Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

KISAH SYEKH JANGKUNG PATI : Saridin Pamit dari Pesantren Kudus (8-bersambung)

Abdul Rochim • Selasa, 21 April 2026 | 16:02 WIB

Saridin menangkap ikan di kubangan. (GEMINI AI/ABDUL ROCHIM/RADAR PATI)

Saridin menangkap ikan di kubangan. (GEMINI AI/ABDUL ROCHIM/RADAR PATI)

PAGI itu, suasana pesantren di Kudus terasa berbeda.

Bukan karena angin.

Bukan karena cuaca.

Tapi karena kegelisahan yang mulai berbisik di antara para santri.

Beberapa hari sebelumnya, Saridin telah membuat kehebohan.

Ia pernah mengambil air dengan keranjang—sesuatu yang mustahil bagi orang biasa.

Dan hari itu… ia kembali membuat keheranan.

Di hadapannya, hanya kubangan kecil.

Air yang biasa.

Namun entah bagaimana, di dalamnya tiba-tiba penuh ikan.

Bergerak, berkilau, seolah muncul dari ketiadaan.

Para santri tertegun.

Sebagian kagum.

Sebagian gelisah.

Sebagian lagi… takut.

“Ini bukan hal biasa,” bisik mereka.

Akhirnya, mereka mengadu kepada Sunan Kudus.

Sunan Kudus mendengar dengan tenang.

Tanpa terkejut.

Tanpa marah.

Seolah semua itu sudah ia ketahui.

Saridin pun dipanggil.

Ia datang seperti biasa.

Tenang.

Sederhana.

Tidak merasa melakukan sesuatu yang luar biasa.

Sunan Kudus menatapnya lama.

Dalam.

Seperti membaca sesuatu yang tidak terlihat.

“Saridin,” ujar beliau pelan.

“Di sini tempat orang belajar.”

“Tempat ngaji.”

Saridin menunduk.

“Bukan tempat untuk ‘jualan’,” lanjutnya.

Kalimat itu sederhana.

Namun dalam maknanya.

Saridin terdiam.

Ia mulai mengerti.

Apa yang ia lakukan… telah melampaui batas tempatnya.

Sunan Kudus melanjutkan,

“Ilmu itu bukan untuk dipamerkan.”

“Apalagi di tempat orang mencari ilmu.”

Suasana menjadi hening.

Para santri yang mendengar hanya bisa diam.

Tidak ada yang berani bersuara.

Sunan Kudus kemudian berkata dengan lembut,

“Kau sudah cukup belajar di sini.”

Saridin terkejut.

Dadanya bergetar.

“Apakah aku salah, Guru?” tanyanya lirih.

Sunan Kudus menggeleng.

“Tidak.”

“Justru karena kau sudah mampu.”

Saridin menunduk semakin dalam.

“Tapi tempatmu bukan lagi di sini,” lanjut beliau.

“Kudus ini tempat ‘jualan ilmu’… tapi bukan untuk pamer kesaktian.”

Saridin merasakan sesuatu runtuh dalam dirinya.

Bukan karena dimarahi.

Tapi karena harus berpisah.

“Pergilah,” kata Sunan Kudus.

“Carilah jalanmu sendiri.”

Sunyi.

Angin berhembus pelan.

Saridin berdiri.

Langkahnya berat.

Ia menatap pesantren untuk terakhir kali.

Tempat ia belajar.

Tempat ia ditempa.

Tempat ia… menjadi dirinya yang sekarang.

Para santri hanya melihat.

Kini mereka paham, Saridin bukan seperti mereka.

Ia telah melampaui batas yang bisa mereka pahami.

Saridin menunduk dalam.

“Terima kasih, Guru…”

Sunan Kudus hanya mengangguk.

Tanpa menahan.

Tanpa melepas dengan kata panjang.

Karena beliau tahu

perjalanan Saridin baru saja dimulai.

Saridin pun melangkah keluar dari Kudus.

Dengan hati yang berat.

Namun juga kosong.

Seperti seseorang yang kehilangan… sekaligus menemukan sesuatu.

Di belakangnya,

pesantren kembali sunyi.

Namun kisahnya baru saja dimulai. ((8-bersambung)

Editor : Abdul Rochim
#saridin #Syekh Jangkung #pati #sunan kudus