Sambut Muktamar NU ke-35, GP Ansor Colo Gelar “Maulid Alam Bebas” di Hutan Muria

Admin • Dipublikasikan Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:32 WIB
GP Ansor Colo Kudus menggelar acara maulid di tengah hutan dengan pesan khusus masalah lingkungan.
GP Ansor Colo Kudus menggelar acara maulid di tengah hutan dengan pesan khusus masalah lingkungan.

 

KUDUS – Semangat menyambut Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya terasa di lokasi utama kegiatan di Jombang. Sejumlah kader dan warga Nahdliyin di berbagai daerah turut menyemarakkan momentum lima tahunan tersebut dengan kegiatan yang sesuai dengan karakter dan kepedulian masing-masing.

Pimpinan Ranting (PR) GP Ansor Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, memilih kawasan hutan Muria sebagai tempat untuk menggelar kegiatan bertajuk “Maulid Alam Bebas”. Kegiatan berlangsung di Bukit Becici, Kawasan Hutan Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe, Selasa (25/8/2026) malam.

Baca Juga: Muktamar ke-35 NU di Jombang, Kapolri Sigit Siapkan Pengamanan dan Personel

Kegiatan tersebut memadukan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW dengan refleksi keagamaan dan kepedulian terhadap lingkungan.

 Acara diawali dengan pembacaan tahlil, Maulid Al-Barzanji, dan Manaqib Syekh Abdul Qodir Jailani.

Ketua PR GP Ansor Colo, M. Zainal Arifin atau Gus Za'i, mengatakan kegiatan tersebut sekaligus menjadi doa dan pesan moral menjelang pelaksanaan Muktamar NU ke-35.

Menurutnya, momentum Muktamar NU diharapkan tidak hanya menghasilkan keputusan terkait organisasi, tetapi juga memperkuat perhatian terhadap persoalan lingkungan, terutama kelestarian hutan.

Baca Juga: BRI Pati Gelar Jumat Berkah Peduli Santri Sekaligus Peringatan Maulid Nabi Muhammad

“Selain menepati momentum Maulid Nabi, kami berharap Muktamar nanti juga bisa berdampak pada pelestarian lingkungan dan hutan,” ujar Gus Za'i.

Ia mengatakan kawasan Muria memiliki keterkaitan erat dengan sejarah dakwah Sunan Muria. Menurutnya, nilai-nilai dakwah yang diwariskan Sunan Muria juga mengajarkan pentingnya hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Gus Za'i menyebut konsep tersebut sebagai dakwah ekoreligi, yakni memandang alam sebagai bagian dari amanah yang harus dijaga oleh manusia.

“Kami meyakini ajaran-ajaran ekoreligi Sunan Muria dan para penerusnya bahwa alam adalah amanah, maka menjaganya adalah ibadah,” katanya.

Ia menambahkan, upaya menjaga keberlanjutan lingkungan membutuhkan kerja bersama. Hubungan yang baik antarkader dinilai penting agar mereka dapat saling mengingatkan sekaligus membangun kolaborasi dalam menjaga kelestarian alam.

“Melalui kegiatan ini, kita tidak hanya berkumpul untuk menjalankan rutinitas organisasi, tetapi juga belajar melihat alam sebagai bagian dari kebesaran Allah. Suasana alam bebas ini kita manfaatkan untuk mempererat kekompakan, memperkuat rasa persaudaraan, sekaligus merefleksikan perjuangan para pendahulu,” ujarnya.

Baca Juga: Festival To`dok Telok Ramaikan Peringatan Maulid Nabi di Karimunjawa Begini Sejarahnya

Setelah rangkaian Maulid, kegiatan dilanjutkan dengan pengajian tematik yang disampaikan Sahabat Aufal Minan atau Gus Ava. Dalam kajian tersebut, peserta diajak mendalami Kitab Al-Hikam Al-Haddadiyah karya Al-Imam Abdullah bin Alawi bin Muhammad al-Haddad.

Kajian tersebut menjadi ruang refleksi spiritual bagi para peserta untuk memperdalam nilai-nilai keislaman dan menghubungkannya dengan kehidupan sosial serta pengabdian kepada masyarakat.

Kegiatan kemudian ditutup dengan suasana kebersamaan. Para peserta menyanyikan sejumlah lagu secara bersama-sama, di antaranya “17 Agustus”, “Bagimu Negeri”, dan “Ya Lal Wathon”.

Melalui “Maulid Alam Bebas”, GP Ansor Colo ingin menjadikan momentum keagamaan dan Muktamar NU bukan sekadar agenda organisasi, tetapi juga sebagai pengingat pentingnya menjaga persaudaraan sekaligus merawat lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan. (aua)

Editor : Admin
gp ansor colo hutan muria pesan ekoreligi muktamar ke 35 NU maulid nabi