangan bangsa.

Nuansa ikonik dan bersejarah sudah terasa ketika memasuki kompleks Masjid Jami Lasem.

Bangunan-bangunan di sini memiliki ciri khas menggambarkan akulturasi Islam dan Jawa.

Masjid Jami Lasem memang memiliki nilai historis bagi perkembangan Islam di Kabupaten Rembang. Di sini terdapat makam para tokoh agama.

Seperti Sayyid Abdurrahman. Tokoh yang juga dikenal sebagai Mbah Sambu itu merupakan ulama di Lasem yang wafat sekitar tahun 1671.

Masjid yang terletak di pinggir Jalan Pantura ini telah menemani masyarakat dari generasi ke generasi.

Abdullah Hamid, salah satu pengurus masjid bercerita, jika mengacu pada babad carita Lasem, diperkirakan masjid ini sudah berdiri sejak tahun 1588.

Meski demikian, ada sejumlah bagian masjid yang dapat menjadi argumentasi bahwa umur Masjid Jami Lasem bisa jadi lebih tua dari itu.

Seperti bagian mustaka masjid yang menggambarkan masa transisi antara majapahit dan mataram.

Mustaka merupakan salah satu bagian yang ditempatkan di paling atas. Saat ini replikamya masih dipasang. Sementara, mustaka yang asli disimpan di Museum Masjid Jami Lasem.

"Mustaka itu masih misteri. Menunjukkan transisi ke Islam terbuat dari gerabah. Menunjukkan toleransi Islam Jawa," jelasnya.

BERTEGUR SAPA: Jamaah Masjid Jami Lasem sedang berbincang di area masjid.
BERTEGUR SAPA: Jamaah Masjid Jami Lasem sedang berbincang di area masjid.

Adipati Tejakusuma I atau Mbah Srimpet dan Mbah Sambu disebut sebagai tokoh-tokoh awal dalam sejarah Masjid Jami Lasem.

Eksistensi masjid berlanjut dari generasi ke generasi, hingga sampailah ke masa KH Ali Badhawi, seorang tokoh Lasem yang menggelorakan perlawanan terhadap penjajah.

Abdullah menjelaskan, kala itu sekitar yahun 1750-an, KH Ali Badhawi menyerukan perang melawan Belanda setelah salat Jumat.

Warga pun menyambut antusias dan ikut melawan beraama para pejuang lainnya. "Generasi itu Kiai Badhawi," katanya.

Pengurus-pengurus Masjid Jami Lasem terus menjadi tokoh dalam memperjuangkan agama dan negara.

Generasi-generasi berikutnyaa, muncullah tokoh-tokoh yang ikut andil dalam mendirikan Nahdhatul Ulama (NU).

Yakni KH Ma'shoem Ahmad, KH Baidlowi Abdul Aziz, dan KH Cholil Masyhuri.

Selain bangunan utama masjid, juga ada museum, makam para ulama, dan kios-kios UMKM.

Di serambi masjid ramai orang-orang beristirahat sembari mendengar pengajian bakda zuhur kemarin.

Dari bagian depan sudah terasa corak akulturasi. Terdapat tiang-tiang kayu, ukiran, dan tiang bercorak tumpukan batu bata.

Pada bagian depan ini, memang terkesan bangunan baru.

Memasuki bagian tengah, mulailah terasa klasik. Di sini terdapat 12 tiang berwarna hijau, pada bagian atasnya terdapat tulisan kaligrafi.

UNIK: Ornamen ukiran jadi unsur seni pada gaya arsitektur masjid.
UNIK: Ornamen ukiran jadi unsur seni pada gaya arsitektur masjid.

Kesan klasik itu dapat dirasakan ketika melihat bagian jendela dan pintu-pintu tinggi di sisi uatara dan selatan.

Selain itu juga terdapat tiga pintu utama menuju bagian paling dalam masjid. Masing-masing pintu dihiasi ukiran dan kaligrafi.

Corak ukiran juga dapat ditemui di bagian paling dalam. Seperti di tempat imam, mimbar khutbah dan pintu-pintu yang berada di sisi selatan dan utara. (vah/war/ade)

 

Jadi Wadah Nguri-Nguri Sejarah

RADARPATI.ID - BANGUNAN Masjid Jami Lasem mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Kehadiran museum yang unik dan ikonik menjadi daya tarik masyarakat.

Selain itu, di sini juga dihidupkan dengan diskusi-diskusi keilmuan.

Abdullah Hamid, salah satu pengurus Masjid Jami Lasem menyampaikan, kehadiran museum menambah antusias warga.

Para peziarah merasa senang karena ada tempat kunjungan baru di Kompleks Masjid Jami Lasem.

"Gruduk-gruduk satu bus dua bus. Kan senang sekali mereka," katanya.

EDUKASI: Masjid Jami Lasem juga dilengkapi dengan museum untuk menambah wawasan pengunjung.
EDUKASI: Masjid Jami Lasem juga dilengkapi dengan museum untuk menambah wawasan pengunjung.

Saat ini di Masjid Jami Lasem juga melibatkan para pemuda untuk menjadi tim pengelola narasi dan koleksi museum masjid.

"Itu yang menyusun anak-anak muda," katanya.

Para pengurus memiliki semangat dalam nguri-nguri sejarah. Abdullah Hamid bercerita, sekitar 2011 lalu di masjid mulai dibentuk perpustakaan.

Baca Juga: Genangan Banjir di Kabupaten Jepara Berangsur Surut

Ia sendiri ditunjuk sebagai pengurus. Seiring waktu berjalan, muncullah wacana pembangunan Lasem Kota Pusaka.

Para pengurus masjid juga ikut andil dalam memunjukkan eksistensi situs Islam dan mengenalkan tokoh-tokoh muslim.

"Tokoh-tokoh Islam harus diperkenalkan. Ternyata ada tokoh santri KH Ali Badhawi. Lasem itu bersatu, semua punya peran," katanya.

Saat momen Ramadan di Masjid Jami Lasem juga melaksanakan berbagai kegiatan. Seperti kajian kitab, tadarusan, hingga ada rencana kunjungan syaikh dari Palestina.

"Pengajian kitab, takjil, tadarus dan kunjungan syaikh Palestina memberikan tausiyah dan penggalangan donasi," katanya. (vah/war/ade)

Editor : Alfian Dani
#perang #Saksi Bisu #Lawan #Masjid Jami Lasem #penjajah #seruan