Di desa itulah hidup seorang lelaki sederhana bernama Saridin, bersama istrinya Sarini dan anak mereka yang masih bayi, Momok.
Rumah mereka kecil, berdinding anyaman bambu dengan atap jerami yang mulai rapuh.
Saat hujan turun, air sering merembes masuk. Namun bagi Saridin, rumah itu tetaplah tempat paling menenangkan.
Saridin dikenal warga sebagai sosok yang aneh sekaligus menenangkan.
Ia jarang berbicara, tetapi setiap kata yang keluar dari mulutnya selalu terasa dalam. Ia tidak pernah terlihat marah, bahkan ketika diperlakukan tidak adil.
Suatu sore, setelah pulang dari membantu tetangga menebang bambu tanpa bayaran, Saridin duduk di depan rumahnya.
Pandangannya jauh, seolah memikirkan sesuatu yang lama tertahan.
Sarini keluar sambil menggendong Momok.
“Kang, panjenengan terlihat murung. Ada yang dipikirkan?” tanyanya lembut.
Saridin menarik napas panjang.
“Aku ingin menemui Mbakyu Nyi Branjung,” ucapnya pelan.
Sarini terdiam sejenak. Ia tahu arah pembicaraan itu.
“Kebun durian peninggalan orang tuaku…” lanjut Saridin, “aku belum pernah meminta bagianku.”
Sarini menatap suaminya dengan penuh pengertian.
“Pergilah, Kang. Itu memang hak panjenengan. Tapi jangan berharap lebih… agar tidak kecewa.”
Saridin tersenyum tipis.
“Aku tidak mencari banyak. Cukup apa yang menjadi hakku.”
Keesokan paginya, Saridin berjalan kaki menuju rumah kakaknya, Nyai Branjung, yang tinggal di desa sebelah. Perjalanan itu memakan waktu cukup lama, melewati sawah dan jalan setapak.
Sesampainya di sana, Nyai Branjung langsung menyambutnya dengan penuh haru.
“Saridin! Sudah lama sekali kau tidak datang!” katanya sambil memeluk adiknya.
Saridin hanya tersenyum.
Nyai Branjung segera menyiapkan hidangan. Ia tahu adiknya jarang makan enak. Ia mengambil roti dan menyeduh teh hangat.
Namun suasana berubah ketika suaminya, Branjung, datang.
Tatapannya dingin.
Tanpa banyak bicara, Ki Branjung mengambil roti dan teh itu, lalu menggantinya dengan singkong rebus dan air putih.
Sarini menatap suaminya dengan kesal.
“Kenapa harus diganti? Dia tamu kita!”
Ki Branjung menjawab dengan nada rendah, tapi tajam.
“Orang miskin tidak perlu dibiasakan makan enak. Nanti jadi ingin terus.”
Sarini terdiam, menahan amarah. Ia memilih masuk ke dapur.
Saridin tetap duduk tenang. Tidak ada raut tersinggung di wajahnya.
Ki Branjung duduk di hadapannya.
“Kau datang mau apa?” tanyanya langsung.
Saridin menatapnya tanpa emosi.
“Aku ingin meminta bagian kebun durian milik orang tua kami.”
Ki Branjung mengangkat alis. Ia tidak menyangka permintaan itu.
Namun kemudian ia tersenyum-senyum yang penuh perhitungan.
“Baik,” katanya. “Tapi dengan satu syarat.”
Saridin diam, mendengarkan.
“Durian yang jatuh siang hari milikku. Yang jatuh malam hari milikmu.”
Saridin mengangguk.
“Tapi kau harus bersumpah,” katanya pelan.
Ki Branjung tertawa kecil.
“Aku bersumpah. Kalau aku curang… aku mati.”
Saridin menatapnya dalam-dalam.
“Baik. Aku percaya.”
Namun saat Saridin berpamitan, Branjung hanya berdiri diam.
Di dalam hatinya, ia sudah menyusun rencana.
Ia tidak pernah benar-benar berniat berbagi.
Sore itu, Saridin pulang dengan langkah ringan.
Ia tidak tahu bahwa apa yang tampak sederhana…
akan menjadi awal dari peristiwa besar yang mengubah hidupnya.
Di kejauhan, angin berhembus lebih kencang.
Daun-daun berguguran.
Seolah alam telah mengetahui
bahwa malam pertama di kebun durian…
tidak akan berjalan seperti yang dibayangkan. (*/1-bersambung)
Editor : Abdul Rochim