Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

SYEKH JANGKUNG PATI : Saridin Berguru dengan Sunan Kudus (6-bersambung)

Abdul Rochim • Sabtu, 18 April 2026 | 13:17 WIB
Saridin berguru dengan Sunan Kudus. (AI/ABDUL ROCHIM/RADAR PATI)
Saridin berguru dengan Sunan Kudus. (AI/ABDUL ROCHIM/RADAR PATI)

DEBUR ombak Parangtritis masih terdengar ketika Saridin melangkah meninggalkan pantai.

Ia tidak menoleh ke belakang.

Tidak lagi.

Ujian tentang rindu telah ia lewati.

Kini hatinya lebih tenang. Namun justru karena itu, ia siap diisi.

Arah yang ia tuju kini jelas. Kudus.

Perjalanan dari pesisir selatan menuju tanah Kudus bukan perjalanan singkat.

Saridin berjalan berhari-hari.

Melewati hutan, desa, dan ladang. Tidur di bawah langit.

Makan seadanya. Namun anehnya, ia tidak pernah merasa kekurangan.

Setiap kali lapar, selalu ada yang memberinya makan.

Setiap kali lelah, selalu ada tempat untuk beristirahat.

Seolah ada yang menjaga langkahnya.

Hingga suatu sore, ia melihat menara masjid menjulang tinggi.

Orang-orang menyebutnya, Menara Kudus.

Saridin berhenti. Menatap tempat itu lama.

“Inikah tempatku belajar…?” bisiknya.

Ia melangkah masuk ke kota. Suasana ramai.

Banyak santri. Banyak pedagang.

Namun Saridin tidak tahu harus ke mana.

Ia hanya berjalan, mengikuti kata hatinya.

Hingga akhirnya, ia tiba di sebuah pesantren.

Di sana, seorang lelaki tua duduk tenang. Dikelilingi para santri.

Wajahnya teduh. Tatapannya dalam.

Dialah Sunan Kudus. Saridin berdiri di kejauhan.

Tidak berani mendekat. Namun tiba-tiba, Sunan Kudus menoleh.

Langsung ke arahnya. “Masuklah,” katanya.

Saridin terkejut. Ia mendekat perlahan.

Lalu mencium tangan. membungkuk hormat. “Guru… aku ingin belajar…”

Sunan Kudus menatapnya. “Belajar apa?”

Saridin terdiam. Ia tidak tahu.

“Aku… ingin mengenal Gusti,” jawabnya akhirnya.

Sunan Kudus tersenyum tipis. “Banyak yang ingin itu,” katanya.

“Tapi sedikit yang tahan ujian.” Saridin mengangguk.

“Saya siap.” Sunan Kudus menatapnya dalam.

Seolah membaca isi hatinya.

“Baik,” katanya. “Tinggallah di sini.”

Namun para santri lain mulai berbisik.

“Siapa dia?”
“Pakaiannya seperti orang desa…”
“Apa dia layak belajar di sini?”

Salah satu santri senior, Ki Jaka Pringgo, menatap sinis.

“Guru… apakah orang seperti ini boleh belajar di sini?” tanyanya.

Sunan Kudus tidak langsung menjawab.

Ia justru menatap Saridin.

---

Setelah diterima menjadi murid Sunan Kudus, Saridin diminta untuk istirahat.

Santri-santri senior yang mulai usil. Mereka ingin menggarap atau memelonco Saridin.

“Ambil air, isi bak kamar mandi,” Ki Jaka Pringgo.

Saridin mengangguk. Ia berjalan ke sumur.

Mengambil timba. Menarik air.

Sejak hari itu Saridin tinggal di pesantren.

Namun hidupnya tidak mudah.

Ia sering diuji. Diperintah melakukan hal-hal aneh.

Dihina oleh sesama santri. Namun Saridin tidak marah.

Tidak membalas. Ia hanya menjalani.

Karena ia tahu, ini bukan sekadar belajar.

Ini adalah perjalanan. Perjalanan untuk mengenal dirinya.

Dan mengenal Tuhannya.

Di balik semua itu, Sunan Kudus hanya memperhatikan.

Karena ia tahu, murid yang satu ini… bukan murid biasa. (6-bersambung)

 

Editor : Abdul Rochim
#saridin #Syekh Jangkung Pati #Saridin berguru dengan Sunan Kudus #sunan kudus #menara kudus