RADAR PATI - KABAR tentang keanehan Saridin menyebar semakin luas.
Dari penjara yang tak mampu menahannya, hingga kemunculannya di rumah pada malam hari semua menjadi bahan pembicaraan warga Desa Landoh dan desa-desa sekitarnya.
Sebagian kagum. Sebagian takut.
Sebagian lagi… mulai curiga.
Di pendapa kadipaten, Adipati Jayakusuma duduk bersama para pengawalnya.
Ki Lurah Wiratma tampak gelisah.
“Kanjeng, orang itu berbahaya,” katanya.
“Dia bisa keluar masuk penjara seenaknya. Ini bukan hal biasa.”
Adipati tidak langsung menjawab.
Ia hanya menatap ke arah luar.
“Justru karena itu… dia bukan orang biasa,” katanya pelan.
“Apakah akan dihukum lebih berat?” tanya Wiratma.
Adipati menggeleng.
“Orang seperti dia tidak bisa dihukum dengan cara biasa.”
Keputusan pun diambil. Adipati Jayakusuma menghukumnya dengan mengubur dalam peti.
Demi mendengar hukuman itu Saridin sama sekali tidak takut.
Dia malah bertanya, "Jika petinya kurang rapat apakah saya boleh membantu?"
"Boleh jika kamu mampu," balas Adipati.
Hukuman dilaksanakan. Saridin dimasukkan dalam peti.
Para prajurit mulai memaku papan peti agar Saridin tidak bisa keluar.
Alangkah anehnya.
Saridin sudah berada di tengah-tengah prajurit ikut membantu memaku papan peti yang kurang rapat.
Prajurit terperangah.
Adipati Jayakusuma juga terheran-heran.
Adipati berputar otak
"Saridin harus dihukum gantung!". Perintah Adipati.
Saridin bertanya, "caranya mengantung itu bagaimana Adpati?"
"Salah satu anggota tubuhmu dimasukkan tali. Lalu tali dirangkai ke pohon. Kemudian prajurit akan menarik tubuhmu yang sudah terlilit tali," jelas Adipati.
"Bila talinya kurang kuat apa boleh saya ikut membantu mengikatnya gusti?" kata Saridin kembali melemparkan pertanyaan aneh.
"Boleh bila mampu," timpal Adipati kesal.
Waktunya hukuman tiba.
Saridin sudah dalam kondisi terikat.
Anehnya saat Saridin mau ditarik ke atas, tiba-tiba ia sudah berada di barisan prajurit. Ia membantu prajurit menarik tali.
Prajurit kembali kaget.
Mereka merasa dipermainkan Saridin.
Prajurit bermaksud kembali menangkap Saridin.
Namun Saridin langsung beregas lari meninggalkan istana sang Adipati.
Prajurit segitu banyaknya tak ada satupun yang berhasil menangkap.
Perjalanan itu membawanya keluar dari desa.
Menyusuri jalan setapak. Melewati hutan kecil. Menyeberangi sungai.
Langit mulai terang. Namun Saridin tidak berhenti.
Ia berjalan tanpa arah pasti. Namun hatinya yakin ia sedang menuju sesuatu.
Di tengah perjalanan, ia melewati sebuah tempat sunyi.
Pohon-pohon tinggi menjulang. Udara terasa berbeda. Saridin berhenti.
Tiba-tiba..
suara lembut terdengar. “Kau akhirnya sampai juga…”
Saridin menoleh. Seorang lelaki tua berdiri di bawah pohon.
Berpakaian sederhana. Namun auranya menenangkan.
Dialah Sunan Kalijaga. Saridin langsung menunduk.
Seolah hatinya mengenali sosok itu.
“Siapa panjenengan?” tanya Saridin pelan.
Sunan Kalijaga tersenyum.
“Aku hanya orang yang menunggumu.”
Saridin terdiam.
Daun-daun berguguran di sekitar mereka.
“Perjalananmu belum dimulai, Saridin,” lanjut Sunan Kalijaga.
“Lalu aku harus ke mana?”
Sunan Kalijaga menunjuk ke arah selatan.
"Pantai Parangtritis," tutur Sang Wali.
Saridin mengernyit.
“Apa yang harus aku lakukan di sana?”
“Menemukan dirimu.” Jawaban itu membuat Saridin terdiam.
“Apakah aku akan bertemu seseorang di sana?”
Sunan Kalijaga menatapnya dalam.
“Kau akan bertemu… apa yang paling kau rindukan.”
Saridin tidak mengerti.
Namun ia mengangguk.
Saat Saridin mengangkat kepala.
Sunan Kalijaga sudah tidak ada.
Hutan kembali sunyi. Saridin punya arah.
Ia menuju Parangtritis.
Setelah menempuh jarak berpuluh-puluh kilo, ia sampai di pesisir selatan.
Ombak Parangtritis menggelegar.
Angin laut berhembus keras.
Langit tampak luas dan sunyi.
Saridin berdiri menghadap laut.
“Apa yang harus aku lakukan di sini…?” gumamnya.
Tiba-tiba angin berhenti.
Suasana berubah hening.
Dari kejauhan muncul sosok perempuan.
Berjalan perlahan di atas pasir.
Saridin menyipitkan mata.
“Mbok…?” suaranya lirih.
Sosok itu semakin dekat.
"Sampeyan siapa," tanya Saridin.
Aku ibumu. Dewi Samaran.
“Ibu…” ia melangkah mendekat.
Perempuan itu tersenyum lembut.
“Saridin… anakku…” suaranya penuh kasih.
Hati Saridin bergetar.
Semua rasa rindu yang selama ini terpendam… tiba-tiba muncul.
Ia hampir berlari memeluknya. Namun langkahnya berhenti.
Menujulah ke sebuah tempat yang bernama Kudus. (*/5-bersambung)
Editor : Abdul Rochim