Blora Entertainment Feature Grobogan Jateng Jepara Khazanah Kudus Kuliner Life Style Muria Raya Nasional Olahraga Pati Pendidikan Rembang Sepakbola Wisata

KISAH SYEKH JAGKUNG PATI: Dipenjara, Saridin Bisa Keluar Masuk secara Misterius (4-bersambung)

Abdul Rochim • Kamis, 16 April 2026 | 07:37 WIB
Saridin menerima hukuman penjara dari Adipati Pati Jayakusuma. (AI/ABDUL ROCHIM/RADAR PATI)
Saridin menerima hukuman penjara dari Adipati Pati Jayakusuma. (AI/ABDUL ROCHIM/RADAR PATI)

MALAM turun perlahan di Kadipaten Pati.

Langit gelap tanpa bintang. Angin berhembus dingin, menyusup hingga ke celah-celah bangunan penjara yang kokoh dengan jeruji besi tebal.

Di dalam salah satu sel, Saridin duduk bersila.

Tenang.

Seolah tidak ada yang perlu ia cemaskan.

Para penjaga penjara, Wiryo dan Karto, memperhatikan dari luar.

“Orang ini aneh,” bisik Karto.
“Dimasukkan ke penjara malah seperti orang bertapa.”

Wiryo mengangguk pelan.

“Dari tadi tidak bergerak. Tidak bicara. Tidak juga mengeluh.”

Di dalam sel, Saridin memejamkan mata.

Napasnya teratur.

Bibirnya bergerak pelan, melantunkan doa.

“Gusti… aku tidak mengerti jalan ini. Tapi aku percaya… Engkau yang menuntunku.”

Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang.

Lampu obor di lorong penjara bergoyang.

Bayangan di dinding bergerak seperti hidup.

Tiba-tiba—

Krek…

Suara halus terdengar.

Pintu sel yang terkunci rapat itu… perlahan terbuka sendiri.

Wiryo dan Karto yang berjaga terkejut.

“Eh! Kau dengar itu?” bisik Wiryo.

Namun saat mereka mendekat, pintu itu kembali tertutup.

Seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam, Saridin membuka mata.

Ia berdiri perlahan.

Menatap pintu.

Tanpa ragu…

ia melangkah keluar. 

Tidak ada yang menghalangi.

Tidak ada yang melihat.

Ia berjalan melewati lorong penjara.

Tenang.

Seperti orang yang sedang pulang ke rumah.

Beberapa saat kemudian…

Saridin sudah berada di luar.

Menghirup udara malam.

Langkahnya mengarah ke satu tempat—

rumahnya.

Di Desa Landoh, Sumirah belum tidur.

Ia duduk di dalam rumah, memeluk Momok yang sudah terlelap.

Wajahnya cemas.

Sejak kabar penangkapan Saridin tersebar, hatinya tidak tenang.

“Tolong jaga suamiku, Gusti…” bisiknya.

Tiba-tiba—

pintu rumah berderit.

Sumirah menoleh.

Dan membeku.

Saridin berdiri di sana.

“Kang…?” suaranya bergetar.

Saridin tersenyum tipis.

“Aku pulang.”

Sarini langsung berdiri.

Air matanya jatuh.

“Tapi… panjenengan kan di penjara…”

Saridin tidak menjawab.

Ia hanya duduk.

Namun sebelum suasana menjadi tenang—

tiba-tiba terdengar suara dari luar.

“Sumirah… buka pintunya…”

Suara itu dikenal.

Ki Lurah Wiratma.

Sarini gemetar.

Ia tahu maksud kedatangan lurah itu tidak baik.

Saridin menatap pintu.

Wajahnya tetap tenang.

Pintu diketuk lagi.

Lebih keras.

“Cepat buka! Aku tahu kau di dalam!”

Sarini tidak bergerak.

Saridin berdiri.

Melangkah ke arah pintu.

Pelan…

ia membukanya.

Ki Lurah Wiratma yang berdiri di luar langsung terkejut.

Matanya membelalak.

“Saridin…?!” suaranya tercekat.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya mundur satu langkah.

“Ka-kau… bukannya di penjara…?”

Saridin menatapnya dalam.

“Kenapa kau di sini, Pak Lurah?” tanyanya tenang.

Lurah tidak bisa menjawab.

Tatapan Saridin membuatnya gemetar.

Tanpa berkata apa-apa lagi—

ia mundur.

Lalu berbalik dan pergi dengan langkah terburu-buru.

Sarini masih terdiam.

“Apa yang terjadi, Kang…?” tanyanya pelan.

Saridin duduk kembali.

Menatap anaknya.

“Aku tidak lari,” katanya.

“Aku hanya pulang sebentar.”

Sarini tidak mengerti.

Namun ia tidak bertanya lagi.

Beberapa saat kemudian, Saridin berdiri.

“Aku harus kembali.”

Sarini terkejut.

“Kembali… ke penjara?”

Saridin mengangguk.

“Itu bukan tempatku… tapi itu jalanku.”

Ia melangkah keluar.

Dan kembali ke penjara…

Saat fajar menyingsing, Wiryo membuka pintu sel.

Ia membeku.

Saridin ada di dalam.

Duduk seperti semalam.

“Tidak mungkin…” gumamnya.

Ia memanggil Karto.

“Kita jaga semalaman… tidak ada yang keluar…!”

Keduanya saling pandang.

Keringat dingin mulai mengalir.

Kabar itu cepat menyebar.

Sampai ke telinga Adipati Jayakusuma.

Adipati  itu hanya tersenyum.

“Orang itu…” katanya pelan,
“bukan untuk dikurung.”

Dan sejak hari itu…

nama Saridin mulai dibicarakan.

Bukan sebagai tahanan.

Tapi sebagai seseorang…

yang memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.

Sesuatu yang tidak bisa dikunci oleh besi.

Sesuatu yang…

datang dari dalam. (*/4-bersambung)

Editor : Abdul Rochim
#saridin #Syekh Jangkung #kisah karomah #penjara Pati #legenda Jawa