JEPARA, RADARPATI.ID — Sejak Rabu (6/3) lalu, petugas survey dari Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI dikirim ke Jepara.
Mereka ditugasi mengecek kondisi persebaran kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) di Jepara yang meningkat signifikan tahun ini.
Dari temuan sementara yang disampaikan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) Jepara.
Salah satu faktornya karena angka bebas jentik masih di bawah 50 persen.
Sampel tersebut didapatkan dari beberapa daerah yang memiliki kasus DBD tinggi.
Di antaranya di Kecamatan Pecangaan, Kedung, Jepara, hingga Mlonggo.
Semestinya, angka bebas jentik yang baik berada di atas 95 persen.
”Mereka melakukan survey vektor dan survey jentik. Mereka ingin ngecek lagi, kroscek lagi, berapa angka bebas jentik di masing-masing desa, di mana desa yang dipilih ini yang jumlah kasus DBD-nya banyak. Ternyata, di Jepara di bawah itu. Di bawah 50 persen bahkan,” terang Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan dan Sumber Daya Kesehatan Dinkes Jepara Vita Ratih Nugraheni.
Atas temuan tersebut, membuat petugas kaget.
Dengan jumlah angka bebas jentik yang ada di bawah 50 persen itu, membuat jumlah nyamuk yang berkembang biak masih tinggi.
Itu berbanding lurus dengan peningkatan kasus DBD yang tinggi di awal tahun ini.
Hingga saat ini, petugas survey tersebut masih meneliti lebih dalam terkait peningkatan kasus DBD yang signifikan di Jepara.
Rencananya, para tim survey tersebut akan bertugas hingga hari ini (9/3).
Berdasarkan data dari Dinkes Jepara, sejauh ini sudah ada 20 pasien yang meninggal dunia akibat DBD sejak 1 Januari 2024.
Sementara yang dipastikan terjangkit DBD ada 169 pasien. Lalu ada 954 pasien Demam Dengue (DD).
Terpisah, Kepala Bagian (Kabag) Hukum, Pemasaran dan Pelaporan RSUD RA Kartini Agus Carda menjelaskan di RSUD RA Kartini hingga saat ini terdapat 101 pasien DBD yang dirawat.
Terdiri dari 71 pasien merupakan anak-anak, dan 30 lainnya dewasa.
Mulai kemarin, para petugas kesehatan dengan status Pegawai Perjanjian Kontrak Waktu Tertentu (PKWT) yang baru saja direkrut sudah mulai pemberkasan dan orientasi.
Terdiri dari 6 orang dokter umum, dan 16 orang perawat.
Mereka mulai bisa bekerja sekitar 12 Maret mendatang.
Tambahan petugas kesehatan itu untuk mengoptimalisasi perawatan.
Lantaran, RSUD RA Kartini baru saja menambah bangsal perawatannya untuk melayani para pasien DBD.
”Jumlah peningkatan pasien masih naik,” kata Carda.
Sementara itu, Kepala Desa Troso Abdul Basir menjelaskan kondisi masyarakatnya yang terjangkit DBD berangsur membaik.
Saat ini tersisa 6 orang yang masih dirawat. Desa Troso, Kecamatan Pecangaan sendiri memang salah satu desa dengan jumlah pasien DBD terbanyak.
”Alhamdulillah, ini sudah agak berkurang,” tandas Basir kemarin.
Di antara pasien asal Desa Troso tersebut adalah keponakan Rahayu, seorang warga asal Kecamatan Batealit.
Keponakannya yang masih berusia 5 tahun sempat dirawat di RSUD RA Kartini lantaran DBD.
”Awalnya panas. Sampai tiga hari tidak turun-turun. Diperiksakan tapi tidak turun. Terus dibawa ke klinik untuk cek laboratorium, ternyata terindikasi DBD. Akhirnya langsung dirawat,” katanya.
Selain keponakannya yang berusia lima tahun itu, ada tiga keponakannya yang lain terjangkit DBD.
Semuanya berasal dari Kecamatan Pecangaan. Bahkan salah satunya meninggal dunia. (rom/aua)
Editor : Achmad Ulil Albab