SEJAK itu ujian kendi di pesantren Kudus, nama Saridin mulai berubah di mata sebagian santri.
Tidak lagi hanya dianggap orang desa yang kebetulan diterima Sunan Kudus.
Tapi juga…
sosok yang sulit dijelaskan dengan akal.
Namun Ki Jaka Pringgo tidak pernah bisa menerima itu.
Dalam hatinya, Saridin tetap harus dibuktikan sebagai manusia biasa.
“Kalau dia benar sakti,” gumam Pringgo,
“aku akan cari cara yang lebih nyata.”
Dan kesempatan itu datang pada suatu siang.
Sunan Kudus kembali memberi ujian.
Kali ini sederhana.
“Ambil air dari sumur,” kata beliau,
“dan bawa ke dapur tanpa boleh tumpah.”
Para santri tersenyum kecil.
Mereka merasa ini sudah pernah dilakukan Saridin.
Namun Pringgo kali ini punya rencana.
Ia mengganti wadah Saridin tanpa sepengetahuan siapa pun.
Bukan ember.
Bukan kendi.
Tapi…
keranjang bambu yang penuh lubang.
Beberapa santri melihatnya dan tertawa kecil.
“Itu mustahil…” bisik mereka.
Pringgo menyeringai.
“Kita lihat sekarang.”
Saridin tidak protes.
Ia hanya menerima keranjang itu.
Lalu berjalan ke sumur.
Di sumur, air diambil seperti biasa.
Santri lain menunggu dari kejauhan.
“Pasti tumpah sebelum sampai,” kata salah satu.
Saridin mengangkat keranjang.
Air masuk.
Dan tidak langsung jatuh.
Ia berjalan pelan. Sangat pelan.
Namun air di dalam keranjang itu, tidak berkurang.
Pringgo menyipitkan mata. “Ini tidak mungkin…”
Ia mulai mengikuti dari belakang.
Setiap langkah Saridin, air tetap utuh.
Tidak ada yang jatuh.
Sesampainya di dapur, keranjang itu penuh air.
Semua terdiam.
“Bagaimana bisa keranjang bolong tidak bocor?” bisik seorang santri.
Sunan Kudus hanya tersenyum.
“Kalian melihat lubang,” kata beliau,
“tapi Saridin tidak melihat kebocoran.”
Namun Pringgo belum menyerah.
Keesokan harinya ia kembali menguji.
Kali ini lebih ekstrem.
Saridin diminta mengambil air lagi.
Namun wadahnya diganti lebih aneh:
tempurung kelapa yang sudah retak.
Santri lain mulai gelisah.
“Itu pasti akan tumpah…” kata mereka.
Namun Saridin tetap tenang.
Ia mengambil air. Dan berjalan.
Aneh. Air tidak tumpah.
Bahkan saat angin kencang menerpa.
Di tengah jalan Pringgo sengaja mendorongnya.
Air bergoyang. Namun tidak jatuh.
Pringgo mulai frustrasi.
“Dia pasti memakai cara tertentu!” katanya keras.
Namun tidak ada yang bisa membuktikan.
Ujian berikutnya lebih aneh lagi.
Sunan Kudus meletakkan sebuah kelapa tua.
“Buka kelapa ini,” perintah beliau.
Saridin membelahnya.
Dan semua terdiam.
Di dalam kelapa itu—
bukan air.
Tapi…
ikan hidup.
Beberapa santri terkejut.
“Itu tidak mungkin ada ikan di kelapa!” seru mereka.
Pringgo mendekat.
Mengambil kelapa itu.
“Ikan ini pasti dimasukkan sebelumnya!” katanya.
Namun saat kelapa dibuka lagi—
ikan itu masih hidup.
Bahkan bergerak di dalam ruang sempit.
Sunan Kudus menatap semua santri.
“Kalian mencari logika,” katanya pelan,
“padahal yang bekerja di sini bukan logika.”
Saridin hanya diam.
Ia sendiri tidak pernah menganggap dirinya istimewa.
“Aku hanya menjalani,” katanya suatu malam pada dirinya sendiri.
“bukan melakukan keajaiban.”
Namun semakin ia hidup di pesantren itu—
semakin banyak hal aneh terjadi di sekitarnya.
Air tidak tumpah.
Tanah tidak membasahi pakaiannya.
Hewan-hewan tidak takut padanya.
Bahkan Pringgo mulai ragu—
bukan pada Saridin…
tapi pada dirinya sendiri.
Namun rasa iri itu tidak hilang.
Justru semakin dalam.
Dan suatu malam—
Pringgo mulai merencanakan sesuatu yang lebih berbahaya.
Sesuatu yang tidak lagi sekadar ujian.
Tapi…
percobaan untuk menjatuhkan Saridin.
Saridin sendiri hanya menatap langit Kudus yang sunyi.
Ia tahu—
ujian ini belum selesai.
Dan jalan hidupnya…
masih jauh.
Editor : Abdul Rochim